
Eza kembali melakukan pemotretan yang sempat tertunda. Namun, kali ini Raisa tidak hadir untuk melihatnya. Tak seperti biasanya, hal itu membuatnya merasa penasaran.
Selesai pemotretan Eza sengaja mencari Raisa sekedar mengajaknya makan siang. Begitu ingin menghampirinya yang sedang mengobrol dengan salah satu karyawan Arta Fashion, Rayi lebih dahulu mendekatinya dan menyapanya.
Seketika langkah Eza terhenti, ia melihat Raisa tersenyum dan bercanda dengan Rayi. Bukan hanya itu saja, Presdir datang menghampiri keduanya dan mereka sangat akrab.
Eza dengan cepat membalikkan badannya saat Raisa tak sengaja melihat keberadaannya. Ia bergegas pergi meninggalkan ketiganya.
Raisa yang melihat Eza mengulum senyumnya.
"Ayo, Nak!" ajak Devan. Ketiganya akan makan siang bersama.
"Papa dan Rayi duluan saja, Raisa akan menyusul," ujarnya.
"Baiklah," Devan pun melangkah ke parkiran.
Raisa mempercepat langkahnya mengejar Eza. "Tunggu!"
Eza menghentikan langkahnya dan terdiam.
Raisa mendekatinya, "Apa kau ingin berbicara sesuatu?"
Eza menatap Raisa, "Tidak ada!"
"Sepertinya tadi kau mendengar percakapan aku dengan Rayi dan Presdir."
"Saya hanya kebetulan lewat saja, Nona!"
"Begitu, ya." Raisa tersenyum.
"Ya, Nona."
"Baiklah," Raisa pun pamit kemudian ia menghampiri papanya dan Rayi.
Eza menatap punggung Raisa sampai menghilang dari pandangannya sampai tepukan dibahunya menyadarkannya.
"Ternyata kau di sini!" ujar Lita.
__ADS_1
"Ada apa, Kak?"
"Kita harus ke stasiun televisi, ada acara talk show," jawab Lita.
"Ya sudah," Eza pun menuju mobilnya.
-
-
Raisa menikmati makan siang bersama keluarganya dan Rayi di sebuah restoran tak jauh dari Arta Fashion.
"Apa benar Darren akan sekolah di luar negeri, Paman, Bibi?" tanya Rayi.
"Iya, katanya dia ingin mandiri," jawab Clarissa.
"Oh, begitu. Rayendra juga ingin sekolah di luar," ujar Rayi.
"Bagaimana kalau kamu dan Rayendra satu sekolah?" usul Clarissa.
"Aku tidak mau, Ma. Rayendra selalu usil dan bebas," jelas Darren.
"Ya, memang benar." Tutur Rayi.
"Oh ya, Rayi. Kata Raisa kemarin dia menemani kamu ke rumah sakit, memangnya siapa yang dirawat?" tanya Clarissa.
"Oh, itu hanya teman. Kebetulan Raisa juga kenal, Bibi," Rayi melirik gadis yang ada disampingnya.
"Siapa, Sa?" tanya Devan menatap putrinya.
"Eza, Pa!"
Devan menghentikan makannya, "Sakit apa dia?"
"Kecelakaan ringan saja, Pa."
"Jadi, ini alasanmu tidak masuk kantor kemarin pagi?" tanya Devan.
__ADS_1
"Maaf, Pa. Eza salah satu model kita, tidak masalah 'kan kalau Raisa menjenguk," jawabnya.
"Ya, tapi mulai hari ini dan seterusnya kamu akan ditemani oleh Rayi," ujar Devan.
Rayi dan Raisa saling pandang.
"Paman, minta tolong sama kamu. Jika Raisa pergi ke manapun biar dia bersamamu," mohon Devan.
"Baik, Paman. Dengan senang hati aku akan menemani kemana saja Raisa pergi," Rayi tersenyum melirik gadis yang dimaksud.
Raisa menghela nafas pasrah.
"Pa, Rayi ada pekerjaannya nanti akan terganggu jika harus menemani putri kita," Clarissa memberikan penjelasan.
"Apa kamu terganggu Rayi?" Devan menatap putra sulung Rey dan Raya.
"Tidak, Paman. Malah, aku senang bisa dekat dengan Raisa," ujar Rayi tersenyum.
"Pa, Raisa bukan anak kecil yang kemana saja harus bersama Rayi," ujar putrinya.
"Papa tidak mau kamu bersama model itu," jelas Devan.
Seketika wajah Raisa cemberut, ia memilih diam dan melanjutkan makannya.
-
Sepanjang perjalanan ke kantor, Raisa hanya diam dan memandangi jendela.
"Papa melakukan ini untuk kebaikan kamu juga," ujar Devan.
"Ya, Pa!" Raisa menoleh dan tersenyum.
"Papa tidak ingin kehidupan pribadimu menjadi sorotan media, keluarga pria itu belum jelas. Jadi, Papa akan selektif mencari teman pria untukmu apalagi calon suamimu kelak."
"Raisa ikut kata Papa saja," jawabnya lesu.
"Papa senang mendengarnya," Devan mengacak rambut putrinya dan tersenyum.
__ADS_1