
Kabar Devan dan Clarissa kembali dekat terdengar di telinga Oma Fera. Wanita itu pun lantas menanyakan hal itu kepada cucunya saat sarapan pagi bersama.
"Apa benar kabar yang Oma dengar tentang kau dan dia?"
"Ya, Oma."
"Oma sudah katakan padamu, jangan mendekatinya lagi," Fera tampak kecewa.
Devan menghela nafasnya. "Salah Clarissa di mana?"
"Karena dia putri...."
"Dari pria yang menculikku," sambung Devan.
"Iya."
"Oma, aku mencintai Clarissa. Dalam waktu dekat ku akan menikahinya meski tanpa restu dari Oma Fera." Devan menyelesaikan sarapan paginya dan berangkat ke kantor.
"Devan!" Fera terus memanggil nama cucunya.
"Nyonya, jangan teriak-teriak," Yuki mendekati wanita tua itu.
"Bagaimana aku tidak teriak-teriak, dia sudah mulai membantah ucapanku," Fera berucap dengan emosi.
"Tuan muda sudah dewasa, Nyonya. Dia pasti tahu mana yang terbaik untuknya, biarkan saja dia menentukan pilihan hatinya," jelas Yuki.
"Tapi wanita itu putri dari orang yang sudah menculik Devan kecilku. Bagaimana aku bisa memaafkannya? Belum lagi Claudia menutupi ini semua, apa maksudnya?"
"Mungkin wanita itu tak ingin putrinya jadi kepikiran. Apa Nyonya tahu rasanya dijauhi oleh orang yang kita cintai?"
"Bagaimana jika putrinya seperti ibunya?"
"Belum tentu sama, Nyonya."
"Kenapa kau jadi membelanya?" protes Fera.
"Oma, biarkan Tuan muda bahagia."
__ADS_1
Fera terdiam dan berpikir, apa yang dikatakan asistennya itu ada benarnya. Terlalu egois dia memaksakan kehendaknya.
"Oma butuh istirahat, jangan stres nanti Tuan Devan juga yang akan sedih," Yuki berusaha menenangkan majikannya itu.
"Ya, kau benar. Devan satu-satunya pewaris di keluarga ku. Aku pernah berjanji pada putraku untuk menjaganya dan menuruti keinginannya jika itu hal yang baik."
"Mari saya antar ke luar," Yuki membantu memegang tangan Fera dan menuntunnya menuju taman rumah.
-
Gedung Arta Fashion
Hari ini terakhir Clarissa bergabung di Arta Fashion. Ia menolak untuk brand ambassador produk yang dikeluarkan perusahaan pimpinan Devan.
"Rissa," panggil Devan sebelum ia memasuki studio foto.
"Ya, ada apa?"
"Selesai pemotretan ke ruangan ku, ya."
"Biasanya Hilman yang menyampaikan," Clarissa menatap wajah pria itu.
"Baiklah, nanti aku akan ke sana!"
Dua jam kemudian Clarissa selesai pemotretan ia menemui Devan di ruangannya.
Devan melemparkan senyumnya ke arah wanita yang saja memasuki ruangannya.
"Sepertinya penting," Clarissa berucap tanpa basa-basi.
"Sangat penting," Devan memegang bahu Clarissa lalu mendudukkannya di kursi.
"Kenapa aku jadi deg-degan?" Clarissa bertanya sembari menatap wajah tampan pria yang ada dihadapannya.
Devan tertawa kecil mendengar pertanyaan Clarissa.
"Buruan mau bicara apa?"
__ADS_1
"Aku akan menikahimu dalam waktu dekat."
"Hah!"
"Kenapa terkejut? Kau tidak suka kita menikah," Devan menatap mata kekasihnya itu.
"Bukan begitu," Clarissa gelagapan.
"Lalu apa?"
"Apa Oma merestui hubungan kita?" tanya Clarissa lirih.
"Oma biar menjadi urusanku."
"Kita tidak bisa menikah tanpa restunya, apalagi dia begitu membenci...."
"Cukup!" Devan meletakkan jari telunjuknya di bibir Clarissa. "Aku mencintaimu, aku akan tetap menikahimu," Ia berbicara dengan lembut.
Devan memiringkan kepalanya, mendekati Clarissa yang sudah memejamkan matanya. Saat ingin mengecup bibir, ponsel pria itu berdering.
Devan berdecak kesal membuat Clarissa terkekeh.
Ia mengangkat ponselnya dan menjawabnya, tiba-tiba wajah Devan berubah cemas. Clarissa yang melihatnya lantas berdiri.
"Apa yang terjadi, Van?"
"Oma jatuh, sekarang belum sadarkan diri," jelas Devan.
"Tunggu apalagi, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Clarissa.
...ΩΩΩΩΩ...
Hari ini dan beberapa hari ke depan aku hanya update 1 bab saja, tapi aku akan usahakan bisa update 2-3 bab.
Terima kasih yang masih setia dengan kisah cintanya Si Tampan Devan dan Clarissa.
Ku mohon kalian jangan pergi, karena itu sangat menyakitkan apalagi di tinggal saat masih sayang-sayangnya😁
__ADS_1
Selamat Membaca 🌹