
Baru beberapa langkah Devan membalikkan badannya dan berkata kepada Eza yang masih berdiri. "Besok pagi Raisa tiba di sini, kau boleh menjemputnya!"
Eza yang mendengarnya tersenyum senang.
Devan kembali melangkah ke ruangan kerjanya.
Eza melanjutkan aktivitasnya hari ini dengan hati bahagia, akhirnya ia mendapatkan restu dari Presdir.
Selesai melakukan pekerjaannya hari ini, ia meminta Lita untuk menemaninya mencari hadiah buat Clarissa.
Karena istri Presdir Arta Fashion itu, ia dan Raisa diizinkan bersama.
Hampir dua jam mencari akhirnya ketemu yang diinginkannya. Pelayan toko diminta membungkus hadiah tersebut dengan sangat cantik dan menarik.
"Kau tidak ingin memberi Nona Raisa juga?"
"Tidak, Kak. Dia lain kali saja," jawab Eza.
"Ya, sudah. Tapi kau harus berhati-hati, takutnya Presdir cemburu," celetuk Lita.
"Aku hanya menyukai putrinya bukan istrinya, Kak. Mana mungkin dia cemburu," tutur Eza.
"Semoga saja."
...----------------...
Pagi harinya, Eza dan kedua orang tua Raisa telah datang menjemput di bandara. Eza memegang sebuket bunga untuk ia persembahkan kepada wanita yang ia cintai.
Devan tampak acuh dan cuek dengan kehadiran model sekaligus pria yang disukai putrinya itu.
Sementara Clarissa tampak cemas dan tak sabar menyambut putrinya.
Akhirnya setelah menunggu hampir 30 menit, pesawat yang ditumpangi Raisa tiba. Clarissa berdiri dengan mata berkaca-kaca, ia sangat merindukan putrinya itu.
Raisa mendorong kopernya dengan cepat. Terlihat Clarissa melambaikan tangannya ke arahnya, dengan tersenyum Raisa meninggalkan barang bawaannya dan berlari kecil menghampirinya. "Mama!"
__ADS_1
Clarissa mendekap erat tubuh putrinya, "Mama rindu kamu!"
"Aku juga, Ma." Raisa melonggarkan pelukannya.
"Apa kamu tidak rindu dengan Papa?" Devan berbicara.
Raisa melihat ke samping mamanya, lalu memeluk Devan.
"Sayang, ada seseorang yang menjemput hari ini," ujar Clarissa tersenyum.
"Siapa, Ma?"
"Lihat di sana!" Clarissa menunjuk Eza yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Raisa tersenyum lalu ia melihat sang papa yang wajahnya dingin.
"Temui dia!" perintah Clarissa.
Raisa berjalan menghampiri Eza yang tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih," Raisa meraih bunga tersebut. "Bagaimana bisa kau menjemputku di sini?" tanyanya pelan.
"Presdir yang mengizinkannya," jawab Eza.
"Pasti ada campur tangan Mama, kalau tidak mana mungkin Papa akan semudah itu luluh," ujar Raisa.
"Aku juga berpikir sama."
"Kau tidak keren menaklukkan hati Papa pakai perantara," ejek Raisa.
"Tidak masalah yang penting aku bisa bertemu denganmu dan memberikan izin," Eza berkata bangga.
"Jangan mengobrol saja. Ayo pulang!" ucap Devan ketus.
"Iya, Pa."
__ADS_1
"Kamu pulang satu mobil dengan Papa dan Mama. Dia bawa mobil sendiri, kan?" Devan melirik pria yang ada didekat putrinya.
"Iya, Tuan."
"Baguslah," Devan pun berlalu menggandeng tangan istrinya.
-
Mobil memasuki halaman restoran yang khusus di pesan keluarga Devan. Ya, tempat itu adalah milik keluarga Rey Arkana. Eza juga hadir untuk menikmati makan siang bersama.
Devan tidak menyukai Eza berada bersamanya di meja makan yang sama, namun karena permintaan istri dan putrinya akhirnya ia pasrah.
Selesai makan, mereka saling bercerita hanya Eza yang memilih diam kecuali ditanya karena ketika ia mulai berbicara sudah mendapatkan tatapan tajam dari Devan Artama.
Hampir 90 menit berada di restoran, akhirnya mereka pulang. Devan berjalan lebih dulu ke mobil.
"Nyonya!" panggil Eza ramah.
"Panggil saja Tante!" ucap Clarissa tersenyum.
"Baiklah, Tante. Ada yang ingin saya berikan, tunggu sebentar!" Eza berjalan cepat ke mobilnya mengambil sesuatu.
Raisa dan Clarissa menunggu saling pandang.
Eza menenteng paper bag ukuran kecil lalu ia menyerahkannya kepada calon Mama mertuanya, "Buat Tante!"
"Ini apa?" Clarissa heran.
"Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyakinkan Presdir," jawab Eza.
"Buat aku mana?" protes Raisa.
"Nanti kamu spesial," Eza tersenyum membuat wanita itu tersipu.
Clarissa tersenyum, lalu memandangi paper bag tersebut. "Terima kasih, ya!"
__ADS_1
"Sama-sama, Tante."