Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Cerita Penculikan


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu....


Devan yang sedang bermain di depan rumahnya di Kota D, tiba-tiba mulutnya di bekap dan di bawa kabur menggunakan mobil.


Ia di bawa ke rumah yang tidak terlalu besar namun kelihatan bersih, pria itu membuka sapu tangan penutup mulut Devan dan membuka pintu kamar. "Ayo masuk!" ia mendorongnya.


Devan terus menangis saat pria itu mengunci pintunya. "Paman, tolong buka pintunya. Apa salahku?"


Teriakan Devan tak di hiraukan. Tak lama kemudian pria itu membawa makanan dan minumannya.


"Paman tidak akan menyakitimu," ucapnya.


"Kenapa Paman membawaku ke sini?"


"Hanya kamu yang dapat membantu Paman dari masalah ini."


"Tapi, aku di sini sangat takut," Devan kembali menangis.


"Paman tetap di rumah ini, jadi kamu jangan khawatir," ucapnya.


"Aku rindu Mama, Paman."


"Tenanglah, Nak. Kamu harapan Paman," pria itu memegang tangan Devan dengan wajah sendu.


Pria itu kemudian keluar dan menutup kembali pintu kamarnya. Devan hanya memandangi makanan yang terletak di meja.


Sejam kemudian pria itu kembali menemui Devan yang tertidur di sebuah kasur beralaskan tikar. Ia melihat makanan masih utuh dan membangunkan Devan. "Bangun, Nak!"


Devan pun terbangun dan mengucek matanya. "Apa aku akan bertemu dengan orang tuaku?"


"Kamu pasti bertemu dengan mereka, jadi makanlah!" perintahnya.


"Aku tidak mau, Paman!"


"Kau mau apa biar Paman belikan?"

__ADS_1


"Aku mau ayam goreng!"


"Tunggulah, Paman akan membelikan untukmu!" Pria itu pun pergi dan tak lama kemudian ia membawa pesanan Devan. "Paman sudah membelikannya, jadi makanlah!" ucapnya.


Devan mulai menikmati nasi dan ayam goreng dengan lahap, pria itu keluar kamar terdengar oleh Devan suaranya menelepon dengan nada marah. Membuat dirinya ketakutan dan menghentikan makannya.


Pria itu kembali membuka kamar. "Apa kau sudah selesai makannya?"


"Sudah, Paman."


"Tidurlah, Paman tidak akan berbuat jahat."


Devan mengangguk pelan dan mengamati wajah penculiknya.


Pria itu pun keluar, tak lama terdengar suara di balik pintu kamar. "Ini semua karena dirimu!"


"Kau yang terlalu bodoh dan cuma ini cara satu-satunya mendapatkan uang untuk melunasi semua utang itu."


"Bagaimana kalau kita ketahuan mereka?"


Devan yang mendengarnya, memikirkan cara untuk pergi dari rumah tersebut.


Di hari yang sama terdengar keributan, Devan lagi-lagi menempelkan telinganya di pintu.


"Untuk apa lagi wanita itu ke sini?"


"Dia ke sini untuk menagih utang padaku."


Devan yang menguping di balik pintu tiba-tiba bersin dan batuk.


"Siapa dia?"


"Bukan siapa-siapa."


"Jangan berbohong, siapa dia? Apa kau benar-benar melakukan penculikan itu?"

__ADS_1


"Aku terpaksa dan tidak punya pilihan lain. Orang tuanya kaya raya."


"Kau memiliki seorang putri, bagaimana jika itu terjadi padanya?" tanya wanita itu dengan suara lantang.


"Aku tidak akan menyakitinya."


"Kau tidak menyakitinya tapi membuat kedua orang tuanya khawatir dan panik. Apa kau tidak merasakan itu?"


"Maafkan aku, ku tak punya pilihan lagi."


"Aku tidak menyangka kau berbuat nekat seperti ini. Aku akan memberi tahu orang tuanya," jawab wanita itu.


"Jangan!" ucap pria itu lantang. "Jagalah putri kita dengan baik dan menjauhlah. Biar resiko ini, aku yang menanggungnya."


"Aku sudah memperingatkan padamu untuk tidak mendengarkan ucapan wanita jahat itu," wanita itu mulai menangis.


"Sekali lagi maafkan aku!"


Tak terdengar suara lagi pembicaraan kedua orang dewasa. Devan kembali ke kasur dan tidur.


...******...


Pagi harinya pria itu menemui Devan di kamar penyekapan. "Paman bawakan pakaian dan makanan untukmu," ucapnya.


Devan hanya mengangguk.


"Mandilah setelah itu makan," titahnya lagi. Setelah memberikan makanan dan pakaian, pria itu meninggalkan bocah tersebut.


Devan bergegas mandi setelah membersihkan diri ia mengisi perutnya. Selesai makan ia kembali tertidur dan memandangi jendela yang tak pernah terbuka. Pria itu kembali masuk mengambil sampah bungkusan makanan dan melihat kondisi Devan.


Ponsel pria itu berbunyi dan ia terburu-buru keluar kamar tanpa mengunci pintu. Mendapatkan kesempatan itu Devan pun melarikan diri.


Ia berlari cepat agar tak tertangkap lagi. Sampai ia bertemu dengan gadis kecil yang sedang menunggu ibunya di pinggir jalan.


"Tolong aku!" ucap Devan dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


__ADS_2