
Clarissa masih terlelap tidur meskipun matahari sudah tinggi. Suaminya yang berada di sampingnya terus mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
"Sayang, aku masih mengantuk!" Dengan mata masih terpejam.
"Hari ini kita melewati sarapan pagi bersama dengan mereka!" Devan memainkan rambut istrinya.
"Kita makan di sini saja, aku malas bertemu dengan Tante Siska," Ia membuka matanya kemudian duduk di samping suaminya.
"Kita tidak akan bertemu dengannya, pasti mereka juga sudah sarapan," Devan menyakinkan istrinya.
"Baiklah, kalau begitu aku mau mandi. Kau mau ikut denganku?" Clarissa menaikkan alisnya dan tersenyum genit.
"Ayo!" Devan bergegas turun dari ranjang dan menggendong istrinya ke kamar mandi.
-
Devan mengenggam erat tangan istrinya menuju restoran hotel. Sebagian keluarga masih menikmati sarapan termasuk Raya dan Rey.
Devan dan istrinya ikut duduk bergabung dengan Oma Fera. Di tempat meja yang sama ada Siska dan suaminya begitu juga berserta anak dan menantunya.
"Seperti pengantin baru saja, lama sekali keluar kamar," sindir Siska sambil memainkan ponselnya.
"Ma.." tegur Papa Rey.
Devan dan Clarissa lantas memesan makanan. Keduanya memilih diam sesekali mereka menjawab ketika Oma Fera, Rey dan Papanya bertanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian makanan yang dipesan datang, Clarissa dan suaminya mulai menikmati sarapan yang dihidangkan.
"Raya, pulang dari sini. Kau harus segera pergi ke dokter kandungan," Siska menatap menantunya. "Mama ingin menimang cucu," melirik Clarissa dan suaminya.
"Ma, Raya dan Rey baru seminggu menikah," ujar Papa Rey.
"Memangnya kenapa kalau mereka baru seminggu menikah? Bukan itu lebih baik jadi kita harus tahu, Raya bisa memiliki keturunan atau tidak!" sindir Siska pada menantunya.
Raya menjatuhkan sendok dan piring di piring secara kasar, ia berusaha tetap sabar.
Rey melihat raut wajah istrinya yang kesal segera menegur Siska. "Ma, jangan memulai lagi!" melihat ke arah wanita paruh baya itu.
Devan dan istrinya hanya melihat perdebatan kecil antara ibu dan anak sambil mengunyah makanan.
"Aku tidak mau mereka seperti itu, Bibi." Siska membela diri.
"Setahun kau menunggu janin di dalam rahimmu itu. Menantumu belum sebulan menikah begitu juga cucu menantuku baru memasuki setengah tahun pernikahan. Aku tidak memaksa dirinya untuk memberikan cicit. Kenapa kau tidak peka sesama wanita?" sindir Fera.
Sindiran yang diucapkan Fera membuat Siska terdiam.
"Oma akan pulang hari ini. Apa kalian ingin pulang bersama ku?" Fera melihat ke arah cucu dan istrinya lalu ia berdiri.
"Kami akan pulang bersama Oma," jawab Devan. Ia menghentikan aktivitas makannya, memundurkan kursinya.
Clarissa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suaminya. Ketiganya meninggalkan restoran setelah berpamitan dengan keluarga Rey.
__ADS_1
-
Devan duduk di samping sopir, sedangkan istri dan Oma Fera berada di kursi penumpang.
Selama perjalanan Clarissa lebih memilih diam, pandangannya selalu menatap jalan.
Fera melihat cucu menantunya kemudian bertanya, "Apa kau masih memikirkan ucapan Siska?"
Clarissa mengalihkan pandangannya menatap Oma, "Tidak!"
"Lalu apa yang kau pikirkan?" tanya Fera lagi.
Devan yang berada di kursi depan menoleh ke belakang.
"Tidak ada, Oma." Clarissa berusaha tersenyum.
"Oma mengerti perasaanmu saat ini, jangan diambil hati ucapan Siska tadi. Nikmati saja waktu kalian berdua sebelum menjadi orang tua," jelas Fera.
"Bagaimana kalau Rissa tidak bisa memberikan keturunan untuk Devan?" Clarissa bertanya pada Oma Fera dengan suara menahan tangis.
"Jangan berbicara seperti itu, kalian harus berusaha dan berdoa!" Fera meraih tangan Clarissa dan menepuk punggung tangan dengan lembut sembari tersenyum.
Clarissa lantas memeluk tubuh wanita renta yang masih kelihatan segar dan sehat. "Terima kasih, Oma!"
Devan kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalan dan tersenyum.
__ADS_1