
Raisa pagi ini pergi ke kantor sendirian karena Papanya izin cuti. Keluarganya hendak ke luar negeri mengantar Darren melanjutkan pendidikannya.
Ia memasuki lift tanpa diketahui Eza yang berada dibelakangnya kini ada satu lift dengannya.
"Kamu terlambat!" ujar Raisa tanpa menatap
"Tidak, tadi balik lagi ke mobil karena ada yang ketinggalan," jelasnya.
"Oh!"
"Nona sendirian, biasanya dengan Presdir."
"Papa sedang cuti."
"Oh."
Tiba-tiba lift yang mereka naiki berhenti. Eza menekan tombol berkali-kali.
"Bagaimana?" Raisa mulai khawatir.
"Sepertinya lift mengalami kerusakan," jawab Eza menekan kembali tombol.
Raisa mengambil ponselnya, "Tak ada sinyal lagi!" menggoyangkan benda pipih itu.
Eza melakukan hal yang sama.
"Tolong!" teriak Raisa menggedor pintu lift.
"Mereka tidak akan dengar, Nona!"
"Sampai kapan kita di sini?" tanya Raisa panik.
Eza menaikkan kedua bahunya.
Lima menit...
Sepuluh menit belum terbuka juga.
Raisa terduduk di lantai dengan kaki di tekuk dan di peluk, keringatnya mulai bercucuran. Eza yang berada di depannya hanya menatap gadis itu sambil menunggu lift terbuka.
Wajah Raisa mulai pucat dan lemas, Eza yang melihatnya mulai panik. "Nona, anda baik-baik saja?"
Raisa hanya diam.
Eza berdiri dan menggedor pintu lagi namun tak ada sahutan. Ia berdiri mondar-mandir, sementara itu Raisa seketika terjatuh dan pingsan.
Eza yang melihat Raisa mendekatinya. "Nona, bangunlah!" menepuk pelan pipinya.
Ia kembali menggedornya pintu lift.
Hampir 20 menit di dalam lift akhirnya pintu terbuka, tampak Lita, Hilman dan beberapa karyawan berdiri.
Begitu pintu terbuka, dengan sigap Eza mengangkat tubuh Raisa keluar.
"Kenapa dengan Nona?" tanya Hilman khawatir.
"Cepat sediakan mobil!" perintah Eza dengan lantang. Ia membawa wanita itu ke arah pintu keluar.
Hilman menyuruh sopir kantor untuk membawa Nona Raisa ke rumah sakit. Ia lalu mengabari Presdir.
Di dalam mobil penumpang, Eza terus menepuk pipi Raisa. "Nona, tolonglah bangun!"
Begitu sampai ia membantu petugas medis merebahkan tubuh Raisa di brankar.
Tak sampai 30 menit mendapatkan perawatan akhirnya Raisa sadar. Ia melihat sekelilingnya, tubuhnya terasa sakit dengan selang infus terpasang di tangannya.
__ADS_1
"Syukurlah, Nona sudah sadar!" ucap salah satu asisten rumah tangga keluarganya.
"Kenapa aku bisa di sini?"
"Tadi Nona pingsan di lift bersama Tuan Eza yang artis itu," jawabnya.
"Pingsan?" Seingat Raisa ia berada di dalam lift, pandangannya sangat gelap dan tubuhnya melemah.
"Iya, Nona. Tadi Tuan Eza bawa ke sini," ujarnya.
"Siapa yang memberi tahu kamu?"
"Tuan Devan menelepon ke rumah, makanya saya segera ke sini," jawabnya.
Raisa menepuk jidatnya, ia hendak turun dari ranjang namun di larang asisten rumah tangganya.
"Nona, jangan ke mana-mana. Kata Dokter belum boleh diizinkan pulang," ujarnya.
"Tapi, aku sudah membaik," Raisa bersikeras.
"Tuan Devan juga tadi menitip pesan kalau Nona disuruh beristirahat dan tidak boleh melakukan aktivitas apapun," jelasnya.
Raisa akhirnya pasrah, jika papanya sudah berbicara.
-
Selepas pemotretan, Eza meminta izin pada Lita untuk menjenguk Raisa dan wanita itu mengizinkannya.
"Kau yakin akan ke rumah sakit?"
"Iya, Kak. Aku ingin tahu keadaannya," jawabnya.
"Bagaimana jika Presdir datang?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Semoga saja dia tak memarahiku."
Eza mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, ia melihat Raisa terbaring di ranjang sedang memainkan ponselnya. Tak ada orang tuanya atau Rayi, hanya tampak seorang wanita muda bertubuh kecil.
Raisa melihat kedatangan Eza, bergegas bangun dan duduk. Pelayan yang berada di ruangan majikannya itu bergegas keluar.
"Bagaimana keadaan, Nona?" Eza mendekati ranjang Raisa.
"Lumayan membaik," jawab Raisa grogi.
"Syukurlah, saya lega mendengarnya," Eza tersenyum.
"Tolong, jangan tersenyum!" batin Raisa.
"Apa sudah makan siang?" tanya Eza.
Raisa menggelengkan kepalanya.
"Nona harus makan, biar kondisi tubuh semakin membaik dan kembali ke kantor," ujarnya.
"Sebentar lagi, saya akan makan. Tapi, sebelumnya terima kasih sudah menolong dan membawa saya ke sini."
"Sama- sama, Nona!" ucapnya "Saya juga akan melakukan hal yang sama meskipun bukan Nona Raisa yang berada di sana," lanjutnya.
"Ya, kau benar," Raisa tersenyum tipis.
Ditengah obrolan, Rayi datang membawa sekeranjang kecil buah dan bunga. "Ternyata ada tamu!" ia tersenyum menatap Raisa dan Devan.
"Rayi, kenapa di sini?" tanya Raisa heran.
"Maaf, sayang. Tadi Paman Devan menelepon dan mengatakan kamu pingsan, begitu rapat selesai aku buru-buru ke sini," jawab Rayi. Ketika Devan menghubunginya, ia sedang rapat setelah itu ia kembali menghubungi Papa Raisa.
__ADS_1
Raisa memaksa tersenyum.
"Kalau begitu, saya pamit pulang, Nona!"
"Oh, ya. Terima kasih sudah menolong kekasih saya," Rayi tersenyum.
"Sama-sama, Tuan." Eza pun pamit.
Raisa menatap Rayi begitu tajam.
"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau merusak obrolan kami saja," jawabnya kesal.
"Maaf, aku tidak tahu kalau dia di sini. Tapi, dirimu sekarang jadi tanggung jawabku selama Paman Devan pergi," ujar Rayi.
"Iya, tapi kenapa kau selalu menyebut kata-kata kekasih?" geram Raisa.
"Karena aku menyukaimu!" jawab Rayi santai.
"Berhenti bicara omong kosong," ujar Raisa tampak kesal.
Rayi tertawa lepas, melihat sepupunya. "Tolong, cari satu wanita untukku!"
"Cari sendiri!" Raisa memanyunkan bibirnya.
"Wajahmu jangan seperti itu, nanti dia melihatmu. Kau mau dia menjauhimu?"
Raisa menggelengkan kepalanya.
"Kalau dia menolakmu, aku siap menerimamu!"
"Rayi, jangan bicara omong kosong lagi. Pergilah, aku mau tidur. Jika kau lama-lama di sini yang ada ku tambah sakit," celetuk Raisa.
Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan keduanya. "Nona, Nyonya Tina ingin bertemu," ujar asisten rumah tangganya.
"Suruh masuk saja!" titah Raisa.
"Baik, Nona."
Tina menjenguk Raisa bersama putrinya. Keduanya masuk mendekati Raisa dan saling mencium pipi kanan dan kiri.
"Tadi Mama kamu nelepon untuk melihat kondisimu di rumah sakit," ujar Tina. "Bagaimana kondisimu?" tanyanya.
"Baik-baik saja, Bi." Raisa tersenyum.
"Kak Raisa, ini ada buah-buahan. Semoga cepat sembuh," Talitha tersenyum meletakkan sekeranjang kecil beberapa aneka buah di atas nakas.
Rayi yang duduknya sudah berpindah di sofa tamu, melihat ke arah Talitha.
"Dia siapa?" tanya Tina menatap Rayi.
"Dia Rayi, Bi. Putra Paman Rey dan Tante Raya," jawab Raisa.
Rayi berdiri dan mencium punggung tangan Tina lalu tersenyum.
"Kamu tampan sekali!" puji Tina.
"Ah, Tante bisa saja," Rayi menggaruk tengkuknya.
"Memang benar, kan?" Tina tersenyum.
"Tante, jangan memujinya seperti itu. Dia nanti akan besar kepala," celetuk Raisa.
"Putri Tante juga cantik," Rayi melirik gadis yang berada di samping Tina.
__ADS_1
Talitha tersipu malu sementara Tina dan Raisa mengulum senyum.