
Clarissa menyenderkan kepalanya di dada suaminya yang masih tertidur, rasanya ia enggan untuk bangkit dari ranjangnya. Padahal jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi.
"Van, kapan kita liburan ke tempat yang kau janjikan?" Clarissa tak menggerakkan kepalanya dan tetap dengan posisinya.
"Memang aku ada janji denganmu?" Devan masih menutup matanya karena sangat mengantuk.
"Kau bilang akan memenuhi janjimu jika aku menikah denganmu," Clarissa mengingatnya kembali.
"Oh itu, kapan kau punya waktu?"
"Aku akan meminta Yuna mengatur ulang jadwalku agar kita bisa berlibur."
"Kita akan pergi jika Oma benar-benar sehat," Devan masih berucap dengan mata terpejam.
"Baiklah aku setuju," Clarissa mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya. "Ayo, lekas bangun. Aku sangat lapar," Ia mengecup seluruh wajah suaminya.
"Sebentar lagi, aku masih mengantuk," dengan malas Devan berucap.
"Ya sudah, aku mau mandi. Kalau kau tidak bangun juga, aku makan di luar sendirian saja," Clarissa turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.
Devan bergegas turun dari ranjang setelah pintu kamar mandi terbuka. Ia segera membersihkan diri.
-
Keduanya menikmati sarapan pagi di dalam kamar karena Devan tak mau istrinya itu di kejar para penggemarnya. Apa lagi kedua sahabat Clarissa tak berada di dekatnya pastinya Devan akan kewalahan menghadapinya secara dirinya pun tak bisa bersentuhan dengan orang lain.
"Van, nanti kita akan tinggal di mana?"
"Di rumah Oma," jawabnya.
__ADS_1
"Kenapa kita tidak tinggal di rumah sendiri?"
"Aku tak mau meninggalkan Oma sendirian."
"Aku tidak terlalu pintar memasak dan bersih-bersih, bagaimana jika Oma marah kalau aku tak bisa melakukan itu?"
"Aku menikahimu bukan untuk melakukan itu semua."
"Aku takut saja saudaramu akan merendahkan diriku," tutur Clarissa sendu.
Devan meraih tangan Clarissa dan mengusap punggung tangannya. "Percuma saja aku bayar pelayan, jika kau harus melakukannya itu. Kau hanya perlu melayani ku saja!"
Clarissa tersenyum kecil mendengar jawaban yang diberikan suaminya.
...----------------...
Clarissa dan Devan bersiap akan berangkat ke luar negeri untuk liburan. Sementara Hilman yang akan menggantikan Presdir.
Dan hari ini juga Clarissa tidak terikat kontrak dengan Arta Fashion.
"Jangan lama-lama di sana, Oma di sini kesepian," Fera memeluk tubuh cucunya.
"Belum juga berangkat," batin Clarissa.
"Iya, Oma. Kami di sana tidak akan lama, banyak pekerjaan yang telah menunggu kami," jelas Devan.
"Jaga cucuku di sana, perhatikan makannya dan juga kesehatannya," Fera menasehati cucu menantunya.
"Baik, Oma. Aku akan menjaga Devan seperti suamiku," Clarissa berucap asal yang langsung mendapatkan tatapan aneh dari suaminya.
__ADS_1
"Memang aku suamimu," sahut Devan.
"Iya, ya, kau memang suamiku!" Clarissa menampilkan senyum terindahnya.
"Kalau begitu kami berangkat, Oma." Devan pun pamit, dan Clarissa memeluk tubuh Fera.
"Kalian hati-hati di sana!" Oma mengingatkan.
"Iya, Oma!" keduanya memasuki mobil menuju bandara.
-
-
Beberapa jam kemudian mereka tiba di ibukota Turki. Keduanya beristirahat di hotel tak jauh dari bandara.
"Akhirnya aku bisa ke sini juga," Clarissa berdiri memandang jalan dari jendela hotel.
"Yakin tidak pernah ke sini?" Devan tak percaya.
Clarissa mengangguk mengiyakan.
"Aku akan membawamu ke sini setahun tiga kali," janji Devan.
Clarissa menoleh ke suaminya. "Memangnya kita tak ada pekerjaan harus bolak-balik ke sini?"
"Berhenti menjadi selebritis dan bekerja di Arta Fashion," pinta Devan.
"Aku tidak mau!" tolak Clarissa.
__ADS_1