
Intan berjalan ke arah studio tanpa mempedulikan ocehan Dion. Pria itu mempercepat langkahnya bersejajar dengan wanita yang akan dipasangkan di iklan.
"Sampai kapan bersikap licik seperti ini," Melirik Intan.
"Bukan urusanmu aku memakai cara licik atau tidak," ketusnya.
"Aku pikir Arta Fashion menggaetmu karena kau berprestasi ternyata kau merayu dan memohon padanya. Sangat rendah!" sindir Dion.
"Mimpi apa aku, kenapa harus dipasangkan dengan pria yang bisanya menghancurkan karir seorang wanita," balas menyindir.
Dion memegang lengan Intan. "Aku tidak pernah menghancurkan karirmu!" jelasnya dengan tegas.
"Kenapa kalian masih mengobrol?" Clarissa menghentikan perdebatan dua anak manusia itu.
"Kami akan bersiap-siap, Nona!" Dion menundukkan sedikit pandangannya.
"Cepatlah bersiap!" titah Clarissa. "Urusan pribadi, selesaikan di luar Arta Fashion!" lanjutnya.
Intan dan Dion bergegas mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian keduanya sudah berada di depan kamera.
Fotografer menginstruksikan gaya yang diinginkan. Clarissa duduk sembari mengamati sepasang model Arta Fashion.
Fotografer sampai mengatur gerak tubuh Intan yang sepertinya tidak mendapatkan feel dari Dion.
Clarissa berdiri dari kursinya. "Aku tidak tahu masalah kalian berdua, tapi di sini cobalah bersikap profesional. Arta Fashion membayar kalian mahal, jangan membuat perusahaan merugi dengan tingkah kalian!" omelnya.
"Maafkan kami, Nona!" Dion berkata sedangkan Intan memilih diam.
__ADS_1
"Ini sudah sejam, tapi satu foto pun tidak ada yang bagus!" gerutu Clarissa.
Intan dan Dion terdiam, keduanya kembali melakukan tugasnya.
Clarissa sampai memijit keningnya karena waktu yang cukup lama untuk pemotretan saja. Ia lantas meninggalkan studio lalu menyuruh Hilman untuk memantau kedua model dan pekerja.
Clarissa masuk ke ruangan suaminya dan dirinya dengan wajah lelah.
"Apa pemotretannya sudah selesai?"
"Belum, aku sangat capek. Mereka berdua sulit sekali diatur," keluhnya.
"Beristirahatlah," Devan mendekati istrinya dan menuntunnya di sofa.
"Aku sudah menyuruh Hilman mengawasi mereka," ujar Clarissa.
"Biarkan mereka saja yang mengurusnya, kau di sini temani aku," pinta Devan.
"Iya, aku tahu. Tapi kondisimu saat ini sedang tidak baik."
"Entah kenapa akhir-akhir ini, aku sering merasa lelah," keluh Clarissa.
"Mungkin pekerjaan di sini terlalu berat," tebak Devan.
"Tidak juga, Van. Aku pernah tidak tidur semalaman," ungkapnya.
"Sudah, jangan banyak bicara!" Devan merebahkan istrinya di sofa. "Besok kau di rumah saja," usulnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau!" tolaknya.
"Kalau kau masih seperti ini, bagaimana mungkin bisa bekerja?"
"Bagaimana kalau wanita itu menggodamu?"
"Kau yang menerimanya kembali, jangan salahkan dia kalau menggodaku," Devan berkata begitu dengan sengaja.
Clarissa memukul lengan suaminya. "Jadi kau ingin berpaling dariku?" memanyunkan bibirnya.
Devan tergelak melihat ekspresi cemburu istrinya.
"Jika dia berani macam-macam, aku tak segan akan menendangnya dari Arta Fashion!" Clarissa menunjukkan wajah galak.
"Apa kita pulang saja? Sepertinya tenaga kau akan habis jika mengomel terus," saran Devan.
"Ya sudah, kita pulang saja. Rasanya aku ingin tidur di kamar," Clarissa bangkit dari sofa lalu ia berdiri dipapah suaminya.
"Apa perlu aku temani tidurmu?" Devan tersenyum menggoda.
"Kau ingin aku dimarahi Oma karena telah membuat cucunya malas ke kantor," Clarissa menatap suaminya.
"Iya, aku tidak mungkin melakukan itu. Ayo, ku antar pulang!" Devan menggenggam tangan istrinya kemudian keluar ruangan.
Raya yang sedari tadi menunggu menghampiri saudaranya itu. "Rissa, kau mau ke mana?"
Clarissa dan suaminya menoleh ke arah Raya. "Aku mau pulang!"
__ADS_1
"Tapi kita belum bicara," ujar Raya.
"Bicara saja di rumah Oma," ajaknya.