
Bayi laki-laki Raya terus menangis, ia sangat kewalahan mengurusnya sedangkan suaminya belum pulang kerja.
Siska yang datang ke rumah putranya, menghampiri menantunya yang ada di ruang keluarga. "Kenapa dengan Rayi? Kenapa dia menangis?"
"Aku tidak tahu, Ma."
"Kenapa bisa tidak tahu?" sentak Siska. "Kau bisa mengurus anak atau tidak, hah!" hardiknya lagi.
"Aku akan menidurkannya, Mama kalau butuh sesuatu minta sama pelayan saja," Raya pun berlalu ke kamar.
"Mengurus anak saja tidak bisa!" gerutu Siska.
Sejam kemudian Rey pulang dari kantor, ia tak lagi bekerja di Arta Fashion sekarang dirinya bekerja di perusahaan milik papanya. Ia pun mencari istri dan anaknya. "Mama masih di sini?"
"Kau tidak suka Mama di sini?"
"Suka, Ma. Aku ke kamar dulu, mau lihat Rayi," izin Rey. Ia pun bergegas menemui istrinya.
Sepuluh menit kemudian, Rey turun menghampiri mamanya.
"Istrimu itu bisa mengurus anak atau tidak, sih?"
"Ma, tidak biasanya Rayi seperti ini. Mungkin karena Mama mau datang makanya dia rewel," jawab Rey asal.
"Jadi kau menuduh Mama pembawa sial, begitu?"
"Bukan," jawabnya lagi. "Dia tahu kalau Omanya yang cerewet, mengganggu hati ibunya," lanjutnya.
"Kau dan Raya sama saja, Mama mau pulang. Titip salam pada cucuku yang tampan itu!" Siska pun pergi setelah Rey mencium punggung tangan mamanya.
-
Gedung Arta Fashion
Mawar Lestari melemparkan senyuman kepada Devan yang kebetulan bertemu di parkiran mobil. Namun, pria itu membuang wajahnya dan bersikap cuek.
"Cih, sombong sekali dia!" batin Mawar.
"Dia memang seperti itu," bisik manajernya.
"Apa sih' yang dilihat Devan Artama dari Clarissa Ayumi?"
"Aku tidak tahu, urusan hati orang lain tak ada yang tahu. Jangan berpikir untuk menggoda suami orang," manajer Mawar mengingatkan.
"Mana mungkin aku menggoda suami orang," ujarnya.
"Mana tahu kau tertarik?"
"Tidak ada yang lebih menarik dari kekasihku," jawab Mawar bangga.
"Terserah kau saja, cepat jalannya kita sudah terlambat!"
-
-
Intan sedang menikmati minuman yang ia pesan saat ulang tahun temannya di salah satu diskotik ternama di Kota A. Dia hadir seorang diri tanpa ditemani manajernya atau asistennya.
Dion juga hadir sebagai tamu undangan. Ia terus mengamati Intan yang berkali-kali menenggak minuman.
Dion mengakhiri minumnya setelah melihat Intan beranjak berdiri dan meninggalkan bangkunya. Wanita itu berjalan sempoyongan, dengan cepat ia bangkit.
"Kau mau ke mana?" tanya teman Dion.
"Aku mau pulang," jawabnya kemudian dengan cepat melangkah menyusul Intan.
Intan begitu sulit mencari mobilnya karena pandangan matanya mulai terasa buram.
"Mari aku antar pulang!" tawar Dion.
Intan segera menoleh ke belakang. "Kau siapa?"
Dion meraih tubuh Intan dan merangkulnya membawanya ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kau mau apa?" tanyanya. "Aku akan berteriak jika kau berani macam-macam," lanjutnya mengoceh.
"Jangan berisik!" pintanya. Dion pun melajukan kendaraannya ke apartemen Intan, tak lupa ia menelepon manajernya.
Sesampainya, Dion menyerahkan wanita yang sudah hampir tertidur kepada manajernya.
"Terima kasih, Dion. Kami tidak tahu kalau dia pergi ke sana seorang diri," ujarnya.
"Semoga saja para wartawan tidak tahu hal ini," harap Dion, kemudian ia berlalu.
......................
Media cetak dan online ramai memberitakan tentang Intan. Wanita itu tertangkap kamera berjalan sempoyongan dan dibopong seorang pria.
Clarissa menghela nafas setelah membaca berita yang ia baca di ponsel.
"Ada apa?" Devan menghampiri meja kerja istrinya.
"Kau lihat!" Clarissa menyodorkan ponselnya.
"Oh," ucap Devan singkat.
"Di berita nama perusahaan tetap dicantumkan," ujar Clarissa.
"Bukankah kau bilang dahulu jika berita sensasi begini mampu mendongkrak penjualan kita?"
"Ya, tapi di sini tertulis Intan mantan brand ambassador Arta Fashion mabuk dan satu mobil dengan seorang pria di duga keduanya mantan model perusahaan ternama yang sama," Clarissa membacakan isi berita.
"Maksudmu pria itu Dion Bastian," tebak Devan.
"Ya."
"Bagus dong, bukankah ini promosi juga?"
"Bagaimana kalau para wartawan menyerbu perusahaan kita lagi?" Clarissa khawatir.
Devan tertawa melihat kekhawatiran istrinya. "Kenapa kau begitu panik? Tenanglah sayang, tidak mungkin wartawan menyerbu kita. Bukan dirimu yang terlibat dalam foto itu," jelasnya.
Devan menyentuh kening Clarissa dengan jari telunjuknya. "Dia tidak memaksa dan dia juga paham dengan isi kontrak. Memangnya dirimu yang menangis dan mengejar-ngejar aku untuk tidak memutuskan kontrak."
"Hei, kenapa mengungkit masa lalu? Kau juga dahulunya mengejar aku karena penjualan menurun," Clarissa tak mau kalah.
"Iya, iya aku memang mengejarmu. Puas sekarang, kan?" Devan menarik pelan hidung istrinya.
Clarissa tersenyum tersipu malu. "Puas banget!"
-
-
Di tempat lainnya, Intan mengucek matanya dan melihat sekelilingnya, pakaian sudah terganti juga. Ia lantas duduk. "Siapa yang membawaku di sini?" gumamnya.
Ia bergegas turun lalu pergi ke dapur untuk mengambil air putih dan meminumnya.
"Kau sudah bangun?" tanya manajer Intan bernama Ayu, membuat sang model terkejut.
"Siapa yang mengantarkan aku pulang?"
"Semalam kau memang sangat mabuk, sampai tidak tahu wajah yang mengantarkanmu pulang."
"Tidak usah berbelit, katakan saja siapa yang mengantarkan ku pulang?"
"Rekan kerjamu sebagai model di Arta Fashion."
"Dion?"
"Ya," Ayu menarik kursi lalu menuangkan teh buatannya ke dalam cangkir.
"Kenapa bisa dia yang mengantarkan aku pulang?"
"Katanya dia di sana juga."
"Astaga, pasti aku sudah mengoceh yang aneh-aneh," Intan menjatuhkan tubuhnya di kursi lalu memegang kepalanya.
__ADS_1
"Katanya sih' selama perjalanan kau tidur saja," tutur Ayu.
Intan meraup wajahnya tampak frustasi.
"Dan hari ini, berita kau masuk di media!" Ayu menyodorkan ponselnya.
Intan membacanya lalu mengacak rambutnya.
"Berita menyinggung nama Arta Fashion, jika kau mabuk karena perusahaan memutuskan kontrak," jelas Ayu.
"Sial!" makinya.
"Salah satu cara, jika wartawan menanyakan ini kau harus menjelaskan masalah yang sebenarnya dan tentunya tentang kontrak itu."
"Aku akan mengklarifikasi berita ini," ujarnya. "Lalu Dion?" tanyanya.
"Di berita dijelaskan kalau pria yang bersamamu adalah Dion Bastian."
Intan menghela nafas pasrah.
"Aku sudah memasak sarapan, setelah makan pergilah mandi. Hari ini kau ada jadwal syuting drama," jelas Ayu.
"Astaga, aku lupa!" menepuk jidat.
"Waktu kau hanya dua jam saja, cepatlah!"
"Iya, ini aku akan bersiap. Makanannya di bawa saja, biar aku makan di mobil," perintahnya.
"Baiklah," ujar Ayu.
Dua jam kemudian, Intan telah tiba di lokasi syuting daerah pinggiran kota. Tampak beberapa artis sedang membaca naskah.
"Berita hari ini cukup heboh, berapa gelas yang kau minum?" tanya Karen lawan main Intan.
"Kau ini kayak tidak pernah minum saja," jawabnya.
"Apa benar kau diantar pulang Dion, mantan kekasihmu itu?" tanya Karen lagi.
"Jangan bahas dia lagi, aku mau baca naskah. Pergilah, sekarang waktunya giliranmu!" usir Intan.
Setengah jam kemudian giliran Intan pengambilan gambar, waktunya ia memulai aktingnya.
"Hentikan!" teriak sutradara.
"Kenapa berhenti, Pak?" tanya salah satu kru.
"Intan, konsentrasi!" pinta sutradara. "Fokus! Mimik wajahmu kurang menjiwai," lanjutnya.
Intan mengangguk.
"Ulangi!" perintah sutradara.
Beberapa menit kemudian Intan disuruh berhenti.
"Kenapa lagi?" tanya Intan.
"Harusnya aku yang bertanya? Kenapa denganmu? Apa berita hari ini membuat tak berkonsentrasi?" cecar sutradara.
"Tidak," jawab Intan.
"Istirahatlah, nanti kita lanjutkan lagi. Giliran yang lainnya," perintah sutradara.
Ayu mendekati Intan yang duduk. "Kau kenapa? Tidak biasanya seperti ini, apa karena berita itu atau Dion?"
"Kenapa bahas dia sih'?"
"Kalau tidak punya perasaan apa-apa lagi dengannya, kenapa kau jadi kepikiran?"
"Aku tidak memikirkannya," jawab Intan tegas.
"Baguslah kalau begitu, bacalah naskahnya lagi. Aku akan mengambilkan minumannya untukmu," Ayu bergegas pergi.
Sementara itu, Nikita tersenyum senang melihat berita Intan. "Tidak sia-sia juga aku memberikan informasi kepada para wartawan kalau dirinya ada diskotik itu."
__ADS_1