
Setelah mengadakan rapat dengan beberapa jajaran direksi, mereka mengusulkan dua nama artis yang pertama seorang penyanyi dan kedua adalah pemeran drama yang sedang naik daun.
Clarissa mengundang kedua temannya di kediaman suaminya pada sore harinya. Ia ingin bertanya tentang calon artis yang akan menjadi brand ambassador di Arta Fashion.
"Menurut aku sih' Anya Marina, dia cantik dan terkenal dengan dramanya sebagai perebut suami orang," tutur Tina.
"Kenapa aku jadi serem dengan kata-kata perebut," ungkap Yuna.
"Aku juga," sahut Clarissa.
"Tapi, itu hanya peran. Semoga saja dia tidak begitu," ujar Tina.
"Aku pernah dua kali bertemu dengannya, orangnya cukup baik dan asyik," ungkap Clarissa. "Kalau kau, menurutmu siapa?" tatapannya ke arah Yuna.
"Aku lebih suka dengan Mawar Lestari," jawab Yuna. "Suaranya bagus dan banyak mendapatkan penghargaan," jelasnya.
"Usul yang kalian beri sama dengan direksi," ujar Clarissa.
"Tinggal kau dan Devan yang memutuskan memilih diantara mereka berdua," kata Tina.
"Ini pilihan yang sulit bagiku," Clarissa menghela nafasnya.
"Produk yang dikeluarkan Arta Fashion sangat bagus dan harganya cukup terjangkau, aku rasa pembeli tetap akan mencari walau harus bolak-balik berganti model," ungkap Yuna.
"Ya, kau benar!" Tina menyetujui ucapan sahabatnya itu.
"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan bicarakan ini dengan suamiku," ujar Clarissa.
__ADS_1
......................
Beberapa hari kemudian...
Rapat kembali dilaksanakan, Devan sudah memutuskan memilih Mawar Lestari menjadi brand ambassador Arta Fashion selanjutnya.
Seluruh urusan yang menyangkut Mawar Lestari ia serahkan pada Hilman. Sepasang suami istri itu tidak ikut campur lagi, mereka hanya menerima hasilnya saja. Terpenting bagi mereka, sang model mampu menjaga nama baik perusahaan.
Intensitas pertemuan Hilman dan Mawar Lestari membuat calon istrinya itu sering merajuk.
"Dita, jangan marah padaku. Aku memang harus pergi ke Kota D untuk melakukan syuting," ujar Hilman.
"Sebulan lagi kita akan menikah, bisakah kau mengurangi pekerjaan di luar kota," mohon Dita.
"Setelah dari sana, aku akan bicara pada Tuan Devan untuk mengurangi jadwalku di luar kota," janji Hilman.
"Aku pegang janjimu!"
"Iya, aku doakan."
...----------------...
Dua hari kemudian, Hilman kembali dari Kota D. Ia menemui Devan meminta untuk tidak dikirim ke luar kota lagi.
"Apa bonus perjalanan yang ku beri kurang?" tanya Devan.
"Bukan, Tuan. Tapi beberapa minggu lagi, saya akan menikah," jelasnya.
__ADS_1
"Ya, aku paham maksudmu. Baiklah, kalau begitu aku akan memberikan izin tidak keluar kota selama 2 bulan," ujar Devan.
"Terima kasih, Tuan."
"Ya, sama-sama. Bonus sudah kau ambil?"
"Sudah, Tuan."
"Pergilah dan kembali bekerja!" perintah Devan.
Clarissa menghampiri suaminya setelah berbicara dengan Hilman. "Dia akan menikah, hadiah apa yang akan kita berikan untuknya?"
"Menurutmu hadiah apa yang cocok?" Devan bertanya balik.
"Bagaimana kalau kita beri dia hadiah perjalanan ke Korea?" usul Clarissa.
"Boleh juga," jawab Devan. "Kau ingin kita bulan madu ke mana?" tanyanya.
"Kita bukan pengantin baru lagi."
"Apa salahnya kita liburan berdua?"
"Apa kau tidak ingat dengan putri kecilmu?"
"Ya ampun, aku lupa kalau punya bidadari satu lagi," Devan menepuk jidatnya.
"Ingat kau adalah seorang ayah, jangan dengar orang lain bulan madu dirimu ikutan ingin juga," ujar Clarissa.
__ADS_1
"Ya, memangnya kenapa? Bukankah kau juga menyukainya?"
"Kau tahu saja!" Clarissa memukul lembut dada suaminya lalu memeluknya.