
Raya menyusul mobil Clarissa dari belakang. Sesampainya di sana ia disambut Oma Fera.
"Kenapa dengan Rissa, Devan?" Oma Fera tampak khawatir.
"Clarissa hanya kelelahan saja, Oma." Jawab Devan.
Oma lalu mengarahkan pandangannya kepada Raya.
"Pagi, Oma!" sapa Raya.
"Pagi juga, Raya. Ada perlu apa kemari?" tanyanya.
"Ingin membicarakan bisnis dengan Rissa, tadi sudah ke Arta Fashion tapi dia menyuruhku ke sini," jawab Raya.
"Oh, begitu. Silahkan masuk!" Oma tersenyum.
Raya duduk di ruang tamu bersama dengan Clarissa, suaminya dan Oma Fera.
"Perusahaan Papa ingin melakukan kerja sama dengan Arta Fashion, wahana permainan kami ingin mengadakan pameran busana. Apa kalian mau?" tanya Raya.
Clarissa melihat ke arah suaminya, meminta jawabannya.
"Boleh saja," Devan menerima tawaran dari iparnya itu.
Clarissa dan Oma tersenyum ikut menyetujui.
"Syukurlah jika Arta Fashion ikut berpartisipasi, kami akan memajang semua produk kalian," ujarnya tersenyum senang.
...----------------...
__ADS_1
Malam ini Claudia dan suaminya menghadiri acara pesta pernikahan salah satu putra dari rekan bisnis Ardian. Ia menyapa para tamu undangan yang hadir di acara tersebut.
Martha dan Siska juga hadir di hotel mewah yang ada di kota A.
Claudia yang melihat dua wanita itu di acara yang sama namun beda tempat duduk memilih menghindar. "Pa, aku mau ke toilet," pamitnya berbisik pada suaminya.
"Ya, sudah. Apa perlu aku temani?"
"Tidak perlu, Pa. Aku bisa sendiri," jawab Claudia pelan.
"Pergilah," ucap Ardian lirih sembari tersenyum.
Claudia berjalan seorang diri di tengah jalan menuju toilet dirinya berpapasan dengan Martha.
"Wah, ada mertuanya Devan Artama!" sindirnya.
Claudia memilih tersenyum.
"Kalau dia belum tahu, kau mau apa? Ingin memberitahunya?"
"Kau menantang ku, Claudia?"
"Tidak, hanya kau saja yang lebih dahulu memulainya."
"Aku tidak bisa bayangkan si nenek tua itu tahu jika mertua dari anaknya yang menculik cucunya," Marta menampilkan senyum jahat.
"Aku bisa mengatakan kepada mereka, jika kau terlibat dalam kasus ini. Bukankah dirimu yang mendorong Devan kecil hingga ia terjatuh di Danau Pelangi?" Claudia menarik sudut bibirnya.
"Kau!" Martha menatap geram.
__ADS_1
"Sudahlah, Martha. Apa kau tidak lelah terus menerus berada di bawah dendammu?"
"Ini semua karena dirimu, Claudia!"
"Bukan karena aku, tapi keserakahanmu yang membuat dirimu dendam dengan keluarga Artama. Padahal Devan tidak tahu apa-apa dengan masa lalu orang tuanya," ungkap Claudia.
"Kalau suamimu tidak ikut campur tentunya aku bisa mendapatkan Vandi!"
"Kau salah!" Claudia tetap bersikap tenang. "Kau tamak dan rakus, makanya Vandi menjauhimu dan memilih Marissa," Tersenyum menyeringai.
"Aku tidak akan membiarkan keturunan Vandi hidup tenang," ancam Martha.
"Kau pikir aku akan membiarkan dirimu menghancurkan suami putriku," Claudia menyipitkan matanya.
"Kau tetap akan kalah, Claudia!" tersenyum sinis.
"Kita lihat saja!" Claudia memilih berlalu meninggalkan Martha yang ingin berkata-kata lagi.
-
Di dalam toilet, Claudia berpegangan di wastafel ia berusaha mengatur nafasnya yang saling memburu. "Semoga ancaman Martha itu tidak terjadi."
Claudia segera menyelesaikan urusannya di dalam toilet setelah itu ia bergegas menghampiri suaminya.
"Kenapa lama sekali?" Ardian bertanya dengan suara pelan di telinga istrinya.
"Tadi aku berpapasan dengan Martha."
"Tapi kau tidak apa-apa, kan?" Ardian tampak khawatir, karena ia sudah tahu bagaimana sifat Martha sebenarnya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, cuma khawatir dengan Devan dan Clarissa."
"Jika dia berani menyentuh anak dan menantuku, aku tidak akan tinggal diam," janji Ardian.