
Kabar Clarissa melakukan liburan bersama seorang pria membuat Clara angkat bicara, apa lagi berita mengatakan jika lelaki itu Hiko Andreas.
Clara menjadwalkan bertemu dengan para wartawan di lobi Gedung Clara Kosmetik. Ia berbicara agar tidak ada kesalahpahaman antara Hiko dan Devan.
Tepat pukul 10 pagi, para wartawan telah berkumpul untuk mendengarkan klarifikasi dari Clara Diana. Walaupun, Clarissa tidak memintanya menjelaskan namun wanita itu tetap akan bicara.
"Selamat pagi semua!" sapa Clara.
"Pagi Nona Clara!" jawab serempak para wartawan.
"Saya ingin memberikan klarifikasi tentang berita yang beredar beberapa hari ini," ucap Clara. "Pria yang bersama Clarissa Ayumi memang benar adalah Hiko Andreas, kebetulan saya juga berada di sana. Namun, beberapa foto tersebar hanya mereka berdua," lanjutnya menjelaskan.
"Apa benar jika Clarissa dan Presdir Arta Fashion gagal menikah hingga membuat Clarissa pergi ke Jepang?" cecar salah satu wartawan.
"Kabar batalnya pernikahan itu saya tidak tahu dan bukan urusan saya juga. Kami ke sana bukan karena liburan hanya kebetulan bertemu dengan Clarissa di Jepang yang juga ada urusan pekerjaan. Selain itu, ada juga manajer, asistennya dan juga Raya Andriana."
"Kabarnya dulu Clarissa juga pernah diberitakan dekat dengan Hiko, apa benar mereka menjalin kasih kembali?"
Clara tersenyum, "Itu tidak benar dari dulu mereka tak pernah menjalin hubungan kalian bisa tanyakan saja Clarissa atau manajernya."
"Kenapa Clarissa mengambil pekerjaan di luar negeri padahal ia akan segera menikah dalam waktu dekat ini?"
"Untuk itu saya tidak bisa menjawabnya, sekali lagi terima kasih sudah mendengarkan penjelasan saya. Permisi!" Clara meninggalkan para awak media dan kembali ke ruang kantornya.
-
Gedung Arta Fashion
"Apa ada jadwal Clarissa bulan ini?" tanya Devan pada sekretarisnya itu.
"Tidak ada, Tuan. Jadwal Nona Clarissa kosong karena bulan ini pernikahan kalian," jawab Hilman.
"Jadi, kapan ada jadwalnya dia lagi?"
"Kemungkinan dua minggu lagi, Tuan."
__ADS_1
"Majukan jadwalnya, karena sebentar lagi kita akan mengeluarkan edisi terbaru," perintah Devan.
"Tapi, saya tidak berjanji Tuan. Karena sampai tiga minggu ke depan jadwal Nona Clarissa di Arta Fashion memang kosong. Bagaimana kalau dia memang ada pekerjaan lainnya?"
"Buat ia menuruti perintahku!"
"Tapi lebih baik, Tuan yang berbicara," ucap Hilman.
"Kau mau aku pecat?" sentak Devan.
"Maaf, Tuan. Jika dia menolaknya, bagaimana?"
"Kau cari akal atau ide agar dia mau!" jawab Devan dengan lantang.
"Baik, Tuan!" ucap Hilman gugup.
Sepuluh menit kemudian, Hilman kembali menemui Devan di ruangannya.
"Ada apa lagi?" tanya Devan ketus.
"Kenapa?"
"Nona Clarissa saat ini tidak ingin menerima pekerjaan apapun," jawab Hilman dengan hati-hati.
"Tapi dia sudah terikat kontrak," ucap Devan.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Besok pagi manajernya akan bertemu dengan anda," ujar Hilman.
"Berarti dia sudah kembali?"
"Yang pastinya manajernya sudah kembali. Tapi Nona Clarissa belum pasti, Tuan!"
......................
Tepat pukul 11 pagi, Yuna dan Tina datang ke Arta Fashion menemui Devan. Keduanya menunggu di ruangan khusus tamu.
__ADS_1
Devan memasuki ruangan tersebut bersama dengan sekretarisnya. Pria itu memperhatikan keduanya namun tak tampak Clarissa. Ingin bertanya tapi rasanya malu, akhirnya dia hanya bertanya dalam hati saja.
"Siang, Tuan!" sapa Yuna berdiri sedikit menunduk dan diikuti Tina.
"Siang juga," ucap Devan. "Sekretaris saya sudah menjelaskan kemarin, kan?" tanyanya.
"Sudah, Tuan. Tapi artis kami sampai dua minggu ke depan tidak menerima pekerjaan apapun," jawab Yuna.
"Bagaimana bisa, dia sudah terikat kontrak?" Devan bertanya lagi.
"Memang benar, Tuan. Tapi jadwal pemotretan dan syuting juga akan dilaksanakan dua minggu lagi," jelas Yuna.
"Apa tidak bisa dipercepat?" tanya Devan.
"Apanya di percepat, Tuan?" tanya Yuna balik
"Pemotretannya," jawab Devan.
"Clarissa tetap menolaknya, Tuan." Yuna tetap berkata sesuai dengan dikatakan sahabatnya itu.
"Di mana dia biar aku yang bicara padanya?" tanya Devan.
"Kami tidak bisa memberitahunya, karena permintaannya juga," jawab Yuna lagi.
Tampak raut wajah Devan kecewa, ia tak bisa bertemu dengan Clarissa atau sekedar berkomunikasi. Kontak telepon hingga media sosial milik Devan diblokirnya.
"Kalian boleh pergi!" titah Devan dengan pelan tanpa menatap.
"Baik, Tuan. Permisi!" pamit keduanya begitu juga dengan Hilman.
Devan menyandarkan kepalanya di sofa sambil menatap langit-langit ruang, ia memijit pelipisnya. "Dia benar-benar menjauhiku!" batinnya menyesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan like dan komen...
__ADS_1
Selamat Akhir Pekan...