
Setelah Presdir dan istrinya pergi, Intan dan Raya kembali beradu mulut.
"Ini semua karena kau!" Intan menatap kesal Raya.
"Rasakan!" Raya tersenyum puas.
"Dasar wanita jelek!" ejek Intan.
"Apa kau bilang?" Raya berusaha mendekati Intan.
"Ayo, kita pulang!" Rey mengajak kekasihnya pergi.
"Aku belum puas membalasnya!" Raya berusaha meraih tubuh Intan namun Rey berhasil mendekapnya.
"Lepaskan aku!" bentak Intan pada manajernya. "Karena dia honorku dipotong!" geramnya.
"Nona-nona, tolong hentikan perdebatan kalian!" sentak Hilman. "Apa kalian tidak mengerti, di sini aku yang dirugikan?" dengan wajah memelas.
"Bodoh amat!" teriak Raya dan Intan , keduanya pun berlalu.
"Dasar wanita!" keluh Hilman.
"Yang sabar, Hilman. Aku juga merasakan hal yang sama seperti dirimu!" Rey berkata agar sekretaris Presdir kuat menghadapi cobaan.
"Tuan, maafkan artis saya!" manajer Intan memohon maaf.
"Iya, kepala ku jadi pusing karena ulah mereka!" Hilman memegang keningnya berjalan ke meja kerjanya.
-
Intan sengaja menunggu Presdir keluar dari ruangannya, biasanya dia akan segera pulang setelah selesai pemotretan.
Lima belas menit menunggu akhirnya Presdir dan istrinya keluar dari ruangannya, ia bergegas berdiri dan mengejar langkah keduanya.
__ADS_1
"Presdir, tolong jangan potong honor saya!" Intan memohon maaf.
Devan tak menggubrisnya dan tetap berjalan begitu juga dengan Clarissa.
"Nona, tolong katakan pada Presdir untuk tidak memotong honor saya!" Intan terus mengejar dan memegang lengan tangan Clarissa membuat Devan dan istrinya menghentikan langkahnya.
"Hei, siapa yang menyuruhmu menyentuh tangan istriku?" hardik Devan membuat Intan terkejut dan melepaskan genggamannya.
"Maaf, Tuan!" Intan tertunduk lesu.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Devan bertanya tanpa menatap modelnya.
"Saya salah, Tuan." Intan terbata.
"Karena ulah kalian, istriku jatuh. Kalau saja sampai ia terluka, aku tidak akan segan melaporkan kalian!" Devan tampak kesal.
"Maafkan kami, Tuan!" Manajer Intan ikut bicara.
"Jika aku lihat keributan seperti tadi, jangan harap Arta Fashion melanjutkan kerja sama denganmu Nona Intan Ratu!" Devan memberikan peringatan.
"Saya tidak akan melakukannya lagi," Intan menyesal.
"Ayo, sayang!" Devan meraih tangan istrinya dan menggenggamnya, keduanya pun berlalu.
-
Raya mengajak bertemu Clarissa di sebuah kafe dekat kediaman Artama. Clarissa pergi tanpa di dampingi suaminya.
"Kau bilang akan pulang, kenapa masih di sini?" Clarissa menyedot jus mangga.
"Aku merasa bersalah pada Rey," tertunduk lesu.
"Masalah tadi pagi?" tebak Clarissa.
__ADS_1
Raya mengangguk pelan.
"Dia marah-marah padamu?"
"Tidak juga."
"Lalu?"
"Tante Siska pasti semakin membenciku karena gaji Rey harus dipotong karena ulahku," jawabnya sendu.
"Aku tidak bisa membantumu, kau tahu bagaimana suamiku. Keputusannya tak bisa diganggu gugat," jelas Clarissa. Ia paham maksud dan tujuan saudara tirinya itu datang menemuinya.
"Rissa, aku harus bagaimana?" Raya mulai merengek.
"Ya, harus diterima dengan lapang dada." Clarissa tersenyum mengejek.
"Kau ini bukan menolong saudaranya," protes Raya.
"Kalian saja yang bikin onar di kantor, tadi Intan juga memohon pada Devan untuk tidak memotong honornya."
"Lantas Devan membatalkannya?"
"Tidak, dia malah memarahinya. Ah, suamiku itu memang sangat peduli padaku, dia tak mau istrinya ingin terluka," Clarissa tersenyum bangga.
"Kau enak, sudah menikah dan cinta kalian direstui. Lah, aku masih butuh perjuangan," ungkap Raya.
"Dulu aku juga sama denganmu. Malah hampir gagal menikah, tapi namanya jodoh tidak akan kemana," Clarissa menampilkan deretan gigi putihnya.
"Semoga saja Tante Siska hatinya yang keras segera luluh," doa Raya.
"Semoga saja!" harap Clarissa. "Aku harus pulang, Devan akan marah jika diriku tidak sampai rumah tepat waktu," Ia beranjak berdiri.
"Ya, Rissa. Hati-hati!"
__ADS_1