
Nikita ditarik paksa keluar oleh penjaga keamanan gedung. "Devan, aku balas perlakuanmu padaku!" teriaknya dari jauh.
Devan menatap Intan dengan tangan mengenggam tangan istrinya. "Jangan bawa urusan pribadi ke sini, jika ada seperti tadi. Aku tidak akan segan memutuskan kontrak kerja sama denganmu!" tegasnya.
"Maafkan saya, Tuan!" Intan tertunduk bersalah.
Devan dan Clarissa kemudian berlalu meninggalkan kerumunan orang.
Dion merasa kasihan dengan Intan. "Apa masalahmu dengan Nikita?"
Wanita itu menatapnya, "Bukan urusanmu!" ia pun berlalu.
-
Devan terus menggenggam tangan istrinya dengan wajah dingin. Clarissa yang melihatnya merasa takut.
"Sayang, aku tidak apa-apa. Kau jangan khawatir!"
Devan tetap diam.
"Sayang, lain kali aku bisa hati-hati," Clarissa berusaha menenangkan pikiran suaminya.
Sesampainya di ruangan, Devan menyuruh istrinya untuk duduk di sofa.
"Sayang, aku mau ke studio," izinnya.
"Duduklah dan tetap di situ!" perintah Devan.
"Sayang, aku di sini harus bekerja!"
"Aku bilang diam dan jangan ke mana-mana!" tegasnya.
"Sayang, kenapa marah padaku?" Clarissa wajah sedihnya.
Devan yang tak tahan dengan wajah sendu istrinya mendekatinya. "Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Van!"
"Aku tidak bisa memaafkan diriku. Oma akan marah-marah padaku!"
Clarissa tertunduk bersalah.
"Jika ada sesuatu yang terjadi, jangan mengambil keputusan sendiri. Temui aku segera atau serahkan pada Hilman!" omel Devan.
"Iya, maaf!"
"Kalau saja kau sampai terluka dan membahayakan calon bayi kita. Aku tidak akan segan membuat ia mendekam lebih lama di tahanan!"
"Aku tidak akan gegabah seperti tadi," janjinya.
"Urusan kantor biar aku tangani, kau di rumah saja," saran Devan.
"Van, aku sangat bosan jika di rumah terus," rengeknya.
"Kau sangat ceroboh, aku tak mau hal seperti tadi terulang lagi."
-
Kediaman Keluarga Martha
"Mama...Mama!" teriak Nikita memanggil.
"Ya, kenapa teriak-teriak?" Martha menghampiri putrinya di ruang tamu.
"Devan berani mengusirku dari Arta Fashion," jawabnya dengan berapi-api.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku ingin bertemu dengan Intan Ratu tapi malah bertemu dengan Clarissa artis yang sombong itu!"
"Kenapa bisa sampai kau diusirnya?"
__ADS_1
"Aku mendorong istrinya, tapi dia tidak terjatuh. Eh, suaminya malah marah-marah!"
"Kau ini ada saja!" gerutu Martha.
"Aku sangat kesal dengan itu wanita!" oceh Nikita.
"Kau tahu akibatnya jika berurusan dengan keluarga Artama, Mama tidak akan membantumu," ancamnya.
"Bukankah Mama sangat membenci keluarga mereka apalagi dengan ibunya Clarissa?"
"Iya, tapi mereka sudah bersatu Mama tak bisa berbuat apa-apa," jawab Martha.
"Mama, payah!"
"Hei, kau mau ditahan lagi. Kalau Mama tidak berani lagi mengganggu mereka, kemarin saja Mama coba menggertak Claudia tapi wanita itu sudah berani melawan."
"Jadi Mama takut dengan mereka?"
"Ya, iyalah!"
Nikita menghentakkan kakinya, ia kesal karena mamanya tidak berpihak lagi padanya untuk melampiaskan rasa amarahnya.
-
Intan berjalan cepat meninggalkan gedung Arta Fashion, Dion berusaha mengejar rekan kerjanya. "Intan!" panggilnya. Wanita itu terus melangkah.
"Intan, ceritakan padaku masalah dirimu dengan Nikita," ujarnya.
Intan menghentikan langkahnya, "Jangan campuri urusan ku!" sentaknya.
"Kenapa? Bukankah kita ini teman?"
"Aku tidak memiliki teman, sahabat, ataupun keluarga!" lanjutnya melangkah menuju parkiran.
"Intan, kau sekarang berubah!" Dion terus mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Aku berubah bukan urusanmu!" Intan segera memasuki mobilnya.