
Sebelum menerima telepon dari Arta Fashion, Intan dan manajernya ke rumah sakit untuk melakukan visum lalu kemudian ia membuat laporan ke pihak berwajib atas penganiayaan yang dilakukan Nikita.
Dengan mengumpulkan saksi, rekaman kamera pengawas dan hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Intan akhirnya dapat menjerat sang artis arogan.
Sejam membuat laporan, Nikita berhasil diamankan di apartemen miliknya. Martha yang mengetahui putrinya kembali bermasalah dengan hukum bergegas menemuinya di kantor pihak berwajib.
"Ya, ampun Nikita. Sudah berapa kali Mama katakan, jangan pernah mencari masalah dengan hukum," omel Martha.
Nikita memilih diam.
"Apa sebenarnya masalah kau dengan artis itu?"
"Dia saja yang sok kecantikan," Nikita menjawab tanpa bersalah.
"Intan adalah artis Arta Fashion, pastinya perusahaan itu akan ikut campur dengan masalah ini," jelas Martha panjang lebar.
"Aku tidak peduli, Ma."
"Kau sungguh keras kepala!" keluh Martha.
"Ma, wanita itu selalu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," ujar Nikita.
"Tidak semua dapat kita miliki. Jika kau ingin produser atau perusahaan memakai jasamu, jaga sikapmu!" Martha mengingatkan putrinya.
"Mama bicara seperti itu, apa tidak sadar bagaimana perlakuan kita selama ini kepada keluarga Clarissa," sindirnya.
"Itu masa lalu, sekarang tanggung saja apa yang telah kau buat!"
__ADS_1
"Jadi, Mama tak mau menolongku?"
"Tidak, Mama sudah lelah mengurus kenakalan dirimu," jawab Martha.
"Ma, tolonglah!" rengeknya.
"Mama tak bisa, semoga Papa kamu tidak murka dengan tingkahmu!"
...*******...
Setelah mengadakan pertemuan dengan petinggi Arta Fashion dan bertemu kuasa hukumnya, Intan berjumpa dengan wartawan di sebuah kafe.
"Kenapa anda tetap diam saja saat Nikita Bryan menyerang?"
"Saya tidak ingin merusak reputasi perusahaan yang mengontrak saya dengan membalas menyerang dirinya. Banyak saksi dan rekaman kamera pengawas siapa yang lebih dahulu melakukannya."
"Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Nikita melakukan penganiayaan?"
"Apa benar pemicu keributan itu karena anda memiliki hubungan khusus dengan putra pengusaha kopi yang anda sendiri menjadi bintang iklan di produknya?"
Intan tersenyum, "Itu tidak benar!"
"Teman-teman semua cukup, ya. Kita tunggu perkembangan selanjutnya dari pihak berwajib. Kami berharap keadilan untuk Intan Ratu," ujar kuasa hukum.
"Terima kasih semua!" Intan berdiri lalu meninggalkan tempat.
-
__ADS_1
-
Yuna dan Tina sedang menikmati waktu sore di coffee shop bersama para kekasihnya.
"Semoga saja Nikita bisa jera dan tak berbuat ulah lagi," harap Yuna.
"Semoga saja," sahut Tina.
"Aku sudah pernah bilang padamu, jangan kotori tanganmu untuk melampiaskan amarahmu. Ternyata melalui orang lain, dia mendapatkan balasannya," ujar Roland pada kekasihnya.
"Ya, kau benar," Tina mengangguk.
"Kira-kira Clarissa sudah tahu atau belum tentang berita ini?" tanya Vino.
"Sudah, malah dia terlihat santai dan tenang. Intan juga didampingi kuasa hukum Arta Fashion," jawab Vino.
"Hei, lihatlah aku baru dapat chat dari Clarissa. Jika penjualan produk naik dua puluh persen," Tina menunjuk berita di ponselnya.
"Memang benar kata Clarissa berita mampu memberikan penjualan meningkat," ujar Yuna.
"Padahal sebenarnya berita ini membuat Devan takut berpengaruh," sahut Vino.
"Tapi paling penting bagiku saat ini, Nikita mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan yaitu hukuman," Tina tersenyum membuat ketiga orang di meja yang sama tertawa kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat Berakhir Pekan
__ADS_1
Selamat Membaca 🌹
Sehat dan Bahagia Selalu 😊