Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.17- Jauhi Putriku!


__ADS_3

Begitu mendapatkan kabar dari Hilman bahwa putrinya pingsan dan di rawat di rumah sakit. Devan beserta keluarganya kembali ke tanah air pada hari itu juga, padahal mereka baru saja tiba beberapa jam yang lalu.


Pagi hari waktu setempat, Devan tiba di bandara. Begitu sampai mereka bergegas ke rumah sakit.


Dengan berjalan cepat, Devan dan istrinya menemui putrinya yang di rawat di ruangan mewah dengan fasilitas nomor 1.


Begitu masuk, Clarissa berlari menghampiri putrinya dan memeluknya. "Kenapa kamu bisa pingsan, Nak?" ia mengelus rambut putrinya.


"Raisa terjebak lift, setelah itu tidak tahu apa-apa lagi," jawabnya.


"Bagaimana lift bisa macet seperti itu?" Devan tampak kesal.


Raisa menaikkan kedua bahunya.


Setelah mengecup kening putrinya, Devan keluar dari ruangan menghubungi seseorang.


"Ma, kenapa kalian pulang lebih cepat?"


"Papa kamu sangat khawatir dengan kondisimu, jadi kami memilih pulang lebih awal," jawab Clarissa.


"Jadi, bagaimana dengan sekolah Darren?"


"Kami belum sempat mencarinya."


"Maafkan Raisa, Ma!"


"Tidak, sayang." Clarissa memegang wajah putrinya. "Apa benar kamu satu lift dengan Eza?" lanjut bertanya.


Raisa mengangguk.


"Beruntung ia begitu sigap membawamu ke sini," ujar Clarissa.

__ADS_1


"Tapi, Raisa takut jika Papa memarahi Eza," ucapnya sendu.


"Semoga saja tidak," harapan Clarissa.


...----------------...


Sehabis menemui petugas bagian perawatan gedung kantor, Devan akan bertemu dengan Eza di ruangan kerja miliknya.


"Tuan Eza, Tuan Devan ingin bertemu dengan anda," ujar Hilman.


Eza dan manajernya saling bertatapan.


"Mari, Tuan. Saya antar ke ruangannya," ajak Hilman.


Lita memberikan isyarat agar menemui Presdir.


Eza dan Hilman berjalan ke ruangan kerja milik Devan.


"Tuan, anda model kedua yang masuk ke ruangan kerja khusus Presdir. Sebelumnya ada Nona Clarissa, sangat jarang ada orang yang bisa masuk ke ruangan itu kecuali saya dan anggota keluarga Tuan Devan, tentunya juga petugas kebersihan," jelas Hilman.


Begitu masuk, Eza berjalan sedikit menunduk dan berusaha tersenyum.


"Silahkan duduk!" perintah Devan.


Eza menarik kursi lalu duduk dihadapan Presdir.


"Apa kemarin kau satu lift dengan putriku?"


"Benar, Tuan."


"Kenapa dia bisa pingsan? Apa yang kau lakukan padanya?"

__ADS_1


"Saya tidak melakukan apa-apa dengan Nona Raisa, Tuan. Tiba-tiba ia terduduk lalu pingsan," jelas Eza.


"Kenapa putriku ketika bersamamu selalu mengalami sesuatu?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan." Eza menundukkan kepalanya.


"Waktu di Kota B, putriku mengalami cedera. Sepulang dari sana dia mengalami pusing. Kemarin di lift dia pingsan, entah apa yang dilihatnya darimu?"


Eza tak bisa menjawabnya.


"Aku minta padamu, jauhi putriku!"


"Aku tidak pernah mengejar putrimu tapi dia yang selalu mengejarku," batin Eza.


"Sekarang kau boleh pergi!" tanpa menatap Eza.


"Permisi, Tuan!" Eza pun meninggalkan ruangan Presdir.


Lita yang menunggu Eza keluar dari ruangan begitu sangat penasaran apa yang mereka bicarakan.


"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?"


"Nanti aku akan katakan," jawabnya. Ia berjalan ke arah parkiran gedung Arta Fashion.


Sesampainya di mobil, Lita kembali bertanya alasan Eza dipanggil ke ruangan Presdir.


"Presdir memarahiku karena membuat putrinya pingsan," jelas Eza.


"Tapi, itu bukan kesalahanmu."


"Ya, Presdir menuduhku selama putrinya di dekatku selalu saja ada hal yang tidak diinginkan," ujar Eza lagi.

__ADS_1


"Astaga, kenapa Presdir menuduhmu seperti itu? Apa dia sangat membencimu?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


__ADS_2