
Acara peluncuran produk pun dilaksanakan malam ini, sesuai permintaan Clarissa yang menginginkan salah satu pengisi acara ada penyanyi Mawar Lestari.
Acara dilaksanakan tepat pukul tujuh malam, seluruh tamu undangan hadir termasuk Devan dan Oma Fera. Keduanya duduk di kursi paling depan bersama dengan wakil direktur televisi, media elektronik yang menayangkan secara langsung acara tersebut.
Clarissa berjalan di atas panggung dengan begitu anggun diapit dua orang model wanita ia menjinjing produk baru yang ditawarkan Arta Fashion.
Tak hanya itu, desainer tas juga berada di atas panggung di samping Clarissa. Arta Fashion hanya mengeluarkan tas dengan produksi terbatas hanya ada 1000 buah.
Acara yang berlangsung selama sejam itu pun berakhir, para undangan meninggalkan gedung stasiun televisi. Devan menuntun Oma Fera menuju mobilnya, sementara itu Clarissa memilih meninggalkan gedung dari pintu belakang agar tidak bertemu dengan Devan.
"Apa kau tidak lihat ekspresi Presdir saat melihatmu di atas panggung?" Tanya Tina.
"Mana ku perhatikan, apa lagi ada Oma Fera di sampingnya," jawab Clarissa malas.
"Sepertinya ia menyesal menyakitimu," ujar Tina lagi.
"Aku lagi malas membahasnya," Clarissa memilih mengalihkan wajahnya ke jalan.
Sesampainya di apartemen, ia mengganti pakaiannya dan membersihkan riasan di wajahnya ia membuka ponselnya dan membalas komentar para penggemarnya. Salah satu cara menghilangkan rasa marah dan kecewanya pada Devan adalah berkomunikasi dengan para penggemar setianya, biasanya Tina dan Yuna yang rajin membalasnya. Clarissa hanya mengucap saja, kedua temannya yang menulis di kolom komentar.
Malam ini, ia memposting foto masa kecilnya seorang diri dengan menggunakan kalung pemberian ayahnya dengan caption 'Rindu Ayah'.
Sontak kolom komentar dibanjiri para penggemarnya yang ikut merasa sedih seperti idolanya yang begitu merindukan ayahnya. Beberapa komentar dukungan dan semangat mampu membuatnya tersenyum. Setelah itu, ia memejamkan matanya.
__ADS_1
Devan yang menjadi salah satu pengikut Clarissa di media sosial mendapatkan notifikasi di ponselnya, ia melihat postingan masa kecil kekasihnya itu.
Matanya membulat saat menatap kalung yang digunakan Clarissa, ia membuka laci nakas dan mencocokkan benda tersebut. "Kenapa kalung yang dipakai Clarissa sama dengan kalung ini?" tanyanya lirih.
"Apa mungkin mereka orang yang sama?" gumamnya.
......................
Tiga hari setelah acara itu, seluruh produk habis terjual. Padahal, Arta Fashion tidak memproduksi banyak namun karena permintaan pasar membuat mereka memproduksi lagi. Bahkan, beberapa pemesan siap menunggu.
Clarissa kembali mendatangi Arta Fashion untuk melakukan pemotretan. Foto kali ini akan dipasang di spanduk dan baliho jalan kota.
Selesai pemotretan Hilman datang menghampirinya. "Nona Clarissa diminta Tuan Devan untuk menemuinya!"
Clarissa melihat kedua temannya yang menatap ke arahnya. "Maaf, tidak bisa. Aku buru-buru, jika ingin bertanya tentang urusan pekerjaan bicara saja dengan manajerku," tolaknya.
"Sekali lagi, maaf!" Clarissa menenteng tasnya keluar dari studio diikuti kedua temannya.
Hilman menghela nafas kasar, ia berjalan sambil berdoa semoga saja Presdir tidak memarahinya.
"Maaf Tuan, Nona Clarissa menolak bertemu. Dia ada urusan pekerjaan lainnya," ucap Hilman dengan kepala sedikit menunduk.
"Sudah tidak apa, kembalilah bekerja!"
__ADS_1
Hilman keluar dengan perasaan lega.
Devan berdiri dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di ruangannya memikirkan cara agar ia bisa berbicara pada Clarissa.
Akhirnya ia menemukan cara bertemu dengan Clarissa.
-
-
Malam harinya, ia memberanikan diri bertemu dengan Clarissa secara langsung di apartemennya.
Ia menekan bel berulang kali, lima menit kemudian pintu terbuka. Yuna, manajer Clarissa yang membukakan pintu tampak terdiam.
"Siapa Yuna?" tanya Tina yang datang ikut menghampiri tamu yang hadir, ia pun juga terdiam.
Clarissa yang sedang menikmati mie di meja makan merasa heran, kedua temannya dari tadi membukakan pintu tapi tak kembali ke ruang makan.
Ia pun menyusul kedua temannya, "Siapa yang bertamu malam....." ucapan Clarissa berhenti lalu terdiam melihat sosok pria yang ia selalu hindari berdiri di depan pintu.
"Sepertinya gula sudah habis, Tina temani aku ke minimarket depan!" ajak Yuna.
"Rissa, aku pergi dulu mau temani Yuna beli gula," Tina mengikuti usulan Yuna. Mereka berdua keluar dari apartemen dan tak mau mengganggu obrolan dua anak manusia itu.
__ADS_1
Setelah kedua temannya pergi, Clarissa mulai berbicara. "Ada apa ke sini?"
Devan menunjukkan sebuah perhiasan kepada Clarissa, "Apa kau kenal dengan kalung ini?"