
Hari ini peluncuran produk parfum di mana Clarissa menjadi modelnya. Seluruh tamu undangan yang hadir menikmati hidangan yang telah disediakan.
Harlan mengobrol dengan Clarissa dan kedua temannya. Acara dilaksanakan sebagai wujud syukur karena dua puluh persen produk sudah dipesan.
Devan yang baru datang menghampiri keempatnya. Ia tersenyum pada Clarissa dan wanita itu membalas senyum canggung.
"Sepertinya ada yang harus kita selesaikan, permisi!" Yuna menarik tangan Tina dan menjauh.
"Aku juga, mau..." Clarissa hendak pergi namun tangannya di tarik Devan.
Devan melihat ke arah Harlan dan menatap pria seakan ingin menerkamnya. "Kau masih tetap di sini?"
"Aku yang punya acara, tentunya sesuka hatiku dong mau ke mana," Harlan menjawab santai.
Devan menatap kesal temannya itu.
Seorang wanita muda berjalan menghampiri ketiganya. "Hai semua!" sapanya.
"Laura?" tampak wajah Harlan terkejut.
"Hai, kenalkan aku Laura!" wanita itu mengulurkan tangannya dan Clarissa menyambutnya sementara itu Devan membuang wajahnya dan cuek.
Laura melihat pria yang ada di samping Clarissa yang tak menyambut perkenalannya malah menunjukkan wajah dingin.
Clarissa tersenyum kaku saat tatapan mata Laura ke arah Devan.
"Mengapa kau di sini?" Harlan berbisik di telinga Laura.
__ADS_1
"Aku di sini untuk menghadiri acara peresmian produk baru dirimu. Apa salah?" Laura menatap Harlan.
"Tidak, sih. Awas saja kalau berbuat masalah," ancam Harlan.
"Aku tidak ingin berbuat masalah tapi wanita ini membuatnya," Laura menyiramkan air dari gelas sedari tadi ia pegang ke wajah Clarissa.
"Laura!" bentak Harlan.
Devan mengeraskan rahangnya melihat wanitanya di siram, ia merampas gelas yang di genggam Clarissa lalu menyiramkannya kembali kepada Laura.
"Kau!" Laura terkejut jika Devan berani menyiram wajahnya.
"Berani saja kau menyentuhnya, aku tidak akan tinggal diam!" ancam Devan. Ia menarik tangan Clarissa dan menjauh dari Harlan dan Laura.
Harlan melihat sekitarnya dan merasa malu. "Kau ke sini hanya untuk membuat masalah," geramnya.
"Dia tidak menggodaku, aku yang mendekatinya. Kita masih dijodohkan belum menikah," tutur Harlan.
"Kau harus menjaga sikapmu, Harlan!"
"Kau merusak acara ku saja!" Harlan pun berlalu.
Laura berdecak kesal lalu ia pun pergi.
Sementara itu Clarissa meminta Devan untuk melepaskan genggamannya setelah jauh dari keramaian.
"Harusnya kau tak perlu mempermalukan dirimu dengan menyiramnya lagi!"
__ADS_1
"Apa aku tak boleh membelamu?" Devan menatap Clarissa.
"Kau tahu tadi betapa banyak orang berada di sana, ada juga para media."
"Aku tidak peduli, Rissa. Dia sudah berusaha menyakitimu dan mempermalukanmu," tutur Devan.
"Aku sudah terbiasa di permalukan seperti ini, Van. Bukankah kau juga pernah melakukannya itu padaku?"
"Rissa, aku minta maaf untuk itu."
"Aku ini seorang artis dan berita negatif tentunya adalah makanan sehari-hari ku, jadi tidak perlu menjadi penolongku." Mata Clarissa tampak berkaca-kaca.
"Rissa!" Devan menatap lirih wanita dihadapannya itu.
"Pembatalan pernikahan adalah berita yang paling menyakitkan bagi ku. Bukan aku saja yang malu tapi kedua orang tuaku. Ku berharap kau adalah pria yang dapat menerima aku apa adanya tanpa melihat masa laluku. Ternyata kau sama saja dengan para ibu-ibu yang menjauhkan anak laki-lakinya untuk mendekatiku karena menganggap Ibuku seorang pelakor."
Devan meraih tubuh wanita di depannya itu dan mendekapnya. Clarissa berusaha melepaskan pelukannya namun ia tak mampu. "Aku minta maaf, Rissa!"
Clarissa semakin mengencangkan tangisannya di pelukan Devan. Pria itu kemudian melepaskan pelukannya, menghapus air mata Clarissa yang jatuh di pipi dengan jemarinya.
Lalu Devan menangkup wajah Clarissa dengan kedua tangannya dan menatap dalam kedua bola matanya. "Aku janji akan menjagamu!"
Clarissa yang masih sesenggukan menganggukkan kepalanya.
Perlahan kepala Devan sedikit menunduk dan wajahnya mendekati bibir Clarissa.
"Rissa!" panggil seseorang.
__ADS_1
Devan kembali menyempurnakan posisi tubuhnya. "Mengganggu saja!" berdecak kesal.