Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.36- Kepulangan Raisa


__ADS_3

Empat minggu berlalu akhirnya Eza bisa kembali ke luar negeri menyusul kekasihnya. Ia sengaja tidak memberi tahu Raisa tentang kedatangannya.


Begitu sampai, ia mengunjungi tempat penginapan Raisa dan keluarganya namun ia menelan kekecewaan.


Devan beserta keluarganya telah kembali ke tanah air kemarin siang. Hal itu Eza dapatkan dari Darren adik kandung kekasihnya.


"Kakak sudah jauh-jauh ke sini tapi Kak Raisa sudah pulang," ujar Darren.


"Padahal aku ingin memberikannya kejutan," jelas Eza.


"Ribet deh, Kak. Lebih baik bicara saja terus terang kalau mau ke sini," tutur Darren.


"Payah bicara dengan anak kecil sepertimu!" ketus Eza.


"Lebih baik kayak aku, Kak. Daripada hubungan kalian yang ribet," sindir Darren.


"Begini nih, kalau belum pernah mengalami jatuh cinta. Ntar kalau kamu sudah patah hati, Kak Eza akan mentertawakanmu!" janjinya.


"Kita lihat saja nanti!" Darren tersenyum menantang.


"Kenapa Kak Raisa cepat sekali pulangnya?"


"Ada urusan perusahaan makanya Kak Raisa ikut pulang juga lagian Dokter Bryan ikut juga," jelas Darren.


"Dokter itu juga ikut? Mau apa dia ke sana?"


"Untuk memantau kesehatan Kak Raisa secara khusus," jawab Darren.


"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera kembali ke tanah air," Eza lalu menghubungi asistennya untuk memesan tiket pulang.

__ADS_1


...----------------...


Dua hari kemudian, Eza sudah tiba. Sesampainya ia langsung pergi ke rumah kekasihnya tanpa mengenal lelah.


Dia terpaksa harus sabar menunggu di halaman rumah kediaman Artama. Karena keluarga kekasihnya itu sedang berbicara dengan tamu.


Selesai tamu tersebut berpamitan, Raisa keluar menghampiri Eza dengan tangan kanannya memegang tongkat.


Eza yang melihat kekasihnya berjalan menghampirinya bergegas mendekatinya. Ia membantu Raisa berjalan ke arah bangku taman.


"Maaf tidak memberitahu kamu kalau aku sudah kembali ke sini!"


"Tidak masalah, yang penting kamu baik-baik saja dan bisa berjalan seperti ini," ujar Eza.


"Papa ingin bicara padamu," ucap Raisa.


"Apa Tuan Devan akan mengusirku dan menjauhi kita?" tudingnya.


Akhirnya dengan keberanian Eza menemui calon papa mertuanya.


Ia kini duduk berhadapan dengan Devan Artama dan Clarissa Ayumi.


"Apa kau serius dengan putri kami?" Tanya Devan berdiri.


Eza mengangguk pelan.


"Suruh perwakilan keluargamu datang menemui kami untuk melamar putriku," ujar Devan


"Benarkah, Pa?" Tanya Raisa.

__ADS_1


"Apa Papa pernah berbohong?" Devan balik bertanya.


"Dengan senang hati saya akan membawa salah satu keluarga menghadap anda," ujar Eza senang.


Raisa berdiri lalu berlari kecil memeluk Devan. "Terima kasih, Pa!"


"Ya, sayang!" Devan mengecup pucuk kepala Raisa.


Eza mendelikkan matanya melihat Raisa sudah berjalan.


Clarissa yang duduk tersenyum melihat ekspresi wajah heran calon menantunya itu. "Raisa sengaja merahasiakan ini dari kamu," ujarnya.


Raisa melihat ke arah kekasihnya, "Maaf!" menunjukkan wajah polosnya.


Eza tersenyum bahagia, kekasihnya itu sudah kembali normal ditambah Devan memberi restu hubungan mereka.


"Aku mau keluargamu datang dua hari lagi ke sini," pinta Devan.


"Baik, Tuan." Eza mengangguk.


Devan dan Clarissa pun berlalu meninggalkan kedua pasangan kekasih itu di ruang tamu.


"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?"


"Aku ingin memberikan kejutan untukmu," jawab Raisa tersenyum.


Eza memeluk kekasihnya, "Aku senang sekali hari ini!"


"Aku juga!" ucap Raisa.

__ADS_1


"Bisa tidak kalau berpelukan jangan di depanku!"


Suara seseorang membuat Raisa dan Eza menoleh.


__ADS_2