Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Kebahagiaan Keluarga Artama


__ADS_3

Devan yang baru saja sampai di kantor, buru-buru keluar dari ruangannya. Ia memerintahkan Hilman untuk mengatur ulang rapat.


Ia berlari menuju parkiran, dengan kecepatan sedang mobilnya melaju ke rumah sakit. Sesampainya di sana ia melangkahkan kakinya dengan terburu-buru.


Oma dan Yuki sedang menunggu di ruang tunggu pasien.


Devan bergegas masuk ke dalam ruang bersalin menghampiri Clarissa yang merintih kesakitan.


Devan mengenggam tangan istrinya, lalu menutup matanya. Sebenarnya ia sangat takut menghadapinya, namun karena ia tak ingin terlihat menjadi suami pengecut di depan istrinya.


Dokter memberikan aba-aba kepada pasien. Clarissa mengikuti instruksi yang diarahkan kepadanya. Sementara itu Devan masih terus memejamkan matanya, keringat mulai bercucuran.


Clarissa terus berusaha mengeluarkan bayi mereka dengan proses melahirkan normal. Suara teriakan melengking membuat Devan membelalakkan matanya seiring dengan suara tangisan bayi.


Clarissa tersenyum menatap suaminya yang masih terdiam. "Sayang, sudah selesai!" lirihnya.


Devan melihat bayi perempuan yang digendong perawat. Ia menghapus air matanya yang perlahan menetes.


Clarissa tertawa kecil melihat ekspresi wajah suaminya. "Kau menangis?"


Devan mencium kening istrinya. "Terima kasih!"


"Dia cantik seperti anda, Nona!" puji perawat.


-


-

__ADS_1


Kabar kelahiran Clarissa terdengar oleh media. Wartawan sudah menunggu konferensi pers dari pasangan suami istri itu. Namun, kondisi Clarissa belum cukup membaik untuk bertemu dengan para pencari berita.


Beberapa tamu mulai datang untuk menjenguk. Pihak keluarga Artama hanya memperbolehkan 1-2 orang yang memasuki kamar inap Clarissa.


Yuna dan Tina yang akhirnya berbicara pada media tentang kondisi bayi dan ibunya kepada para wartawan karena mereka sudah datang menjenguk.


Kabar kebahagiaan itu juga terdengar di telinga Siska dan keluarganya. Mereka pun datang, sesampainya di sana mereka harus melewati pemeriksaan dari pihak keamanan keluarga Artama.


"Maaf, anda tidak diperbolehkan menjenguk!" petugas menghentikan langkah Siska.


"Kenapa? Saya saudaranya," ujarnya.


"Nyonya dan Tuan Muda melarang anda untuk menjenguk Nona Clarissa," jelas petugas.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Papa Rey.


"Ya sudah, Mama pulang saja," sahut Raya.


"Mama tidak mau pulang," tolak Siska.


"Kalau begitu Mama tunggu di sini saja," saran Papa.


"Ih, Papa tega ninggalin Mama di sini," Siska memanyunkan bibirnya.


"Ayo, Rey kita masuk duluan saja!" ajak Raya. Sepasang suami istri itu pun terlebih dahulu menemui Clarissa meninggalkan papanya yang masih berdebat.


-

__ADS_1


-


Clarissa tersenyum saat menyusui bayinya. Ia mengelus lembut pipi putri keturunan Artama.


"Kira-kira nanti kalau dia besar lebih mirip aku atau kau, ya?" Clarissa bertanya pada suaminya.


"Sepertinya dia akan mirip aku," jawab Devan.


"Mirip aku saja, deh. Ku tak bisa bayangkan kalau putri kita ini ke mana-mana seperti dirimu!"


"Memangnya aku kenapa?"


"Papa kamu, Nak. Ke mana-mana bawa penyemprot anti kuman. Kan, jadi repot," Clarissa bicara pada putrinya.


"Jadi, kau tidak senang suamimu seperti itu. Lalu, kenapa kita menikah?" Devan mulai terpancing.


"Lihatlah, Nak. Papamu mulai kesal, Mama senang lihat dia seperti itu. Menggemaskan!" tatapan mata Clarissa fokus ke putrinya.


Devan duduk di samping istrinya lalu mendekapnya. Mencium ceruk leher Clarissa. "Kau juga menggemaskan!"


"Putrimu melihat kita, singkirkan wajahmu dari leherku!" titah Clarissa.


"Tidak mau, aku ingin menerkam dirimu!"


"Kau harus bersabar dalam beberapa minggu ini," ujar Clarissa.


Devan lantas memasang wajah sedihnya, membuat Clarissa tertawa.

__ADS_1


__ADS_2