Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Mulut Tajam Siska


__ADS_3

Oma Fera mengundang makan malam beberapa keluarganya yang tinggal di kota yang sama. Acara di selenggarakan dalam rangka syukuran atas kehamilan cucu menantunya yang menginjak usia 4 bulan.


Siska dan keluarganya juga turut hadir begitu juga dengan keluarga Claudia. Makan malam dilaksanakan di kediaman Artama. Mereka duduk di meja makan yang sama.


Siska memasang wajah ketus ketika berhadapan dengan Clarissa dan menantunya.


"Raya, bagaimana kabarmu?" Oma membuka percakapan.


"Baik, Oma." Raya menjawab dengan tersenyum.


"Syukurlah, semoga pernikahan kalian baik-baik saja 'ya!" Oma melirik Siska.


"Terima kasih, Oma." Raya kembali tersenyum sambil menikmati hidangan.


"Van, apa kau yakin jika janin yang dikandung istrimu adalah anak kalian?" Siska menatap keponakannya.


Semua yang berada di meja makan sama, menghentikan aktivitasnya. Devan menghela nafas untuk menahan emosinya.


"Maksudmu apa, ya?" tanya Oma.


"Clarissa seorang artis, bisa saja 'kan dia bermain dengan pria lain yang lebih kaya," jawabnya. Bukan Siska namanya kalau tidak mencari masalah dengan perkataan menyelekit.


"Bisakah kau menjaga mulutmu itu?" sindir Claudia.


"Siska, jangan merusak acara yang ku buat!" Oma Fera menatap keponakannya.


"Ya," Siska seakan tak peduli dengan sakit hati orang lain. Padahal di meja makan ada mertua putranya juga.


"Pantas Raya sulit hamil, mulut ibu mertuanya saja membuat stress," Claudia menyindir besannya.

__ADS_1


"Ma," Ardian berbisik lirih di telinga istrinya.


"Kalau stress tinggalkan saja putraku," ujar Siska santai.


"Bibi, kami permisi pulang!" pamit Papa Rey pada Oma Fera.


"Kenapa buru-buru, Pa?" tanya Rey.


"Papa lupa kalau ada janji dengan teman," jawabnya. Ia lalu mengarahkan pandangannya kepada besannya. "Kami pamit duluan, Tuan Ardian!" meminta izin.


"Ya," Ardian tersenyum ramah begitu juga dengan Claudia.


"Ayo, Ma. Kita pulang!" menarik tangan istrinya.


Siska pun berdiri dan hanya berpamitan pada Fera saja. Kedua orang tua Raya dan Clarissa hanya geleng-geleng kepala melihat sikap mertua salah satu putrinya.


-


"Tidak ada."


"Kalau tidak ada kenapa kita pulang?"


"Papa tak suka dengan sikap Mama yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain," omelnya.


"Mama bicara tentang fakta, Pa." Siska merasa paling benar.


"Fakta apa? Mama itu menuduh!" suaminya bicara tegas.


"Mama tak suka dengan keluarga si Claudia itu, Pa."

__ADS_1


"Apa Mama tidak pernah mikirin perasaan Rey?" tanyanya. "Putra kita bahagia bersama istrinya, jangan karena keegoisan dirimu mengorbankan dia," meninggikan suaranya.


"Kenapa Papa jadi membela mereka?" mata Siska mulai berkaca-kaca.


"Omongan Mama tadi sudah kelewatan, Papa sudah tidak bisa membiarkannya!"


"Papa sudah tak sayang Mama," wajah Siska cemberut.


"Ini peringatan terakhir untuk Mama jika berani menyakiti hati menantuku dan Clarissa. Papa tidak akan mau bicara lagi denganmu!" ancamnya.


"Iya, Mama tidak akan melakukannya lagi!" Siska takut jika suaminya diam. Karena ia tak bisa mendapatkan izin liburan lagi bersama teman-teman arisannya.


Papa Rey menyalakan mesin mobilnya meninggalkan restoran.


-


Sementara itu, Clarissa yang biasanya bersikap cuek dan santai dengan ocehan Siska mendadak murung. Ia lebih banyak menunduk kepalanya.


Devan mengelus punggung tangan istrinya menguatkannya.


"Rissa, Devan, maafkan Mama ku!" Rey memohon.


Sepasang suami istri mengangguk pelan tanda mengiyakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like, komen dan vote..🌹


Selamat Membaca 😊

__ADS_1


__ADS_2