
Sore harinya sebelum jam pulang kerja Yuna menelepon Hilman, ia mengatakan kalau Clarissa besok pagi bisa melakukan pemotretan.
Hal itu Hilman sampaikan kepada Devan di ruang kerja milik Presdir. "Kalau begitu saya permisi, Tuan!" pamitnya.
Setelah Hilman berpamitan dan meninggalkan ruangan, Devan menyunggingkan senyumnya. "Ternyata benar, obatmu itu uang!" gumamnya.
Devan membuka ponselnya dan melihat media sosial milik Clarissa. Ratusan foto dan video terpampang jelas wajah cantik sang artis. Ada beberapa foto di akun tersebut memperlihatkan keakraban Clarissa dan ibunya.
"Kenapa tidak ada foto Clarissa dengan ayah kandungnya?" tanya Devan pada dirinya sendiri.
Devan kembali melihat matanya tertuju pada sebuah foto yang menunjukkan seorang gadis kecil berusia 8 tahun di pangkuan seorang wanita muda. Seketika kepala Devan pusing, ia memijit keningnya.
"Aku seperti mengenalnya, apa itu foto Clarissa kecil?" tanyanya dalam hati.
Ia membuka kolom komentar para penggemarnya pun menanyakan pertanyaan yang sama dengan dirinya dan benar saja foto itu adalah Clarissa masa kecil.
...----------------...
Gedung Arta Fashion
Pagi ini Clarissa begitu semangat melakukan pemotretan padahal kemarin sore ia keluar dari rumah sakit.
Tepat jam 10 pagi, ia melakukan pengambilan gambar tak sampai dua jam pemotretan selesai.
Clarissa menghampiri Hilman di meja kerjanya. "Hilman!" sapanya.
Hilman mendongakkan kepalanya lalu berdiri, "Nona!"
"Aku ingin bertemu dengan Presdir. Apa dia ada di ruangannya?" tanyanya.
"Ada, Nona. Silahkan masuk!" Hilman mempersilakan.
"Terima kasih," ucap Clarissa tersenyum.
Clarissa mengetuk pintu Presdir setelah diberi izin lalu ia masuk dan tersenyum pada pria yang membuatnya jatuh hati.
"Ternyata kau masih punya wajah untuk menemui ku!" sindir Devan.
Clarissa berjalan mendekati meja Devan dengan tersenyum imut dan genit.
"Jangan tunjukkan wajah nakalmu itu!" Devan segera membuang wajahnya.
"Apa wajahku seperti wanita penggoda?" tanyanya tanpa ada rasa marah.
"Ya, sangat membosankan!" jawab Devan tegas.
Clarissa terkekeh lalu berkata, "Jangan terlalu benci padaku Presdir nanti kalau jatuh cinta anda repot!"
Devan menerbitkan senyum sinisnya. "Takkan mungkin!"
"Kita lihat saja nanti!" Clarissa semakin menunjukkan wajah tak tahu malu.
"Ada apa kau kemari?" tanya Devan ketus.
"Aku cuma ingin katakan terima kasih, Presdir telah mentransfer uang padaku!"
"Sudah aku tebak, kau pasti sehat dengan uang yang ku beri!" Devan menarik sudut bibirnya menatap rendah wanita yang ada didepannya.
Bukannya marah tapi Clarissa malah menunjukkan senyum manisnya. "Alangkah baiknya kalau anda tidak memotong honorku!"
__ADS_1
"Itu tetap akan ku lakukan, karena berjumpa denganmu saja sudah membuatku rugi!" ucap Devan.
Clarissa malah makin tersenyum, "Suatu saat anda yang akan rugi tidak bertemu denganku!"
"Aku mau makan siang, pergilah!" usir Devan yang beranjak dari kursinya.
"Aku boleh ikut?" Clarissa menawarkan diri.
"Aku tidak biasa makan dengan seorang wanita kecuali Oma," jawab Devan berjalan ke arah pintu.
"Anggap saja ini makan siang terakhir kita," ujar Clarissa membalikkan tubuhnya.
"Terakhir?" Devan mengernyitkan dahinya.
"Kontrak kerja sama akan berakhir beberapa minggu lagi, tentunya kita tidak akan bertemu lagi," jawab Clarissa mendekati Devan.
"Kenapa aku tidak senang kalau kontraknya berakhir?" tanya Devan dalam hati.
"Presdir!" panggil Clarissa melambaikan tangan di depan wajah Devan.
"Ikut aku!" ajak Devan membuka pintu disusul Clarissa dibelakangnya dengan wajah sumringah.
-
Kini mereka berada di restoran tak jauh dari gedung Arta Fashion. Devan biasa menikmati makan siang di tempat ini, hingga para pelayan paham makanan dan standar kebersihan yang ia inginkan.
Menu makanan khusus untuk Devan telah terhidang, karena sebelumnya Hilman sudah memesankannya.
Clarissa memandangi dengan heran menu yang telah tersaji di atas meja ketika mereka baru saja duduk.
"Cepat sekali!" ucap Clarissa. "Untukku mana?" tanyanya.
Clarissa memanggil pelayan dan memesan makanan.
Devan mulai menikmati makanan yang telah tersaji.
"Anda tidak menunggu ku?" tanya Clarissa.
"Tidak, aku tak punya waktu untuk menunggu makananmu datang," jawab Devan.
"Jadi, nanti aku makan sendiri?"
"Ya, makanannya akan ku bayar. Kau tenang saja, ini tidak termasuk utang," jelas Devan.
Clarissa mendengus kesal, ia berharap bisa makan berdua malah dia lebih dahulu makan. Clarissa pun bangkit dari kursinya.
"Kau mau ke mana?" tanya Devan.
"Ke toilet," jawab Clarissa berbohong padahal ia pergi ke kasir restoran. Tak sampai lima menit di kembali ke meja.
"Cepat sekali?"
"Toiletnya penuh," jawab Clarissa lagi-lagi berbohong.
Devan telah selesai makan siang, pelayan datang dengan membawa dua kantong berisi makanan. "Kenapa di bungkus?" tanyanya.
"Biar makan di apartemen saja!" jawab Clarissa.
"Rissa, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Devan mengelap bibirnya dengan tisu.
__ADS_1
"Tanya apa?"
"Kenapa setiap postingan foto yang kau unggah di media sosial tak ada wajah ayah kandungmu?" tanya Devan.
Bukan dengan cepat menjawab, Clarissa malah tersenyum. "Ternyata anda diam-diam memperhatikanku?" ia menaikkan kedua alisnya.
"Ya, tidak juga. Karena kau artis di Arta Fashion jadi aku harus tahu sedikit tentang kehidupanmu," jawab Devan terbata.
"Apa itu salah satu syaratnya? Anda seperti penggemar yang ingin tahu kehidupan idolanya," tutur Clarissa.
"Hei, aku tidak ingin saja, Kalau artis ku punya citra buruk," Devan memberi alasan dengan asal.
"Ya, ya, aku akan jawab pertanyaan anda," ucap Clarissa.
"Cepat katakan!" Devan tak sabar.
"Ayah tidak pernah mengizinkanku memberi tahu kepada orang lain kalau aku adalah putrinya," jelas Clarissa.
"Kenapa?" Devan semakin penasaran.
"Dia takut hal buruk menimpaku," jawab Clarissa.
"Lalu kenapa kau membayar utang ayahmu?" tanya Devan lagi.
"Kau tahu tentang itu?" tanya Clarissa.
"Ya," jawabnya gugup.
"Ternyata anda tahu semua tentangku!" ujar Clarissa tersenyum.
"Sudah jawab aja pertanyaan ku!" ucap Devan.
"Ibu mengatakan kalau ayah kandungku memiliki utang padahal dia berutang bukan untuk dirinya, tapi ia di tipu," jelas Clarissa. "Beberapa tahun ini aku bekerja keras untuk biaya hidupku dan membayar utangnya," lanjutnya menjelaskan.
"Biaya hidup? Bukankah suami dari ibumu orang kaya?" tanya Devan.
"Paman Ardian sudah terlalu banyak menolong aku dan ibu, dia lebih memilih membelaku daripada putri kandungnya," jelasnya. "Aku tak mau menyusahkan dia lagi," lanjutnya dengan wajah tertunduk.
Devan menatap Clarissa dengan iba.
Clarissa mendongakkan kepalanya, "Apa anda ingin tetap di sini?"
"Tidak!"
"Ayo, pulang aku sudah lapar sekali!"
"Kenapa kau tidak makan di sini saja?" tanya Devan.
"Aku tak mau anda tinggal," jawab Clarissa.
"Kalau begitu, biar aku antar pulang!" tawar Devan.
"Benarkah?" tanya Clarissa tak yakin.
Devan mengangguk memberikan jawaban.
Mereka berdua berjalan ke arah parkiran restoran sebuah motor melaju sangat kencang memasuki halaman parkir.
Clarissa yang melihat motor tersebut mendekati Devan dengan cepat menarik tubuh pria itu hingga membuat Clarissa terjatuh dalam posisi duduk. "Auww!" teriaknya kesakitan.
__ADS_1