
Eza menatap Kirani yang tampak ketakutan, "Apa kamu bisa jelaskan?"
"Za, maafkan aku!" Kirani tertunduk bersalah.
"Hei, jadi kau tidak tahu dia berselingkuh," ujar ibu muda itu.
"Katakan sejujurnya, Rani!" bentaknya.
"Iya, Za. Aku berselingkuh dengan suaminya, karena ku jenuh dengan hubungan kita," jawab Kirani.
"Jadi kau sudah membohongiku selama ini?" Eza tak percaya.
Kirani mengangguk pasrah.
"Baguslah, aku memutuskan berpisah denganmu dan memilih Raisa. Ternyata kamu wanita pembohong!"
Melihat sepasang kekasih bertengkar, ibu muda itu pun berlalu. Dia merasa puas dan senang, membalas perlakuan wanita perebut suaminya.
"Za, aku sadar kalau ku sangat mencintaimu!" ujar Kirani.
"Sekarang aku mencintai Raisa, semua sudah terlambat. Kau yang menghancurkan semuanya!"
"Za, mohon maafkan aku!" isaknya.
Eza pun kemudian berlalu meninggalkan kafe dan hendak kembali ke restoran. Sebuah panggilan telepon dari Lita membuat ia menepikan kendaraannya.
Seketika wajahnya mendadak panik dengan mata berkaca-kaca, ia pun memutar balik arah menuju rumah sakit.
-
"Bagaimana keadaan Raisa, Kak?"
__ADS_1
"Dokter belum keluar dari ruangannya."
"Kenapa dia bisa kecelakaan? Aku sudah menyuruhnya untuk menungguku," ujar Eza.
Lita yang wajahnya tampak panik berkata, "Dia melihat kau bersama Kirani!"
"Apa!" Eza tak tahu kalau Raisa mengikutinya.
"Saat keluar dari restoran, aku mengikuti kalian sampai di kafe. Begitu sampai, Nona Raisa sepertinya menangis melangkah cepat ke arah parkiran. Aku pun mengikutinya lagi."
"Kenapa Kakak tidak memberitahuku kalau Raisa ada di kafe itu?"
"Aku tidak sempat menghubungimu karena Nona Raisa mengendarai mobilnya terlalu kencang," jawab Lita.
Eza meremas wajahnya, ia merasa menyesal meninggalkan Raisa tanpa memberitahu sebenarnya. "Pasti dia salah paham!" ucapnya lirih.
"Kau ini masih saja menemui wanita itu!" omel Lita.
-
"Bagaimana keadaan putri kami?" tanya Devan.
"Dokter sedang mengobatinya, Tuan." Jawab Lita.
...----------------...
Dua belas jam terbaring, akhirnya Raisa sadar. Ia menggerakkan jemarinya. Clarissa yang merasakan gerakan itu segera terbangun dan terbangun.
"Kamu sudah sadar, Nak?" tanya Clarissa senang.
Devan yang mendengar istrinya bersuara segera bangkit dari sofa dan menghampiri ranjang putrinya.
__ADS_1
Clarissa bergegas memencet tombol.
Tak lama Dokter dan beberapa orang perawat datang dan memeriksa kondisi tubuh Raisa.
"Kenapa kaki saya tidak bisa digerakkan, Dok?" tanya Raisa lemah.
"Nona harus banyak bersabar dan terus melakukan pengobatan," jelas Dokter.
Devan terus menggenggam tangan istrinya yang bersedih agar tetap kuat. Karena sebelumnya Dokter sudah memberi tahu pada mereka tentang kondisi putrinya.
"Maksud Dokter saya lumpuh?" tanya Raisa.
Dokter pun mengangguk pelan.
Seketika air mata Raisa tumpah, ia menjerit sekuatnya. Clarissa dan Devan cepat berlari memeluknya.
"Raisa sekarang cacat, Ma!" isaknya.
"Sayang, tenanglah kami akan melakukan yang terbaik untukmu," Clarissa menenangkan putrinya.
"Nona, tenanglah. Kami memiliki rekomendasi Dokter Saraf terbaik yang dapat membantu kesembuhan anda," ujar Dokter pria paruh baya itu.
"Benar, Nak!" Devan membelai rambut putrinya.
Setelah mengobrol dan Raisa mulai tenang, Dokter keluar dari ruangan.
Eza pun mendekati pria itu, "Bagaimana kondisinya?"
"Dia sudah sadar, Tuan."
"Syukurlah!" ucap Eza lega.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi, Tuan." Dokter pun berlalu.
Eza kembali duduk di kursi yang tidak jauh dari ruangan rawat inap Raisa, ia takkan masuk ke dalam sebelum mendapatkan izin dari Devan.