
Raya yang sedang menikmati sarapan pagi mendadak perutnya merasa mual. Ia memegang mulutnya seperti ingin membuang sesuatu.
"Sayang, kau kenapa?" Rey mengusap punggung istrinya.
"Kau jorok sekali, pergi sana ke toilet!" Siska menatap kesal menantunya.
Raya berdiri lalu ia berlari ke kamar mandi dekat dapur, ia membuang seluruh isi perutnya. Lalu ia kembali ke meja makan.
"Apa Raya sedang sakit, Rey?" tanya Papa.
"Tadi masih sehat saja, Pa."
Raya yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, mendadak bangkit dari kursinya lalu melangkah cepat ke kamar mandi.
"Sepertinya kalian harus pergi ke dokter," usul Papa.
"Iya, Pa." Rey lalu menyusul istrinya.
Raya melihat suaminya datang menyusul. "Rey, rasanya aku lemas sekali!"
"Istirahatlah, biar makanannya aku bawa ke kamar," ujar Rey.
Raya mengangguk, Rey memapah tubuh istrinya ke dalam kamar. "Aku akan memanggil Dokter!"
-
Sejam kemudian, Dokter pun datang dan memeriksa Raya. Lalu wajah tersenyum ditampilkan wanita muda itu kepada Rey dan istrinya. "Kemungkinan istri anda hamil, Tuan."
"Benarkah?" Rey tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Lebih baik anda segera membawa Nona Raya ke rumah sakit untuk memastikannya kembali," jelasnya.
"Ya, kami akan ke rumah sakit, Dokter!" ujar Rey.
"Kalau begitu saya pamit, Tuan, Nona!" Dokter pun berlalu.
Setelah Dokter memeriksa kondisi Raya, mereka berdua bersiap pergi ke rumah sakit untuk memastikan kabar kehamilan tersebut.
"Mau ke mana?" tanya Siska ketus saat Rey dan istrinya melewati ruang tamu.
"Mau ke rumah sakit, Ma." Jawab Rey.
"Tadi Dokter sudah kemari, mau apa lagi ke rumah sakit?" tanya Siska lagi.
"Dokter tadi mengatakan kalau Raya hamil," jawab Rey.
"Ma, Pa, kami pergi dulu, ya!" pamit Rey tak mau mendengarkan ocehan mamanya.
"Hati-hati bawa mobilnya Rey," nasehat Papa.
"Iya, Pa!"
-
Dokter mengatakan kalau Raya hamil, usia kandungannya jalan 6 minggu. Rey dan papanya sangat bahagia namun tidak dengan Siska. Semakin sulit ia memisahkan anak dan menantunya itu.
Kabar kehamilan Raya terdengar oleh Ardian dan istrinya. Mereka sangat senang dan berniat datang mengunjungi namun Raya melarangnya. Karena ia tak ingin Claudia dan Siska beradu mulut jika berjumpa.
...----------------...
__ADS_1
Tubuh masih terasa lemas karena terus muntah, membuat Raya lebih memilih rebahan di ranjang. Makan dan minum di bawa ke dalam kamar.
Rey sering memantau kondisi istrinya melalui sambungan telepon dan video.
Sementara itu Siska yang tahu menantunya, sedang asyik tiduran menghampiri ke kamarnya. "Suami kerja, eh istrinya rebahan melulu!"
"Ma, aku tidak ingin ribut. Bisakah dirimu keluar!" usirnya.
"Kalau hamil itu jangan tidur saja, gerakkan badanmu!" Siska terus mengoceh.
"Sepertinya lahiran di luar negeri lebih enak nih," ujar Raya menyandarkan punggungnya di ranjang sambil makan apel yang sudah dikupas pelayan, ia malas meladeni ocehan mertuanya yang terus menyindirnya.
"Mama ikut, kalau kau lahiran di sana!" Siska mengusulkan dirinya.
"Tidak boleh, lahiran di sana pakai uang pribadiku. Mama lebih baik di sini saja jaga rumah," ujar Raya santai.
"Mama harus ikut juga," Siska bersikeras.
"Ada Mama Claudia juga, yakin mau ikut?" Raya mulai memancing.
"Kenapa harus ada Ibumu itu?" Siska tak suka.
"Ya, tentu ada. Dia istri dari Papaku," jawab Raya.
"Mama tak mau ikut kalau wanita itu ada," Siska merenggutkan bibirnya.
"Syukurlah, setidaknya telingaku tak panas mendengar ocehan Mama," celetuk Raya.
Siska mendengus kesal lalu meninggalkan kamar menantunya.
__ADS_1