
Setelah mengetahui siapa pelaku penculikan masa kecilnya membuat Devan kepikiran di tambah lagi Oma Fera melarang keras dirinya menikahi putri dari seorang penculik.
"Van, pria itu telah membuatmu trauma. Jadi, Oma berikan keputusan kepadamu," ucap Fera di sela-sela sarapan pagi.
"Pria itu sudah meninggal, Oma."
"Tapi Ibu Clarissa terlibat juga, dia mengetahuinya. Kenapa dirinya diam saat tahu kalau kau anak yang di culik mantan suaminya?"
"Aku pergi dulu, Oma!" Devan menghentikan sarapannya tanpa menjawab pertanyaan Fera.
"Devan, kau belum selesai sarapannya," ucap Fera.
"Aku sudah kenyang, Oma." Devan mengambil kunci mobilnya dan pergi.
Mobil melesat ke arah pemakaman mewah. Kedua orang tua Devan di makamkan bersebelahan. Ia berdiri menghadap dua pusara orang yang dicintainya.
"Ma, Pa, sebentar lagi aku akan menikah. Pasti kalian senang mendengarnya," ucap Devan. "Dia wanita yang cantik, periang dan baik hati," lanjutnya lagi.
Devan menghapus sudut matanya yang berair. "Aku pernah berjanji tidak akan jatuh cinta kepada putri dari seseorang yang telah menculikku, tetapi kenyataannya berbeda aku malah jatuh cinta padanya."
"Aku benar-benar bingung, Oma adalah orang yang selalu di sisiku menggantikan kalian menyuruhku untuk menjauhinya. Ini adalah pilihan sulit untukku."
"Ma, Pa, aku tidak bisa meninggalkannya. Tetapi aku terlanjur berjanji, maafkan aku!"
Devan mencoba tersenyum dan menahan air matanya agar tak jatuh. "Aku pergi dulu, Ma, Pa."
Devan meninggalkan pemakaman dan bergegas ke kantor. Sepanjang perjalanan ke Arta Fashion, ia selalu memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil.
Dua minggu sudah ia tak bertemu dengan Clarissa, karena kesibukan keduanya. Wanita itu sengaja meminta ulang jadwalnya agar ia bisa memiliki waktu cuti cukup lama saat hari pernikahan.
-
__ADS_1
Gedung Arta Fashion
Devan mengetuk jemarinya di meja berulang kali, hati dan pikirannya sulit bersatu. Dia benar-benar bimbang di tambah Oma Fera selalu mendesaknya untuk membatalkan pernikahannya.
Akhirnya dengan keberanian, ia menghubungi Clarissa untuk bertemu dan wanita itu menyetujuinya kebetulan jadwal pekerjaannya tidak terbentur.
Mereka bertemu di sebuah kafe tak jauh dari apartemen milik Clarissa.
"Kenapa kau mengajakku bertemu jam segini?" tanya Clarissa sesampainya ia di tempat.
Devan melihat arlojinya, jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas pagi.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ucap Devan.
"Hal penting apa?" Clarissa tersenyum hangat pada kekasihnya.
"Aku ingin...." ucapan Devan terpotong saat mendengar ponsel Clarissa berdering.
"Boleh aku menjawabnya?" Clarissa bertanya pada Devan dan dibalas dengan anggukan. Ia pun menjawab panggilan tersebut, "Suruh ulang kembali!" Tak lama kemudian ia menutup teleponnya.
"Devan, undangan yang kita pesan sepertinya sedikit bermasalah," ucap Clarissa. "Mereka salah mencetak tanggal dan bulan pernikahan kita, cukup aneh 'kan," lanjutnya.
Devan tak menggubrisnya dan hanya tersenyum.
"Dan satu lagi, mereka tak bisa menyelesaikannya dalam waktu dekat. Kemungkinan dua minggu lagi baru selesai, jadi maaf 'ya jika sedikit lama karena harus mengulang kembali," tutur Clarissa.
Devan hanya mengangguk saja.
"Oh ya, tadi mau bicara apa?" tanya Clarissa menatap wajah Devan.
"Apa kau tahu siapa penculik ku waktu itu?"
__ADS_1
Clarissa menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu."
"Ayah kandungmu!" ucap Devan.
Deg... jantung Clarissa seketika terasa berhenti. "Aku tidak percaya!"
"Oma Fera dan Tante Martha mengatakan semua itu," ucap Devan dingin.
"Kenapa mereka baru mengatakannya sekarang?"
"Oma melihat foto yang aku tunjukkan padanya, waktu itu tanpa sengaja dompetmu terjatuh dan ku melihat foto dirimu dan kedua orang tuamu. Diam-diam aku memfotonya."
"Kau percaya dengan ucapan mereka?"
"Aku percaya pada Oma, karena dia mengenal wajah teman Papaku."
"Apa hubungannya dengan Tante Martha?"
"Dia mantan kekasih papaku dan mengenal siapa saja teman-temannya."
"Kenapa Ibu tidak memberitahuku?" tanyanya lirih.
"Aku juga tidak mengerti dengan Ibumu, atau jangan-jangan dia ikut terlibat dalam penculikan diriku dan pura-pura menolong."
Clarissa menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Setelah mengetahui semuanya dan sudah berjanji, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pernikahan kita," ucap Devan tegas.
Mendengar itu tubuh Clarissa terasa lemas dan mata berkaca-kaca. "Jangan bercanda, Van!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote....
Terima Kasih..