Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Masih Menutupi


__ADS_3

Sebulan berlalu, Clarissa kembali menjalankan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kecelakaan.


Ia hari ini melakukan pemotretan di studio Arta Fashion. Devan selalu ada menemani kekasihnya itu. Selesai pemotretan mereka makan siang bersama.


Berita kedekatan mereka, tersebar di seluruh Arta Fashion. Namun, keduanya selalu menyangkal termasuk ketika dikejar para wartawan.


"Van, apa Oma sudah tahu hubungan kita?"


"Aku belum memberitahunya," jawab Devan.


"Sampai kapan menyembunyikan hubungan kita?"


"Akan ada waktunya, kesehatan Oma sedang tidak baik."


"Apa kau masih mengharapkan gadis itu?" tanya Clarissa.


Devan meraih tangan kekasihnya, lalu mengelus telapak tangannya. "Awalnya ku berharap dia, namun kau berhasil mencuri hatiku!"


Clarissa tersenyum tipis, "Seandainya kalau waktu itu aku menyerah. Apa kau masih mengejar dia?"


"Ya," jawab Devan.


"Aku jadi penasaran seperti apa sih' gadis kecil yang sudah mencuri hatimu?"


"Tentunya dia sangat lucu dan baik, dia dan ibunya..."


Tiba-tiba ponsel Clarissa berbunyi, ia mengangkat dan menjawabnya. "Aku akan ke sana, Ibu yang kuat 'ya!" lalu ia menutup teleponnya.


"Apa yang terjadi?"


"Paman Ardian tiba-tiba jatuh dan tak sadarkan diri, bisakah kau menemaniku ke sana?" pinta Clarissa.


"Bisa, ayo kita ke sana!" ajak Devan.


-


-


Rumah Sakit di Kota B


"Bagaimana keadaan Paman, Bu?" tanya Clarissa saat berada di dalam kamar rawat Ardian.


"Belum sadar juga, Ibu takut Clarissa!" Ia memeluk putrinya.


"Bu, harus tenang. Semua akan baik-baik saja, Rissa yakin kalau Paman mampu melewatinya," ucap Clarissa.


Claudia mengangguk pelan.


"Aku akan kseluar membeli makanan," ucap Raya yang sedari tadi duduk di samping kiri Ardian. Ia beranjak dari kursinya dan melangkah keluar.


"Ya," sahut Claudia pelan.


"Bagaimana dengan Rara dan Riri, Bu?" Clarissa menanyakan kabar kedua adiknya itu.


"Mereka ingin menjaga Papanya, namun Ibu melarangnya. Besok, mereka ada ujian di sekolahnya."


"Aku akan ke rumah untuk melihat mereka, Ibu yang sabar." Clarissa memberikan nasehat. "Kami pamit, Bu!" ucapnya.


"Semoga Paman baik-baik saja, Tante. Saya permisi!" pamit Devan.


"Terima kasih," ucap Claudia lirih.


-

__ADS_1


Hari menjelang sore, mobil Devan kini memasuki halaman rumah keluarga Ardian. Mereka berdua pun turun, dua gadis kecil berlari menghampiri Clarissa dan memeluknya.


"Kakak, Papa pingsan!" ucap Rara.


"Tadi, kakak sudah ke rumah sakit. Kalian tenanglah dan berdoa, semua akan baik-baik saja!" Clarissa menguatkan kedua adiknya itu.


"Dia siapa, Kak?" tanya Riri menunjuk Devan.


"Dia teman Kakak," jawab Clarissa.


"Hai!" Devan melambaikan tangannya ke arah dua gadis tersebut.


"Oh, kami seperti mengenalnya. Bukankah dia yang sering muncul di berita dengan Kak Rissa?" tanya Rara.


"Ya, dia bos Kakak juga." Jawab Clarissa.


"Jadi, Kakak bekerja dengannya?" tanya Riri.


"Ya," jawab Clarissa. "Apa kalian sudah belajar?" tanyanya.


"Belum, Kak." Jawab keduanya.


"Ayo, kakak temani kalian belajar!" ajak Clarissa.


Clarissa menemani dua adiknya belajar, sedangkan Devan duduk di sofa sambil sesekali memainkan gawainya. Tak lupa ia dibuatkan minuman khusus oleh Clarissa.


Sejam ia menemani adiknya belajar, ia lalu pamit pulang dan memberi tahu kepada Ibunya jika ia sudah bertemu dengan Rara dan Riri.


Jam 7 malam mereka kembali ke Kota A, membutuhkan waktu sejam lebih untuk sampai tujuan. Karena lelahnya, akhirnya Clarissa tertidur.


Jam di arloji menunjukkan pukul hampir jam 9 malam, mereka tiba di apartemen. "Rissa, sudah sampai!" Devan membangunkannya.


Clarissa terbangun karena tepukan lembut di pipinya. "Maaf, aku jadi ketiduran!" ia mengucek matanya.


"Kau sangat lelah sekali!" Devan memegang lembut pipi Clarissa. "Beristirahatlah, besok masih ada pekerjaan yang menunggu!" ucapnya.


"Selamat malam!" ucap Devan dan Clarissa turun dari mobil kekasihnya.


...----------------...


Keesokan paginya, Oma Fera menanyakan di mana Devan semalam. Ia mengatakan kalau menemani Clarissa bertemu dengan orang tuanya.


"Kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, kan?" tanya Oma Fera.


"Tidak, Oma!"


"Dia dan Ibunya sama saja," ucap Fera.


"Dia tidak seburuk itu, Oma. Ibu Clarissa juga menikah dengan suaminya saat keduanya tidak terikat pernikahan dengan orang lain," tutur Devan.


"Tapi, kau tetap tidak boleh terlalu dekat dengannya!" Fera mengingatkan cucunya itu.


Devan tak menjawab dan segera mengakhiri sarapan paginya.


Sementara itu, Ardian kini dirujuk ke rumah sakit di Kota A yang fasilitasnya lebih lengkap. Raya yang harus bolak balik dari kota tempat tinggalnya ke rumah sakit.


Meminta tolong Clarissa tidak mungkin karena dia ada pekerjaan dan sudah menandatangani kontrak. Beberapa pekerjaan juga telah mengantri karena kecelakaan kemarin jadi jadwal diundurkan.


Rey yang saat itu juga di rumah sakit yang sama dengan papanya Raya. Mereka sama-sama sedang melakukan pembayaran di kasir.


"Kau di sini juga, Nona Raya!" sapa Rey.


"Rey!"

__ADS_1


"Siapa yang sakit?" tanya Rey.


"Papaku," jawab Raya. "Kenapa kau di sini juga?" lanjutnya bertanya.


"Mama juga di rawat di sini," jawabnya.


"Pasien atas nama Siska," panggil pegawai bagian administrasi.


"Ya, Suster!" Rey pun berdiri di ikuti Raya.


"Saya mau membayar biaya perobatan pasien atas nama Ardian," ucap Raya pada bagian administrasi.


"Sebentar ya, Nona!"


Setelah pegawai rumah sakit melayani Rey, kini ia beralih pada Raya dan pria itu kembali duduk di kursi pengunjung.


Selesai melakukan transaksi pembayaran, Rey pun berdiri berjalan bersama sambil mengobrol.


"Apa Clarissa tahu jika Papamu di rawat di sini?" tanya Rey.


"Tahu, tadi malam juga ke sini dengan kekasihnya," jawab Raya.


"Kekasihnya? Siapa?"


"Kau ini masa bekerja di Arta Fashion tapi tidak tahu jika Presdir dekat dengan sang artis," celetuk Raya.


"Aku benar-benar tidak tahu, karena ku pikir itu hanya gosip saja!"


"Mereka hampir sering bersama, bahkan saat Papa di rawat di Kota B mereka juga datang," ungkap Raya.


Mendengar penjelasan Raya, pria itu pun terdiam.


"Jangan bilang kalau kau cemburu?" tuduh Raya.


"Siapa yang cemburu?"


"Kau 'kan juga pernah di beritakan dengan Clarissa," ujar Raya.


"Ya, tapi Mamaku tak menyetujuinya," ucap Rey.


"Tapi, aku senang jika Clarissa dengan pria itu walaupun dia sedikit aneh."


"Kau menyetujui hubungan mereka?"


"Ya, kenapa tidak?" Raya menatap Rey.


"Hmm, aku duluan 'ya. Semoga Papamu cepat sehat, sampai jumpa!" Rey berjalan cepat ke ruangan mamanya.


Raya pun kembali ke ruangan papanya, di sana juga ada datang Clarissa yang datang bersama Yuna dan Tina.


"Aku tadi baru saja berjumpa dengan Rey," ucap Raya.


"Tuan Rey Arkana maksudmu?" tanya Clarissa.


"Ya," jawab Raya.


"Sedang apa dia di sini?" tanya Yuna.


"Mamanya sakit," jawab Raya.


"Lebih baik kita pulang saja, kenapa aku begitu tak suka dengan wanita itu," bisik Tina pada Clarissa.


"Paman, Raya, maaf ku tak bisa berlama-lama," ucap Clarissa.

__ADS_1


"Ya, tidak apa-apa Rissa," ujar Ardian pelan.


"Kalau begitu, aku pergi. Cepat sehat, Paman!" Clarissa dan kedua temannya pun buru-buru meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2