Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Raya vs Rey


__ADS_3

Clarissa kini berada di restoran yang menjadi tempat langganan Devan. Pria itu sudah memesankan makanan untuk dirinya dan juga kekasihnya.


Hubungan keduanya belum diketahui keluarga besar. Devan takut Oma Fera akan menjauhi dirinya dengan Clarissa. Ia akan memberitahunya saat waktu yang tepat.


"Kenapa kau menyuruh Hilman menyampaikannya?" tanya Clarissa.


"Kau pasti akan lama membalas pesan dari ku!" jawab Devan.


"Ya, kau tahu. Terkadang pesan yang balas Tina atau Yuna," ucap Clarissa.


Tak lama Clarissa tiba, dua pelayan datang dengan membawa beberapa menu. "Aku sudah memesan makananmu," ucapnya.


Clarissa melihat beberapa menu yang dipesan Devan terhidang di atas meja. "Sebanyak ini? Kau tidak salah?"


"Aku tidak tahu makanan kesukaanmu, jadi ku pesan saja semuanya!" jawab Devan.


"Kau bisa bertanya padaku dulu," ucap Clarissa.


"Tak sempat!"


"Mana bisa aku berjalan, jika sebanyak ini," ujar Clarissa.


"Aku akan menggendongmu," sahut Devan.


Clarissa tersipu malu dirayu kekasihnya itu.


"Jangan kebanyakan tersenyum, bisa kenyang aku!" ucap Devan.


"Pintar juga kau merayu Tuan dingin!" Clarissa mulai menikmati satu persatu hidangan.


"Kau harus menghabiskannya!" perintah Devan.


"Kau ingin aku terlihat gendut, begitu!" protesnya.


"Bukankah kau bilang, tidak boleh membuang makanan?"


"Ya, tapi tidak semua dimakan. Aku akan meminta pelayan membungkusnya sebagian," jawab Clarissa.


"Terserahmu saja!"


-


-


Raya melakukan pertemuan bisnis dengan Hiko Andreas, di sebuah restoran tak jauh dari hotel tempat wanita itu menginap.


"Apa kabar Tuan Andreas?" sapa Raya.


"Baik, Nona Raya. Anda sendirian saja?"


"Ya, karena saya sudah mengenal kota ini jadi tak butuh teman untuk menemui anda!"


"Clarissa tidak ikut?"


"Tidak."


"Dia ke mana?"


"Saya tidak tahu, setelah dari Arta Fashion dia entah ke mana," jawab Raya.


"Arta Fashion? Dia kembali lagi di sana?" tanya Hiko.


"Iya." Jawab Raya singkat.

__ADS_1


"Kenapa bisa?" Hiko tak percaya.


"Ya, bisalah. Tuan Hiko Andreas, saya ke sini untuk membahas kerja sama kita yang hampir selesai. Jadi, tolong jangan menyebut nama Clarissa!" jawabnya.


"Baiklah!" Hiko berharap jika ia bisa kembali bertemu dengan Clarissa.


-


-


Malam harinya di kediaman keluarga Artama. Devan sedang menikmati makan malam bersama Oma Fera.


Ia memilih diam, karena Oma pasti sudah tahu kalau Clarissa sudah kembali ke Arta Fashion. Fokus dirinya saat ini menutupi hubungannya dengan wanita itu.


"Apa benar Clarissa kembali?"


"Ya," jawab Devan.


"Apa yang kau lakukan hingga dia mau kembali?"


"Aku memberikan dia honor lima kali lipat," jawab Devan.


"Itu sangat besar sekali," ucap Fera.


"Tapi, itu sebanding dengan penjualan produk kita yang selalu habis di pasaran," jelas Devan.


"Ya, kau benar juga!"


......................


Hari ini Raya akan pergi ke apartemen Clarissa sebelum kembali ke Kota D, ia menaiki taksi online menuju kediaman saudara tirinya itu.


Pagi ini jalanan ibukota sangat macet. Sopir taksi terpaksa berputar-putar mencari jalan alternatif namun tetap saja terjebak.


"Tujuan Nona sebentar lagi sampai, cuma di depan sana jalanan sangat macet sekali," jawab sopir.


"Kalau berjalan kira-kira berapa menit?"


"Tidak sampai sepuluh menit, Nona!"


"Saya turun di sini saja!" Raya menyerahkan selembar uang berwarna merah.


"Baik, Nona. Terima kasih!"


Setelah turun, Raya berjalan perlahan menyusuri jalanan yang kanan kiri banyak pengendara motor yang terjebak macet. "Bisa stres lama-lama aku di kota ini, jika tiap hari macet begini!" gerutunya dalam hati.


Ia melihat ke kanan dan ke kiri hendak menyeberang jalan, namun suara klakson memekikkan telinga. Raya menutup telinganya dan mengarahkan pandangannya pada pengendara mobil yang berhenti dengan tatapan tajam dan sinis.


Pengendara mobil mengeluarkan kepalanya dari jendela. "Hei, cepat pinggir!" teriaknya.


Bukannya minggir, Raya malah menghampirinya dan mengebrak kap mobil. "Kau pikir ini jalanan milikmu!" ucapnya lantang.


Pria itu tak senang dan turun, "Apa yang kau lakukan?" geramnya.


"Oh, ternyata kau pria yang menyebalkan itu!" Raya membuka kacamata hitamnya.


"Kau lagi...kau lagi!" keluh Rey. "Jangan menghalangi jalan mobilku!" protesnya.


"Apa kau bilang? Aku menghalangi jalanmu, aku berjalan di zebra cross tapi kau yang tak tahu rambu lalu lintas!" omel Raya.


Suara klakson mobil saling bersahutan, Rey melihat ke belakang. "Iya, aku akan jalan!" teriaknya. Lalu menatap Raya, "Jangan sampai aku bertemu denganmu lagi!" ia pun bergegas masuk ke dalam mobil dan berlalu.


Raya yang berdiri di pinggir jalan mendengus kesal, "Aku juga sama!" omelnya.

__ADS_1


Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya ke apartemen Clarissa, sesampainya di sana saudaranya itu sudah pergi. Ia berdecak kesal lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi Clarissa. "Kau di mana?"


-


Raya akhirnya pergi ke lokasi syuting Clarissa yang tak jauh dari Arta Fashion. Beruntung saudaranya itu belum mulai berakting.


"Ada apa kau mencariku?" tanya Clarissa yang pakaiannya sedang dirapikan penata busana.


"Aku ingin kau menemaniku membeli oleh-oleh," jawab Raya.


"Baiklah, selesai syuting aku akan menemanimu!" ucap Clarissa.


Raya pun setuju, ia juga melihat saudaranya itu melakukan pekerjaannya dengan duduk bergabung bersama Tina dan Yuna.


Hari ini Devan tak mengikuti syuting Clarissa, ia menyuruh Rey untuk mewakilinya. Biasanya ia akan mengirim Hilman namun sekretaris Presdir tersebut sedang sakit.


Tanpa keduanya sadari Rey dan Raya duduk bersebelahan memperhatikan jalannya syuting. Yuna menyodorkan air mineral kepada Raya. "Ini buatmu, tolong juga berikan ini pada Tuan Rey yang ada disebelah!"


Raya mengambil dua botol air mineral, lalu sebotol lagi ia serahkan kepada pria yang ada disebelahnya. "Tuan, minumnya!"


"Terima kasih!" Rey melihat ke samping dan meraih botolnya. "Kau!" ucapnya terkejut.


Raya segera membuang wajahnya setelah memberikan sebotol air mineral.


"Entah, mimpi aku semalam. Sampai harus dua kali bertemu denganmu hari ini," ucap Rey sambil menenggak minumannya. Beruntung perdebatan keduanya tidak di dengar Yuna dan Tina yang sudah pindah duduk.


Raya memilih tak ikut berkomentar.


"Kau sengaja ya' mengikutiku?" sindir Rey.


Raya menoleh ke arah Rey. "Kau bilang apa?" menatap tak suka.


"Mengikutiku?"


"Kau pikir aku tidak punya pekerjaan," jawab Raya.


"Ya, karena ku lihat beberapa kali kau sering bersama Clarissa apa kau juga asistennya?"


"Apa kau bilang aku asistennya? Aku Raya Ardiana wakil pimpinan AA Grup," jawabnya menekankan kata-katanya.


Rey menyemburkan minumannya. "Aku tidak percaya!" ucapnya.


"Terserah kau mau percaya atau tidak!"


"Kalau kau memang wakil CEO, untuk apa juga di sini?"


"Clarissa dan aku saudara tiri," jawabnya. "Jadi, aku ke kota ini juga ada pekerjaan. Sekalian saja mengunjunginya," lanjutnya.


"Oh, begitu!"


"Kenapa kita jadi saling mengobrol?" tanya Raya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like, komen dan vote..


Sambil menunggu update, kalian boleh mampir ke karyaku yang baru lahir berjudul 'Calon Istriku Musuhku'.


Selamat Berpuasa..


Bahagia dan Sehat selalu..


Terima Kasih 🤗🌹

__ADS_1


__ADS_2