
Devan selalu kepikiran dengan ucapan Harlan jika dia siap mengganti posisi dirinya di hati Clarissa.
"Aaarrrghhh..." Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aku harus bisa merebut kembali hatinya," gumamnya.
Ia memanggil Hilman ke ruangannya dan pria itu berdiri di depan meja kerjanya.
"Hadiah apa yang disukai wanita?"
"Banyak, Tuan."
"Ya, apa saja?"
"Uang, bunga, perhiasan dan masih banyak lagi."
"Kirim uang ke rekening Yuna dan katakan padanya jika itu dari aku untuk Clarissa," perintah Devan.
"Berapa Tuan?"
"Seratus juta."
"A..apa sebanyak itu, Tuan?"
"Kenapa?" Devan menatap sekretarisnya sambil bersedekap dada.
"Bukankah honor Nona Clarissa sudah dibayar, Tuan?"
"Anggap saja itu hadiah dari aku," jawab Devan santai.
"Baik, Tuan."
"Kekasihmu suka bunga apa?"
"Tuan, mau memberi kekasih saya bunga?"
"Siapa yang mau kasih dia bunga, kan sudah ada kau!"
"Jadi, bertanya bunga untuk apa?"
"Kau biasa beri kekasihmu, bunga apa?"
"Dia suka bunga mawar, tetapi wanita suka yang sedikit unik."
"Unik, ya?"
__ADS_1
"Iya, Tuan."
"Ya, sudah kalau begitu kau boleh keluar. Jangan lupa segera transfer!" perintahnya.
"Baik, Tuan!" Hilman pun pamit keluar.
Sementara itu Yuna yang sedang duduk mendampingi Clarissa merias wajahnya sebelum tampil di acara televisi. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya, Yuna mendelikkan matanya.
"Rissa, ini gawat!" Yuna bersuara sedikit keras.
"Gawat kenapa?" tanya Clarissa.
"Presdir mengirimkan uang untukmu melalui Hilman," jawab Yuna.
"Berapa banyak?" tanya Tina.
"Seratus juta," jawab Yuna.
"Waw, itu besar sekali. Honor bulan ini 'kan sudah dibayar," ujar Tina.
"Entahlah, jadi bagaimana dengan uang ini?" tanya Yuna.
"Ambil aja, masukkan ke rekening ku," jawab Clarissa.
"Kau yakin?" tanya Tina.
"Bagaimana kalau dia mengatakan kau wanita matre?" ucap Yuna.
"Kan dia sendiri yang mengirimkannya," tutur Clarissa.
"Sepertinya Presdir menyesal meninggalkanmu," celetuk Tina.
"Jangan bahas itu lagi, aku tidak tertarik lagi dengannya," ungkap Clarissa.
"Kau yakin tidak tertarik padanya?" cecar Yuna.
"Aku harus tampil, jangan sebut namanya lagi di hadapanku," ucap Clarissa tegas.
-
Sore ini Devan pergi ke toko bunga untuk ia berikan kepada Clarissa. Kali ini ia harus bekerja keras untuk menaklukkan wanita itu karena sudah menyia-nyiakannya. Masalah Oma Fera tak menyetujuinya ia tak peduli lagi, ia siap akan membela dan melindungi sang artis.
Di toko bunga ia disambut ramah oleh pegawai toko. Wanita muda itu mengajak Devan berkeliling untuk mencari bunga yang diinginkannya.
"Bunga mawar ini selalu banyak peminatnya, Tuan. Apa lagi di berikan kepada orang terkasih," jelasnya.
__ADS_1
"Saya ingin sedikit unik dan berbeda," ujar Devan.
"Bunga apa, ya?" pegawai toko kelihatan bingung.
"Saya mau bunga yang itu saja!" tunjuk Devan ke arah salah satu pot.
"Anda yakin bunga itu, Tuan?" tanya pegawai toko tak percaya.
"Iya," ucap Devan dengan mantap.
"Tapi, Tuan ..."
"Bungkus yang itu saja!" perintah Devan.
"Baik, Tuan!"
-
Seorang kurir pria mendatangi apartemen Clarissa. "Malam Nona!"
"Malam juga!" ucap Yuna.
"Ada kiriman paket untuk Nona Clarissa," jelasnya.
"Dari siapa?"
"Tuan Devan Artama."
"Oh, ya nanti akan saya sampaikan pada Nona Clarissa," ucap Yuna.
"Baiklah, Nona. Saya permisi," pamitnya.
"Ya, terima kasih," Yuna pun membawa paket yang cukup berat itu kepada Clarissa.
"Siapa tadi?" tanya Clarissa.
"Kurir, ini ada paket untukmu," Yuna menyodorkan kotak berukuran sedang.
"Dari siapa?" tanya Clarissa lagi.
"Presdir," jawab Yuna.
Clarissa bergegas membukanya ia penasaran dengan isinya. "Devan..!"
...ΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa like setiap episodenya...
Terima Kasih...