
Sore harinya, Clarissa kini diperbolehkan pulang. Karena tidak ada luka yang serius. Beruntung pukulan benda itu tidak mengenai kepalanya. Berita Clarissa dianiaya tersebar di media tadi pagi.
Claudia ibu kandung Clarissa begitu mengkhawatirkan putrinya, ia berulang kali menghubungi Yuna. Para pencari berita dari kemarin sore sudah menunggu di depan rumah sakit untuk mencari tahu penyebabnya.
Perwakilan Dokter dari Rumah Sakit Kasih yang memberikan keterangan pada pers mengenai kondisi Clarissa.
Clarissa harus melewati pintu belakang agar bisa keluar dari rumah sakit tersebut.
-
Gedung Arta Fashion
"Tuan, Nona Clarissa hari ini sudah pulang. Apa anda tidak ingin menjenguknya?" tanya Hilman saat di ruangan Presdir.
"Kalau kau ingin menjenguknya, silahkan!" jawab Devan.
"Tuan Rey sore ini sudah berada di apartemen Nona Clarissa. Dia juga ikut menjemputnya," ucap Hilman memperhatikan mimik wajah Devan yang masih berkutat dengan laptop.
Devan menutup teleponnya, meraih jas dan kunci mobilnya. Hilman mengikuti langkah Presdir dengan cepat menuju parkiran.
"Tuan!" panggil Hilman dengan sopan, ia mensejajarkan tubuhnya.
"Kirimkan bunga dan cokelat ke apartemen Clarissa!" perintahnya.
"Sekarang, Tuan?" pertanyaan Hilman membuat langkah Devan terhenti lalu menatap tajam. "Baik, Tuan. Saya akan mengirimkannya sekarang juga!" ucap Hilman.
Devan melangkahkan kakinya kembali, ke arah parkiran. Ia mengendarai mobilnya menuju rumahnya.
Sementara itu, Hilman sibuk mencari bunga dan cokelat sesuai permintaan Devan. Sampai ia menelepon kekasihnya untuk menanyakan tentang bunga.
Hampir 1 jam, Hilman mencari bunga dan cokelat sesuai dengan kesukaan Clarissa agar tidak mengecewakannya sebelumnya ia menanyakan hal itu pada Yuna.
Setelah mendapatkan yang ia inginkan, Hilman menyuruh kurir untuk mengantarkannya. Setelah itu ia menelepon Yuna agar menerima paket kiriman Presdir.
__ADS_1
-
-
Bel pintu berbunyi, Yuna membukanya ia menerima dua buket bunga dan satu keranjang kecil berisi aneka cokelat yang di antar dari kurir berbeda.
"Rissa, ada kiriman bunga dan cokelat untukmu!" Yuna meletakkan bunga di atas nakas dan sekeranjang kecil cokelat di atas ranjang Clarissa.
"Dari siapa?" tanyanya.
"Dari Presdir," jawab Yuna.
Mendengar kata Presdir membuat Clarissa tersenyum bahagia. "Ya, ampun dia begitu perhatian juga kepadaku!" ucapnya bangga.
"Presdir itu sebenarnya suka padamu tapi dia malu mengakuinya," tebak Tina.
"Benar sekali!" sahut Yuna.
"Ah, aku jadi bahagia jika benar itu terjadi," Clarissa mencium salah satu bunga.
Devan yang mendapatkan pesan dari Hilman menarik sudut bibirnya ketika melihat foto Clarissa dengan wajah sumringah.
-
-
Menjelang tidur Devan mendapatkan telepon dari Hilman jika dalang penganiayaan Clarissa telah ditahan.
Tak lupa Hilman juga mengabarkannya pada Yuna karena perintah dari Devan juga.
"Aku ikut!" ucap Clarissa.
"Tapi kau belum terlalu sehat," ujar Tina.
__ADS_1
"Aku penasaran saja siapa pelakunya," tuturnya.
"Baiklah, kita ke sana!" ucap Yuna.
Jarum jam menunjukkan pukul 1 pagi, Clarissa dan kedua temannya ditemani sopir pribadinya mendatangi pihak berwajib. Di sana ia juga berjumpa dengan Devan dan Hilman. Mereka berlima akhirnya dipertemukan dengan dalang pelakunya.
"Apa kalian mengenal pelaku?" tanya salah satu anggota polisi. Pria paruh baya mempertemukan pria yang memukul Clarissa.
"Tidak, Pak!" jawab mereka berlima.
"Dia di suruh seseorang untuk melakukan ini, apa kalian mengenal wanita yang bernama Nikita Bryan?"
"Kenal, Pak!" jawab mereka berlima serempak.
"Jadi dia otak dari semua ini?" tanya Devan.
"Iya, dia yang membayar pria ini dan salah satu wanita yang berprofesi sebagai model di iklan produk Arta Fashion," jelasnya pria paruh baya itu.
"Jadi, wanita yang sengaja membuat Clarissa jatuh itu orang suruhan Nikita juga," ujar Yuna.
"Memang wanita itu, tidak pernah jera!" geram Tina.
...----------------...
Berita penangkapan Nikita ramai di bicarakan baik di media cetak, elektronik dan sosial. Sebagian banyak yang menghujatnya dan sebagian lagi mendoakan agar ia bisa menjadi wanita yang baik.
Clarissa memilih tidak memberikan komentar apapun kepada media, ia serahkan semua urusan kepada pengacara pribadinya dan kuasa hukum Arta Fashion.
Martha yang mendengar kabar putrinya harus ditahan merasa kesal dan marah. Usaha dirinya menghancurkan Arta Fashion dan Clarissa gagal. Ia mempercepat perjalanannya di luar negeri. Karena kasus Nikita.
"Ibu dan putrinya sama saja," gerutu Fera saat membaca berita di ponselnya di meja makan.
"Oma kenal dengan Ibunya Nikita?" tanya Devan.
__ADS_1
"Sangat mengenalnya," jawab Fera meletakkan ponselnya. "Martha adalah mantan kekasih Papamu!" ucapnya lagi.