
"Kalungku!" seru Clarissa. "Di mana kau menemukannya?" tanyanya.
"Aku menemukannya, di Danau Pelangi tujuh belas tahun yang lalu."
"Jadi, kau anak laki-laki itu!" Clarissa menutup mulutnya tak percaya.
"Ya, aku mencarimu!" mata Devan mulai berkaca-kaca.
"Tidak!" ucap Clarissa. "Kau pasti berbohong!" tuduhnya.
Devan memberikan kalung itu kepada Clarissa.
"Ini memang kalung pemberian ayah," tertera inisial nama Clarissa di kalung tersebut.
"Akhirnya aku menemukanmu!" Devan menarik tubuh Clarissa dan mendekapnya.
Wanita itu mendorong tubuh Devan. "Jangan sentuh aku!"
"Rissa, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu dan ibumu karena telah menolongku. Maafkan aku baru menyadarinya sekarang," ucap Devan.
"Ya, aku juga berterima kasih karena kau mau mengembalikan kalungku!" Clarissa terus tersenyum melihat kalung tersebut.
"Rissa, aku berjanji akan menikahi gadis kecil itu jika dia belum menikah," ucap Devan.
"Aku sebagai gadis kecil itu menolak dirimu!" Clarissa berbicara tegas.
"Bukankah kita saling mencintai? Pasti Oma menyetujuinya," ujar Devan.
Clarissa tersenyum sinis, "Saling cinta? Kau tidak salah, bukankah kau terpaksa mendekatiku hanya untuk keperluan bisnis?"
"Rissa, aku terpaksa mengatakan itu agar kondisi kesehatan Oma tidak menurun," jelas Devan.
"Kau memikirkan kesehatan Oma tapi tidak dengan perasaanku!" Clarissa berbicara lantang dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang kau datang untuk menikahiku karena aku gadis kecil itu. Seandainya aku bukan gadis itu, apa kau mau menikahiku?" tanyanya dengan meneteskan air matanya.
Devan tak dapat berbicara dan ia tak bisa berbuat apa-apa ketika melihat Clarissa menangis.
"Sekarang pergi dari sini!" Clarissa mendorong tubuh Devan keluar.
__ADS_1
"Rissa, maafin aku!" ucapnya lirih.
"Menjauh dariku!" mohon Clarissa.
"Rissa, tolong dengarkan aku!" pintanya.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, silahkan keluar!" ucap Clarissa dengan tegas.
Devan akhirnya pulang dengan hati kecewa dan tak sesuai harapan dia. Hal bodoh yang ia lakukan, tak meminta maaf dan memberikan penjelasan kepada Clarissa pada hari itu dan tentunya kesalahan terbesarnya adalah ia mengatakan pura-pura mencintai Clarissa.
Sementara itu, Clarissa terduduk di sofa tamu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis sesenggukan, bahwa ia harus menerima kenyataan kalau Devan mencintai gadis kecil itu dari pada dirinya yang sekarang walau mereka orang yang sama.
Yuna dan Tina melihat mobil Presdir meninggalkan halaman parkir, keduanya berlari kecil menuju apartemen Clarissa. Sesampainya, mereka berdua melihat sahabatnya menangis.
"Apa Presdir menyakitimu lagi?" tanya Yuna.
"Dia ingin menikahiku," jawab Clarissa.
"Apa?" keduanya terkejut.
"Bukankah itu kabar yang bagus? Tapi kau kenapa menangis?" tanya Tina.
"Jadi, kalung itu selama ini bersamanya. Artinya, Presdir anak laki-laki yang kau tolong waktu itu," tebak Yuna.
Clarissa mengangguk mengiyakan.
"Jadi, kau menerimanya?" tanya Tina.
"Ku menolaknya, dia hanya mencintai gadis kecil itu bukan aku yang sekarang," jawab Clarissa. "Seandainya bukan aku gadis kecil itu, apa mungkin dia akan menikahiku," lanjutnya lagi.
"Ya, kami juga akan melakukan hal yang sama," ucap Yuna.
-
-
Kediaman Artama
__ADS_1
"Kau dari mana? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Oma Fera yang sudah menunggunya di depan pintu masuk rumah.
Devan melihat jam di tangannya, jarum jam menunjukkan angka satu. "Oma, kenapa belum tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur, kalau kau belum pulang?"
"Oma tak perlu menungguku, aku pasti pulang," jawab Devan.
"Tapi kau dari mana?"
"Aku dari apartemen Clarissa," jawabnya. Dari tempat tinggal wanita itu, ia sejenak melepaskan hati yang kacau dengan memutari jalan kota karena ia bingung harus pergi ke mana.
"Mau apa kau ke sana?"
"Mengembalikan kalungnya."
"Kalung?"
"Ya, kalung yang selama ini bersamaku adalah miliknya," jawab Devan sendu.
"Bagaimana bisa?"
Devan menunjukkan postingan Clarissa beberapa hari yang lalu di media sosialnya.
"Iya, benar. Kenapa harus dia pemilik kalung itu?" tanya Oma Fera.
"Jadi Oma mau siapa?"
"Ya, orang lain. Apa kau sudah mengatakan kalau ingin menikahinya?"
Devan menghembuskan nafas frustasi. "Dia bahkan sudah menolaknya!"
"Sombong sekali dia!" Oma Fera menggerutu.
"Aku yang salah, tiba-tiba saja datang untuk menikahinya," ucap Devan tersenyum simpul.
"Harusnya dia yang bangga kau melamarnya," ucap Oma Fera.
__ADS_1
"Oma, aku sangat capek. Besok saja lagi kita mengobrolnya," Devan meninggalkan Oma Fera seorang diri di ruang tamu.