
Devan datang hari ini ke kantor seorang diri tanpa ditemani Clarissa yang sedang mengambil cuti kerja. Semenjak istrinya hamil, ia akan datang lebih lama dan pulang lebih cepat.
Seperti biasa Hilman akan menunggu dirinya di parkiran, sebelum memasuki gedung Arta Fashion. Pria itu berjalan di samping Presdir.
Intan yang seorang diri baru saja keluar dari lift berjalan tergesa-gesa hingga menabrak Devan, membuat dirinya hampir terjatuh beruntung seseorang menahan tubuhnya.
Devan yang tangannya menyentuh kedua lengan Intan segera melepasnya dan menatap tak suka, Hilman yang sadar bergegas menyemprotkan kedua telapak tangan Presdir dengan hand sanitizer.
Intan menundukkan kepalanya ketakutan, "Maafkan saya, Tuan!"
Raya yang kebetulan datang melihat peristiwa tadi, ia pun menghampirinya. "Kau sengaja ya' menggoda Presdir?"
Devan melangkah meninggalkan kedua wanita itu, ia mengisyaratkan kepada sekretaris pribadinya dengan tatapannya agar mengurus mereka. Supaya tidak menimbulkan kerusuhan di dalam gedung.
"Siapa yang menggoda?" tanya Intan memang tak melakukannya.
"Kau sengaja menabrak tubuhmu itu, agar bisa menyentuh Presdir, kan?" Raya terus menyolot.
"Nona-nona, tolong jangan buat keributan di sini!" Hilman menatap kedua wanita itu secara bergantian.
"Terserah Nona mau bicara apa!" Intan bersiap pergi tapi tangannya ditarik Raya. "Apa lagi sih, Nona?" menatap malas.
"Jika berani menggoda suami Clarissa, kau tahu akibatnya 'kan?" Raya mengancam.
"Iya aku tahu, Nona Raya!" jawab Intan.
"Nona Raya, cukup!" Hilman berkata pelan lalu ia mengedarkan pandangannya karena karyawan mulai berkumpul.
"Kenapa kalian di sini?" Raya melihat sekelilingnya. "Ini bukan tontonan, kerjakan pekerjaan kalian!" sentaknya.
__ADS_1
Karyawan yang melihat perdebatan kedua wanita itu membubarkan diri.
Raya melepaskan genggamannya, "Pergilah!"
"Dari tadi aku juga mau pergi, dasar wanita aneh!" ledek Intan kemudian berlalu.
"Hei, apa kau bilang?" Raya sedikit berteriak.
"Nona, suami anda di sini!" ucap Hilman.
Raya mendelikkan matanya lalu membalikkan badannya dan menampilkan senyum terindahnya. "Hei, sayang!" mengangkat tangan kanannya menyapa suaminya.
"Sejak kapan di sini?" Rey mendekati istrinya.
"Baru saja," jawab Raya.
"Saya permisi, Tuan, Nona!" Hilman pun berlalu.
"Bagaimana aku tidak galak? Wanita penggoda itu mencoba merayu Devan," omelnya.
Mereka berdua berjalan beriringan ke ruangan Rey.
"Kau tahu bagaimana sifat Devan, saudaramu itu saja sulit menaklukkannya. Lagian Devan juga pria yang susah jatuh cinta," tutur Rey.
"Jadi, kau pria yang mudah jatuh cinta. Maksudnya begitu?" sindir Raya.
"Bukan begitu, sayang. Intan juga sudah berjanji, dia takkan berani mengganggunya."
"Kau pasti akan tergoda jika dirayunya," sindirnya lagi.
__ADS_1
"Astaga, sayang. Cukup berpikiran yang aneh!" Rey berusaha tetap bicara lembut.
"Kau dari muda adalah pria yang suka memainkan hati para wanita," ujar Raya.
"Tapi itu 'kan dahulu," Rey tersenyum.
"Awas saja kalau sekarang masih berani," Raya menggertak suaminya.
"Memang apa yang akan kau lakukan jika aku berani melanggarnya?" Rey membuka pintu ruangannya.
"Aku akan melarangmu masuk ke kamar dan menemuiku."
"Apa kau yakin bisa tidur sendirian?" Rey menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Yakin bisalah," jawab Raya percaya diri.
"Ya, sudah kalau begitu besok malam kau tidur sendirian," Rey tersenyum memancing.
"Memangnya kau mau ke mana?" Wajah Raya mendadak sedih.
"Aku ada pekerjaan di kota L menemani papa."
"Tidak lama 'kan di sana?"
"Paling lama tiga hari," jawab Rey. Berdiri di depan istrinya.
"Ya sudah kalau memang ada urusan pekerjaan, lagian juga bersama papa. Pasti kau tidak akan berani berbuat yang aneh."
"Ada papa atau tidak, suamimu ini pria yang setia," membanggakan diri.
__ADS_1
"Ya, aku percaya padamu," ujar Raya. "Ini aku bawakan makan siang untukmu kebetulan lewat sini," menyodorkan wadah makanan yang sedari tadi ia pegang.
"Terima kasih, sayang." Rey mengecup pucuk kepala istrinya.