
Dua minggu kemudian....
Hilman memberikan beberapa laporan yang harus ditandatangani Devan, sembari menunggu Presdir memeriksa berkas-berkas tersebut. Hilman memberanikan diri untuk berbicara.
"Apa Tuan sudah membaca berita pagi ini?" tanya Hilman sedikit takut.
"Berita apa?" Devan masih fokus membaca laporan.
"Apa benar anda dan Nona Clarissa batal menikah?"
Devan mendongakkan kepalanya dan menatap Hilman. "Apa sekarang pekerjaanmu mengurusi hidup orang lain?"
"Maafkan saya, Tuan. Tapi berita pagi ini seperti itu," jawab Hilman.
"Saya mau lihat," pinta Devan.
Hilman membuka ponselnya dan menunjukkan berita tentang Clarissa lalu ia menyodorkannya kepada Presdir.
Devan membaca berita tersebut dan mengeraskan rahangnya. Media online mengatakan Clarissa batal menikah dengan Bos Arta Fashion dan kepergok menikmati liburan di Jepang bersama pria lain.
Devan meletakkan ponsel Hilman secara kasar di atas meja membuat Hilman membelalakkan matanya, ia segera mengambilnya dan mengelusnya lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
"Mungkin sebentar lagi para wartawan akan menyerbu gedung ini, Tuan!"
"Aku tidak mau melayani mereka, kau saja yang mengurusnya," ucap Devan kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Apa berita itu benar, Tuan?" Hilman begitu penasaran.
"Ya," jawab Devan membuat Hilman tak percaya.
Ponsel Hilman berdering lalu ia menatap Presdir meminta izin untuk menjawabnya dan anggukan pelan mengatakan kalau Devan mengizinkannya.
Selesai menerima telepon, Hilman kembali berbicara. "Tuan, para wartawan menunggu klarifikasi dari anda tentang berita ini!"
"Aku tidak akan berbicara pada media, kau ke bawah dan urus mereka. Aku tak mau mereka membuat keributan di kantor ku," ucap Devan memerintah.
Akhirnya Hilman ke bawah dan menemui para awak media. Dia menerobos kerumunan para wartawan yang menunggu keterangan dari Presdir.
__ADS_1
Beberapa pertanyaan di lemparkan para wartawan kepada Hilman sebagai perwakilan Devan.
"Di mana Presdir Arta Fashion?"
"Dia sedang tidak bisa diganggu," jawab Hilman.
"Apa benar mereka membatalkan pernikahannya?"
"Hal itu saya tidak tahu."
"Tapi anda 'kan sekretarisnya?"
"Saya bukan asisten pribadinya, hanya sebagai asistennya di kantor saja."
"Apa benar pembatalan ini karena Clarissa memiliki pria lain?"
"Saya tidak tahu, kalian bisa bertanya pada manajernya saja," jawab Hilman. "Sudah cukup, ya!" Hilman mengatupkan kedua telapak tangannya kepada para wartawan.
Setengah jam kemudian beberapa wartawan mulai meninggalkan gedung Arta Fashion.
Sementara itu di kediaman Keluarga Rey, Siska begitu senang melihat berita Clarissa dan Devan gagal menikah.
"Sepertinya lagi bahagia, Ma?" tanya Papa Rey.
"Aku senang mendengar berita ini, Clarissa itu sama saja seperti ibunya. Akhirnya tanpa ku memisahkannya, mereka pisah sendiri," jawab Siska.
"Mama ini malah senang, bukan menguatkan keponakannya," protes suami Siska.
"Biarkan saja," ucap Siska santai.
Lain tempat di kediaman Martha, ia tersenyum puas melihat berita di ponselnya. "Kalian berdua tak boleh bahagia setelah apa yang kalian lakukan pada putriku," batinnya berucap.
"Lihat apa sih, Ma? Dari tadi senyum-senyum sendiri," Nikita menghampiri ibunya di ruang tamu.
"Ini berita Clarissa dan Devan gagal menikah."
"Wah, ini baru berita. Aku suka mendengarnya," ujar Nikita tersenyum.
__ADS_1
-
-
Malam harinya...
"Devan!" panggil Oma pada cucunya saat hendak naik ke lantai atas.
"Ada apa Oma?"
"Kenapa kabar kalian gagal menikah diketahui media?"
"Aku juga tidak tahu, kalau bukan Hilman yang mengatakannya."
"Jangan sampai berita ini berlarut-larut," ucap Fera.
"Hilman juga sudah bicara pada media tadi pagi," jelas Devan.
"Wartawan datang ke Arta Fashion?" tanya Fera.
"Ya, mereka ingin pernyataan dariku."
"Oma tak mau berita ini merugikan perusahaan kita," ujar Fera. "Apa Clarissa masih terikat kontrak dengan Arta Fashion?" tanyanya lagi.
"Iya, Oma. Tiga bulan lagi akan berakhir."
"Semoga saja wanita itu segera lepas dari Arta Fashion agar kau tidak selalu dibayangin dirinya."
"Apa Clarissa terlalu buruk di mata Oma?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Oma, Clarissa tak bersalah. Orang tuanya yang salah, lagian kedua orang tuaku juga sudah memaafkannya."
"Jadi, kau menyalahi Oma?"
"Tidak, Oma. Aku yang salah melepaskannya!"
__ADS_1
"Devan kau ingin kembali padanya?"
"Kalau itu bisa, sepertinya tidak mungkin apa lagi dia sudah memiliki pria lain," jawab Devan berlalu