
Clarissa mendekap tubuh suaminya yang sudah tertidur. "Van, aku lapar!" rengeknya manja.
"Memangnya ini jam berapa?" Devan mengucek matanya dengan dua jemarinya.
"Jam 1 pagi," jawabnya.
"Tadi kita sudah makan malam, tidak biasanya jam segini kau lapar," Devan bangun kemudian duduk.
"Tapi aku sangat lapar, Van." Clarissa duduk disebelah suaminya.
"Kau makan apa?"
"Udang goreng."
"Tidak salah? Kau alergi udang," Devan mengingatkan istrinya.
"Tapi aku mau udang, Van!" rengeknya.
"Rissa, kau tak bisa makan udang. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu!" tolak Devan tegas.
"Van, tolonglah. Aku janji tidak makan banyak," mengangkat dua jari di dekat wajahnya.
"Baiklah, aku akan suruh pelayan membuatnya!" Devan menyibak selimutnya.
"Aku mau kau yang membuatnya," Clarissa menampilkan senyumnya.
"Aku tidak bisa memasak," ungkapnya.
"Aku akan memberikan resepnya, kau tinggal mengikuti arahan dariku!" Clarissa menunjukkan wajah polosnya.
"Baiklah, ayo turun!" Devan turun dari kemudian ke dapur diikuti istrinya.
__ADS_1
Sesampainya di dapur Devan memakai apron yang bersih, memakai sarung tangan dan masker. Ia membuka lemari pendingin lalu mencari udang, setelah mendapatkan yang diinginkannya kemudian ia keluarkan. Devan malah memandangi udang yang tersimpan dalam wadah.
"Cepat kerjakan, sayang. Jangan dilihat saja!" protes Clarissa.
"Aku tidak bisa membersihkannya!" Devan berkata jujur.
"Astaga, jadi harus bagaimana?" Clarissa tampak menunjukkan wajah murung.
Devan lalu berjalan ke arah kamar para pelayannya, ia mengetuk pintu salah satu asisten rumah tangga. Tak lama seorang wanita berusia 30-an keluar dengan mata masih menahan kantuk.
"Ada apa, Tuan, Nona?" tanyanya.
"Istriku ingin makan udang, tolong kau bersihkan!" perintah Devan.
"Bukankah Nona Clarissa alergi udang, Tuan?" pelayan tersebut menatap heran istri majikannya.
"Aku juga tidak tahu, cepat bersihkan!" titahnya.
"Baik, Tuan." Pelayan tersebut bergegas ke dapur dan mulai membersihkan udang.
Selesai membersihkan, pelayan menyerahkan piring yang berisi udang yang dibersihkan. "Ini, Tuan!"
"Kau tetap di sini!" perintahnya pada wanita itu dan pelayan tersebut mengiyakan.
Devan mulai beraksi, ia menaruh bawah putih bubuk dan lada bubuk. Lalu mengaduknya dengan sendok. Setelah itu ia memandangi kompor. "Bagaimana cara menghidupkannya?"
Pelayan wanita mendekatinya lalu menghidupkan kompor meletakkan belanga kemudian memberi sedikit mentega.
Devan kini berada di depan kompor, ia mengambil udang menggunakan capitan dan memasukkannya kedalam belanga dengan penuh hati-hati.
Dalam memasak udang, ia sampai mengatur jarak antara dirinya dengan kompor. Aksi yang dilakukan Devan membuat Clarissa dan pelayan mengulum senyum.
__ADS_1
Akhirnya setengah jam kemudian, udang goreng permintaan istrinya selesai di masak. Devan menyajikannya di meja makan.
Dengan semangat Clarissa mengambil seekor udang lalu menyantapnya. Devan yang melihatnya merasa cemas dan khawatir.
Clarissa tersenyum menatap suaminya kemudian berkata, "Aku sudah kenyang!"
"Hah," Devan menyipitkan matanya. "Kau cuma makan satu saja?" menatap udang lalu kembali menoleh ke arah istrinya.
"Iya, sayang!" jawab Clarissa tanpa bersalah.
"Aku sudah capek memasak hanya makan seekor saja. Apa kau ingin mengerjai suamimu ini?"
Clarissa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Cepat makan lagi!" perintah Devan.
"Tidak mau, kau saja yang memakannya!" Clarissa mengambil udang menggunakan tangan lalu mengarahkannya ke mulut suaminya.
"Aku tidak lapar!" Devan menjauhi wajahnya.
"Tidak mungkin ini dibuang?" tanya Clarissa.
Devan membawa piring berisi udang yang belum disentuh ke dapur, lalu memberikannya kepada pelayan yang tadi membantunya.
"Kenapa diberikan kepada saya, Tuan?" menatap heran.
"Istriku sudah kenyang, makanlah!" jawabnya.
"Terima kasih, Tuan!" pelayan membawa sepiring udang ukuran besar yang berisi 15 ekor lagi ke dalam kamarnya dan asisten lainnya.
...ΩΩΩ...
__ADS_1
Terima Kasih Yang Masih Setia Membaca 🌹
Semoga Tidak Bosan 😊