Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Meminta Bantuan Hilman


__ADS_3

Sebelum pulang kerja, Hilman memberikan laporan sesuai apa yang diminta oleh Presdir. "Tuan, ini ada beberapa nama calon model yang akan menggantikan Nona Clarissa!"


"Baca!" perintah Devan.


"Hah! Dibaca, Tuan?" Hilman mendelikkan matanya.


Devan menatap sekretarisnya itu, "Aku ingin kau menjelaskan prestasi mereka!"


"Sekarang, Tuan?" Hilman melihat arlojinya.


"Iya, kenapa? Kau ingin pulang?"


Hilman memaksakan tersenyum. "Tidak, Tuan. Mana mungkin saya pulang kalau anda saja belum pulang," tuturnya.


"Baguslah kalau begitu, kau lembur hari ini!" ucap Devan.


"Apa, Tuan?" tanya Hilman.


"Lembur!" jawab Devan. "Apa kau tidak suka aku menyuruhmu lembur?" Ia balik bertanya.


"Suka, Tuan!" jawab Hilman terbata.


"Duduklah dan cepat bacakan!" perintah Devan.


Hilman akan membaca satu persatu nama model dan prestasinya termasuk jumlah pengikutnya di media sosial. Sementara itu Devan sedang memainkan ponselnya.


Baru membacakan satu nama, notifikasi pesan di ponselnya. Hilman membukanya dan melihatnya lalu menutup kembali. Ia melanjutkan membaca lagi dan menjelaskan.


Saat menjelaskan model yang kedua, ponsel Hilman berdering dan melihat nama penelepon. Ia menoleh ke arah Devan. "Tuan, apa boleh saya menjawabnya?" tanyanya.


"Ya."


Hilman pun mengangkat ponselnya, baru di tempelkan di telinga tiba-tiba ia menjauhinya lalu ia berbicara akan bertemu nanti malam.


Devan yang mendengar percakapan sekretaris pribadinya angkat bicara. "Apa kau memiliki janji?"


"Sebenarnya sepulang kerja ini saya akan berkencan dengannya, tapi anda menyuruh lembur. Jadi terpaksa diundur, namun dia marah-marah," jawab Hilman sedih.


"Apa sebegitu repot memiliki kekasih?" tanya Devan polos.


"Hah!"


"Kenapa? Apa salah aku bertanya?"


"Tidak, Tuan. Punya kekasih tidak repot, yang repot itu kalau suka dengan seseorang tapi rasa kesalnya dilimpahkan ke orang lain," jawab Hilman.


"Kau mengejekku?" Devan tak senang.


"Bukan begitu, Tuan."


"Lalu apa?" tanya Devan dengan lantang.


"Nona Clarissa semakin dekat saja 'ya dengan Tuan Hiko Andreas," ucap Hilman sengaja.


"Kenapa kau membahas mereka?" Devan semakin tak suka.


"Tadi pagi saya baca berita tentang mereka Tuan," jawab Hilman.


"Aku tak suka kau membicarakan mereka, cepat lanjutkan pekerjaanmu!" titah Devan.


"Baik, Tuan!" Hilman kembali membaca.

__ADS_1


Karena ucapan Hilman membuat Devan jadi kepikiran dan tidak konsentrasi.


Hilman selesai membacakan keempat calon model yang akan menjadi kandidat pengganti Nona Clarissa sebagai brand ambassador Arta Fashion. "Tuan, saya sudah selesai. Menurut anda mana yang cocok?"


Devan berdiri dari kursinya, meraih kunci dan jasnya. "Besok lagi kau jelaskan!" ucapnya.


"Besok, Tuan?" Hilman bingung.


"Saya tadi tak mendengarnya, jadi besok ulangi lagi!" perintahnya.


"Astaga!" Hilman menepuk jidatnya.


-


Malam harinya, Hilman yang sedang berkencan dengan kekasihnya mendadak menjadi ribut karena Presdir menyuruhnya untuk bertemu. Kekasih Hilman meninggalkan kafe dengan perasaan kesal.


Dengan perasaan jengkel, Hilman menemui atasannya itu. Wajahnya masih ditekuk saat ia tiba di kafe tak jauh dari kediaman keluarga Artama.


"Akhirnya kau datang?" Devan tersenyum lega.


"Ada apa, Tuan?" tanya Hilman ketus.


"Temani aku bertemu dengan Clarissa," ajaknya.


"Kenapa dengan saya Tuan?"


"Jadi dengan siapa? Orang kepercayaan ku cuma kau!" ungkapnya.


"Baiklah, Tuan!" ucap Hilman.


Kini Devan dan Hilman berada di dalam mobil sambil memantau apartemen Clarissa.


"Tuan, sampai kapan kita di sini?" tanya Hilman karena sudah sejam mereka memantaunya.


"Tidak, Tuan!" jawab Hilman.


"Kata orang suruhan ku, Clarissa keluar dari apartemennya dua jam yang lalu. Jadi aku yakin kalau dia sebentar lagi pulang," ucap Devan.


"Tuan, anda sampai mengirim mata-mata hanya untuk mencari tahu informasi tentang Nona Clarissa. Kenapa tidak diungkapkan saja?" celetuk Hilman.


"Kenapa kau malah menasehati ku?"


"Astaga, salah lagi!" jawab Hilman geleng kepala. "Tuan, rasanya sakit sekali kalau kita memendam perasaan. Apalagi jika kita tahu orang yang kita cintai itu dekat dengan orang lain," Hilman sengaja melebih-lebihkan ucapannya dan gaya bicaranya.


"Bisa tidak kau tutup mulutmu?" sentak Devan.


Hilman menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


-


Dua jam berlalu, mobil Clarissa juga belum tampak di area apartemen. Sementara itu, Hilman lagi memejamkan matanya di kursi sopir.


Devan mengangkat teropong kecil miliknya, ia mengarahkannya pada mobil yang baru memasuki halaman parkir apartemen. Ia segera membangunkan sekretaris pribadinya.


Hilman tersentak di bangunkan, mengucek matanya. "Ya, Tuan. Ada apa?"


"Itu dia, cepat temui!" perintahnya.


"Saya harus berbicara apa dengan Nona Clarissa?" tanya Hilman.


"Terserah!" jawab Devan.

__ADS_1


"Hah!"


"Sudah cepat sana!" titahnya.


Hilman turun dan berlari kecil menghampiri Clarissa dan kedua temannya yang baru saja keluar dari mobil. "Nona!" panggilnya.


Ketiga wanita itu menoleh ke arah suara. "Hilman, kenapa di sini?" tanya Clarissa.


"Saya perlu berbicara dengan Nona Clarissa," jawab Hilman.


Clarissa menatap kedua temannya dan mereka mengangguk mengiyakan.


Hilman dan Clarissa mengobrol sedikit menjauh dari Yuna dan Tina.


"Katakan kau ingin bicara apa?" tanya Clarissa.


"Nona, tolong saya. Hanya Nona yang bisa menolongnya!" pinta Hilman dengan wajah sedih.


"Tolong apa?"


"Kembalilah ke Arta Fashion, agar hidup ini tenang. Saya harus meminum beberapa vitamin agar tetap fit menuruti permintaan Presdir. Semenjak Nona keluar dari sana. Hidup saya tersiksa," ungkap Hilman memegang kepala.


"Presdir menyiksamu?" tanya Clarissa polos.


Hilman mengangguk.


"Dia memukulmu?"


"Tidak, Nona. Cuma dia menyuruh saya melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal," jawab Hilman menunjukkan ekspresi ingin menangis.


"Memang dia menyuruh apa?" Clarissa penasaran.


"Bisakah Nona ikut saya?" Hilman balik bertanya. "Saya tidak akan berbuat jahat," ia berusaha menyakinkan.


Clarissa melihat ke arah temannya. "Aku pergi ke sana sebentar!" tunjuknya pada sebuah mobil.


Kedua temannya mengiyakan. Clarissa mengikuti Hilman berjalan ke arah mobil yang terparkir menjauh dari apartemennya.


Devan mendelikkan matanya saat melihat Clarissa mendekati mobil yang ia tumpangi, perasaannya kini jadi tak menentu. "Kenapa Hilman membawanya ke sini?" batinnya bertanya.


Sesampainya di mobil, Hilman membukakan pintu untuk Clarissa. "Silahkan masuk, Nona. Tuan Devan di dalam!"


Clarissa akhirnya mau menemui mantan rekan bisnisnya itu. Devan yang gugup berusaha bersikap tenang dan dingin.


Devan tak berani berbicara apalagi menatap wanita yang ada disampingnya itu.


"Sampai kapan kita saling diam begini, Tuan?" Clarissa bersuara setelah sepuluh menit saling diam.


"Kenapa kau di sini?" tanya Devan tetap mengarahkan pandangannya ke depan.


Clarissa menarik sudut bibirnya, "Seharusnya saya yang menanyakan itu. Kenapa anda berada di apartemen ku?"


"Memangnya kenapa?"


"Apa ada keluarga, saudara atau teman anda di sini?" Clarissa balik bertanya.


Devan hanya diam tak menjawab.


"Kenapa diam? Apa ada yang perlu dibicarakan? Jika tidak aku akan pergi tidur!"


"Tunggu!" Devan menatap Clarissa. "Kembalilah lagi di Arta Fashion," pintanya.

__ADS_1


"Tidak bisa!"


__ADS_2