
Clarissa menerobos pintu ruangan kerja Devan, tanpa meminta izin padanya. "Tuan, anda tidak bisa memutuskan ini?" protesnya.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Devan menghentikan langkahnya tanpa melihat wanita yang ada dibelakangnya.
"Tuan, saya minta maaf!" jawab Clarissa.
"Keluar!" ucap Devan dengan tegas.
Ia menarik lengan tangan Devan hingga pria itu membalikkan tubuhnya dan menghempaskan tangan Clarissa. "Bukan saya yang menyebarkan video itu!"
"Aku tidak peduli siapa yang menyebarkannya," ucap Devan menekankan kata-katanya.
"Tapi, kenapa Tuan memutuskan kerja sama kita?"
"Apa tidak ada perusahaan lain yang memakai jasamu?" Devan balik bertanya dengan tangan dilipatnya di bawah dada.
"Bukan begitu, Tuan?"
"Jadi, apa?"
"Tuan, saya mengaku salah. Bisakah anda bersikap profesional?"
"Kau bilang profesional? Tapi aku tidak suka caramu yang kemarin," ucap Devan.
"Tuan, tolong jangan putuskan kerja sama kita," pinta Clarissa mengatupkan kedua tangannya.
Devan hanya bergeming.
"Aku akan katakan pada media, aku yang bertanggung jawab atas video itu," ucap Clarissa mengiba.
"Percuma!"
"Tuan, biarkan saya melanjutkan kontrak ini. Saya tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi," mohonnya.
"Silahkan keluar!" ucap Devan dengan suara rendah.
Clarissa menggelengkan kepalanya, menolak keluar.
"Keluar!" usir Devan dengan lantang membuat Clarissa terperanjat kaget dan tubuhnya gemetar.
Clarissa pun keluar dari ruangan Devan, ia memakai kacamata hitamnya dan berjalan dengan cepat. Kedua temannya menyusulnya.
Selama perjalanan pulang, Clarissa memilih diam dan sesekali mengelap air matanya. Tina dan Yuna memakluminya.
Sesampainya di apartemen, ia memberi tahu kedua temannya untuk tidak mengganggunya. Ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan ia menumpahkan air matanya yang ia tahan saat perjalanan pulang di atas bantal.
-
-
Kediaman Oma Fera
"Apa benar Arta Fashion tidak bekerja sama lagi dengan Clarissa?" tanya Oma Fera pada cucunya saat makan malam.
"Iya, Oma."
"Kontrak dia belum berakhir dan iklannya juga sukses. Kenapa kau mengakhirinya?"
"Tidak apa, Oma."
"Devan, kau dulu begitu memaksa untuk menjadikan dia model produk-produk kita. Sekarang, penjualan mengalami kenaikan kau malah membuangnya!" ujar Oma Fera.
__ADS_1
"Dia tidak sejalan lagi dengan perusahaan," jawab Devan berbohong.
"Apa karena berita kau dan dia?" tanya Oma Fera.
Devan menghentikan aktivitas makannya. "Tidak, Oma!" jawabnya berbohong.
"Kalau tidak, kenapa kau harus memutuskan kontrak itu? Bagaimana jika dia menjadi model produk pesaing kita?"
Pertanyaan Oma Fera membuat Devan menjadi bimbang, ia tidak mungkin menarik Clarissa lagi di perusahaannya.
...----------------...
Dua hari kemudian...
Para wartawan sudah menunggu Clarissa di depan pintu gedung salah satu televisi swasta. Pagi ini ia mengisi acara tersebut sebagai bintang tamu talk show.
Selesai acara, Clarissa bergegas pulang ia dibantu kedua temannya dan petugas keamanan gedung menerobos para pemburu berita. Ia tidak memberikan pernyataan apapun tentang hubungannya dengan Devan dan pemutusan kontrak. Ia memilih bungkam saat para wartawan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Selama perjalanan ke tempat kerja selanjutnya, Clarissa memilih diam dan kadang tertidur.
Mendengar kabar jika dirinya tidak dalam naungan Arta Fashion. Berbagai perusahaan yang sejenis menawarkan kontrak kerja sama dengan Clarissa namun ia menolaknya dengan alasan jadwalnya masih padat.
Dari pagi hingga sore hari, ia sudah menjalankan aktivitasnya di tiga tempat yang berbeda. Ya, dia harus kerja keras untuk membayar utang yang ditinggalkan ayahnya.
"Yuna, besok transfer uang ke Nona Lu beserta bunganya," perintahnya pada manajernya itu sesampainya ia di apartemen.
"Ya, Rissa. Aku akan mentransfernya, seluruh utang ayahmu segera lunas," ujar Yuna.
"Syukurlah!"
"Setelah ini, apa kau akan mengambil pekerjaan baru lagi?"
"Tentunya boleh, kami juga akan beristirahat sejenak," jawab Tina.
"Rissa, sudah empat tahun ini kau bekerja keras tanpa berlibur. Jadi nikmati waktumu sebaik-baiknya," ucap Yuna.
"Terima kasih, kalian sahabat terbaikku!" Clarissa memeluk keduanya.
"Bagaimana kalau malam ini kita ke mall?" usul Yuna.
"Boleh juga!" Clarissa menerima usulan itu.
Mereka bertiga pun jalan-jalan ke mall sambil berbelanja, menikmati makan malam bersama walaupun itu sering mereka lakukan.
Pukul 10 malam mereka tiba di apartemen. Tamu tak diundang datang menemui Clarissa. Ia berdiri didepan pintu.
"Rissa, aku ingin berbicara padamu!" ucap Rey.
Clarissa memiringkan bibirnya tak suka dengan kehadiran Rey, apalagi ibu pria itu sudah memarahinya.
"Rissa, kami duluan. Sini belanjaanmu, biar ku bawa masuk!" ucap Tina.
"Kita bicara di bawa!" Clarissa memakai jaket dengan penutup kepalanya.
Rey dan Clarissa mengobrol di taman apartemen kebetulan malam, jadi tidak ada warga yang berlalu lalang.
"Aku dengar kau tidak terikat kontrak dengan Arta Fashion," ujar Rey.
"Ya."
"Apa ini ada hubungannya dengan berita kau dan Devan?"
__ADS_1
"Tidak," jawab Clarissa singkat.
"Lalu, kenapa ia memutuskan kontrakmu?"
"Karena sudah habis," jawab Clarissa asal.
"Rissa, apa kau begitu menyukai Devan?" tanya Rey.
"Kenapa kau ingin tahu urusan pribadiku?" Clarissa balik bertanya.
"Rissa, ku mencintaimu. Tapi, jika kau memang menyukainya aku akan membantumu," jawab Rey.
"Aku tidak butuh bantuan siapapun," ucap Clarissa.
"Rissa, anggap saja kita berteman," ujar Rey.
Clarissa tersenyum sinis, "Aku tidak mau Ibumu datang dan memarahiku lagi."
"Aku akan jelaskan padanya," janji Rey.
"Lebih baik kau jauhi aku, Rey. Biar Ibumu tidak salah paham," ucap Clarissa.
...----------------...
Beberapa hari kemudian...
Clarissa akan mengunjungi ibunya hari ini, karena sudah tiga tahun ia tak pernah pulang ke rumah.
"Kau yakin tidak ingin pergi bersama kami," ucap Tina.
"Aku yakin, kalian pergilah berlibur!" ujar Clarissa.
"Jika terjadi sesuatu hubungi kami segera," Yuna memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Ya, terima kasih!" Clarissa tersenyum hangat.
"Kalau Raya menyakitimu, beri tahu kami. Biar aku acak-acak wajahnya," ucap Tina membuat Clarissa mengulum senyum.
"Ya, sudah aku berangkat dulu!" Clarissa memeluk para sahabatnya.
Mobil yang dikendarai Clarissa meninggalkan apartemen miliknya melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah ibunya.
Baru saja setengah jam perjalanan, ia harus memutar arah karena ada penutupan jalan. Terpaksa ia melewati gedung Arta Fashion. Tempat yang ia hindari karena terlalu kesal dengan pemiliknya.
Ditengah jalan, mobilnya dan Devan saling berpapasan dengan sengaja pria itu menurunkan kaca jendela mobilnya dan menatap ke arah Clarissa yang juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa dia pergi sendiri?" gumam Devan.
Clarissa menaikkan kembali kaca mobilnya dan mempercepat laju kendaraannya.
Devan yang melihatnya dari kaca spion, memutar balik arah ia mengikuti Clarissa. "Mau ke mana dia? Kenapa melewati jalan perbatasan?" pertanyaan itu muncul dipikirannya.
Lalu, Devan menghentikan kendaraannya dan memutuskan untuk kembali ke Arta Fashion.
Clarissa mengetahui Devan mengikutinya mengulum senyumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat Membaca 🌹
Jangan lupa tinggalkan like ♥️
__ADS_1