
Mendengar nama ibunya Nikita adalah mantan kekasih papa kandungnya membuat Devan menghentikan aktivitas sarapannya.
"Kenapa mereka putus?" tanya Devan.
"Oma tidak menyukai wanita itu," jawab Fera. "Dia matre dan boros. Dia hanya tahu meminta pada Vandi, belum jadi istri kelakuannya begitu," jelas Fera.
"Setelah itu, Oma?"
"Oma menjodohkan Vandi pada mama kamu," jawab Fera. "Awalnya dia menolak akhirnya ia mau menerima mama kamu," lanjutnya menjelaskan. "Martha juga teman sekolah dasar Marissa di kota D," ucapnya menjelaskan.
"Itu kota kelahiran Clarissa dan Ayahnya, apa mereka saling kenal?"
"Oma juga tidak tahu," jawabnya.
"Apa mungkin orang tuanya Clarissa mengenal kedua orang tuaku juga? Suatu hari nanti ku akan menanyakan ini padanya," batinnya berucap.
"Tante Siska mengenal ibunya Clarissa, pasti dia juga mengenal ayahnya Clarissa juga," ucap Devan. "Mereka juga sama-sama dari kota D," lanjutnya berucap.
"Oma tidak tahu, coba kau tanya saja pada Siska," ujar Fera.
-
-
Beberapa jam kemudian....
Sebelum bertemu dengan Siska, Devan meneleponnya terlebih dahulu. Kebetulan dia juga sedang berada di kota ini. Mereka bertemu di sebuah kafe.
"Kau ingin bertanya apa pada Tante?"
"Apa Tante mengenal ibunya Nikita Bryan?" tanya Devan.
"Ya, dia mantan kekasih Vandi. Kami dari kota yang sama begitu juga dengan Marissa," jawab Siska.
"Oma bilang kalau Tante Claudia ibunya Clarissa adalah teman Tante Siska sekolah," ucap Devan.
"Kenapa kau menyebut nama wanita itu?" Siska merasa kesal mendengar nama itu.
"Apa Tante mengenal suaminya?" tanya Devan tanpa menjawab pertanyaan Siska.
"Tante tidak mengenalnya, hanya kedua orang tuamu dan Martha yang mengenalnya," jawabnya.
"Tante Martha mengenalnya?" Devan balik bertanya.
"Karena Martha yang paling banyak mengenal teman Vandi," jawab Siska. "Kenapa kau bertanya tentang teman orang tuamu?" tanya Siska lagi.
"Aku ingin tahu siapa yang telah menculik ku. Kata Oma dia salah satu teman papa," jelas Devan.
"Ya, dia salah satu teman Vandi. Apa kau ingin mencari tahu tentang gadis penolong dan ibunya itu juga?" tanya Siska.
"Ya, Tante."
"Bagaimana jika dia sudah menikah atau meninggal?" tanya Siska.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan mengembalikan kalungnya," jelas Devan.
"Semoga kau segera bertemu," ucap Siska. "Oh, ya Devan. Tante dengar kau memiliki hubungan dengan artis itu?" tanyanya.
"Ya," jawab Devan asal.
"Persis seperti ibunya yang menggaet pria kaya raya," ujar Siska.
"Tante, terima kasih banyak atas waktunya!" Tak ingin mendapatkan Siska memburukkan ibunya Clarissa. Devan beranjak berdiri, menundukkan sedikit kepala dan tersenyum tipis lalu ia pamit pulang.
-
-
Malam harinya, Devan membuka kembali kotak perhiasan itu dan mengamatinya dengan seksama. "Siapapun kamu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih," gumamnya.
Baru saja akan memejamkan matanya, teleponnya berdering tertera nama Hilman. Ia pun mengangkatnya.
"Halo, Tuan!"
"Ada apa?" tanyanya.
"Ini gawat, Tuan!" teriak Hilman dari kejauhan.
"Gawat bagaimana? Bicara yang jelas!"
"Nona Clarissa sedang minum dengan teman-temannya di Klub Bulan," jawab Hilman.
"Biarkan saja," Devan menutup teleponnya. Namun kembali berdering, "Ada apa lagi?" tanyanya mulai kesal.
"Kalau begitu kau saja yang mengurusnya!"
"Tidak bisa, Tuan. Saya sedang berkencan, tidak mungkin saya menggendong dan memeluk Nona Clarissa di depan kekasih," jelas Hilman.
Devan memijit pelipisnya sambil berpikir.
"Tuan!" teriak Hilman memanggil. "Apa saya telepon Tuan Rey saja biar menjemput Nona Clarissa?" ia memberikan usul.
"Biar aku ke sana saja, awasi dia jangan sampai pulang dengan orang lain," ucap Devan menutup teleponnya.
Devan memakai jaketnya, tak lupa topi, masker dan sarung tangan. Ia meraih kunci di atas nakas dan pergi menyusul Clarissa.
Sementara itu Hilman mengulum senyumnya. "Dia akan ke sini!" ucapnya pada kekasihnya.
Clarissa sudah menghabiskan dua gelas kecil minuman beralkohol. Malam ini ia datang karena undangan dari temannya sesama artis. Dia ingin menolaknya tapi kedua temannya sedang tak berada di apartemennya. Jadi ia memutuskan untuk pergi.
Suara dentuman musik memekakkan telinga. Hilman dan kekasihnya masih mengawasi Clarissa dari jarak jauh.
"Sayang lama sekali dia?" tanya kekasihnya Hilman.
"Mungkin dia bingung pintu masuknya," jawabnya asal.
Tak lama ponsel Hilman bergetar.
__ADS_1
"Apa itu dia?" tanya kekasih Hilman.
"Tunggu di sini dan awasi dia!" pinta Hilman dan dijawab dengan anggukan.
Hilman menemui Devan yang sedang menunggu di parkiran. Mereka kemudian masuk bersamaan. Seluruh pandangan menatap heran dengan gaya pakaian Devan yang sedikit aneh ketika memasuki klub malam.
"Tuan, Nona Clarissa di sana!" tunjuknya. "Mari saya antar!" ucap Hilman.
Devan dan Hilman mendekati Clarissa yang setengah sadar. "Nona, ayo pulang!" ajak Hilman. Teman Clarissa melihatnya, "Dia kekasihnya!" ucapnya menunjuk Devan.
Tanpa banyak berbicara, Devan merangkul pinggang Clarissa dan memapahnya. Sesampainya di mobil ia memakaikan sabuk pengaman pada Clarissa.
"Kau siapa?" tanya Clarissa dengan kondisi setengah sadar.
Devan tak menjawab, ia malah sedang berpikir. "Aku harus bawa dia ke mana? Tidak mungkin ke rumahku, apartemennya aku tidak tahu di mana."
Devan akhirnya menelepon Hilman untuk memesan hotel buat mereka, permintaan itu membuat Hilman sedikit terkejut. Presdir yang tak pernah berkencan dengan seorang wanita kini malah mau menyewa kamar hotel.
"Aku mau muntah!" Clarissa memegang mulutnya dengan tangan kanan dan kirinya memegang perut.
"Jangan muntah di sini!" Devan membuka seat belt lalu turun membuka pintu mobil dan membantu Clarissa.
Clarissa memuntahkan isi perut di dekat mobil Devan. Pria itu menatap jijik, perutnya juga terasa bergejolak melihat orang muntah.
Setelah muntah, Clarissa kembali ke mobil. Devan memasang kembali seat belt dan menutup mulut Clarissa dengan masker.
"Hei, kenapa harus memakai ini?" tanya Clarissa.
"Banyak wartawan di sekitarmu!" jawab Devan.
Mereka akhirnya pergi ke hotel terdekat dari klub malam. Hilman sudah memesankannya.
Devan membantu Clarissa turun dan memapahnya ke kamar hotel. Devan menutup kepala Clarissa dengan topi dan tubuhnya dibalut jaket miliknya yang tersedia di dalam mobil.
Sesampainya di depan kamar hotel, Clarissa mulai bertanya, "Kita di mana?"
Devan tak menjawab dan membawa wanita itu ke dalam.
"Ini bukan kamarku!" ucapnya mendorong tubuh Devan membuat dirinya hampir terjatuh namun berhasil di pegang pria itu.
"Ini memang bukan kamarmu!"
"Kau ingin berbuat jahat, ya!" Clarissa merancau memukul dada Devan.
"Hei, sadarlah!" sentak Devan.
"Kenapa aku seperti melihat Presdir yang aneh itu?" Clarissa memegang pipi Devan namun di tepis pria itu.
"Hei, kenapa kau kasar sekali?" Ia semakin berbicara ngawur.
"Clarissa, berapa gelas yang kau minum?" tanya Devan.
"Hanya dua saja!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like dan komen 🌹