Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Ke Kota Mertua


__ADS_3

Devan hendak ke Kota B seorang diri, ia akan melihat pameran yang diadakan di wahana permainan milik mertuanya.


Clarissa memaksa ingin ikut, padahal suami dan Oma Fera melarangnya. Ia pun menjadi uring-uringan, menolak makan dan memilih berdiam diri di kamar.


Akhirnya, Devan mengajak istrinya itu pergi ke Kota B. Selain mereka berdua ada juga Yuna dan Tina yang ikut serta.


Mobil dikemudikan oleh sopir, Devan dan Clarissa duduk di kursi penumpang. Sementara itu Yuna dan Tina pergi bersama kekasihnya.


Sepanjang perjalanan, Clarissa mendekap lengan suaminya dan merebahkan kepalanya di bahunya.


"Apa kau tetap ingin kita melanjutkan perjalanan?"


"Ya, sayang!"


"Wajahmu pucat sekali," ujar Devan.


"Benarkah?" Clarissa memegang wajahnya. "Apa aku kelihatan jelek?" tanyanya pada suaminya.


"Kau tetap cantik," Devan tersenyum.


"Tapi wajahku pucat, sayang!" memanyunkan bibirnya.


"Makanya tadi tidak usah ikut, istirahat di rumah lebih enak."


"Jika sendirian di sana, kau pasti di goda para wanita!" Clarissa mengungkapkan rasa cemburunya.


"Aku tidak tertarik pada mereka."


"Kalau wanita itu lebih cantik dan segar dari aku, pasti kau juga tergoda."


"Kenapa semenjak hamil cemburumu berlebihan?"

__ADS_1


"Karena aku sayang dan tak ingin ada yang lain di hatimu." Semakin mengeratkan dekapan di lengan suaminya.


-


Sesampainya di wahana permainan milik keluarga Ardian. Sepasang suami istri itu turun setelah dibukakan pintu oleh sopir.


Clarissa merasakan kepalanya pusing, ia memegang keningnya.


Devan yang berada disebelahnya menatap sang istri. "Kau tidak apa-apa, kan?"


"Tidak, sayang."


Tanpa diduga Clarissa memuntahkan isi perutnya dan membasahi kemeja suaminya.


Devan yang melihat kemeja kotor, mengeraskan rahangnya.


Clarissa menatap wajah suaminya mendadak merah. Ia bergegas mengambil tisu dan mengelapnya. "Sayang, aku minta maaf!"


Devan menahan tangan istrinya untuk tidak melanjutkan mengelapnya.


Devan ingin marah tapi tak bisa, semua diluar dugaannya. "Tidak apa, aku akan menggantinya. Di mana toilet?"


"Sayang, kau tidak marah 'kan?" Clarissa bertanya sekali lagi.


"Tunjukkan di mana toilet?" Devan berusaha tersenyum.


"Kita ke ruang kantor Raya saja!" ajak Clarissa.


Keduanya pun pergi ke ruangan kerja Raya, sedangkan sopir mengambil tas berisi pakaian atasannya di mobil.


-

__ADS_1


Selesai mengganti pakaiannya, ia memutar lokasi wahana permainan untuk melihat pameran dengan berjalan kaki.


"Apa kau masih kuat berjalan?" tanyanya pada istrinya.


"Masih."


"Mari, aku gendong!" tawarnya.


Clarissa melihat sekelilingnya, "Aku malu!" bisiknya.


"Kalau begitu di rumah saja, aku menggendongmu!" goda Devan.


"Apa kau tidak kasihan dengan calon bayi kita?" Clarissa menurunkan pandangannya ke arah perut.


Devan menyentuh perut istrinya dengan tangan kanannya. "Aku akan pelan-pelan!" tersenyum nyengir.


"Kau ini bicara apa di tengah keramaian orang!" bisik Clarissa sembari tersenyum.


"Ayo, kita lanjutkan keliling!" Devan mengenggam tangan istrinya.


-


Selama di Kota B, Clarissa dan suaminya menginap di rumah mertuanya. Sedangkan kedua temannya dan pasangannya menginap di hotel.


Claudia begitu antusias menyambut anak dan menantunya, apalagi tahu jika putrinya itu hamil.


Selama menikah, Devan belum pernah tidur di rumah mertuanya. Pria itu mengedarkan pandangannya melihat isi kamar istrinya.


"Kau tidak suka dengan kamarnya?" Celetuk Clarissa.


"Bagaimana kau bisa tidur dengan ukuran kamar sekecil ini?" tanya Devan mengomentari kamar istrinya yang hanya seluas 4×5 meter.

__ADS_1


"Ini kamar cukup nyaman, tidak terlalu besar. Aku kangen dengan suasananya," Clarissa menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


Devan menarik tangan istrinya, "Bersihkan tubuh dulu!"


__ADS_2