Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Galau


__ADS_3

Hilman yang berada di depan pintu menatap heran pada keduanya. "Permisi, Tuan!" ia masuk menemui Presdir.


"Ada apa?"


"Saya ingin meminta tanda tangan anda!" jawab Hilman.


"Letakkan saja di atas meja kerja," perintah Devan.


"Baik, Tuan!" Hilman melangkah mendekati meja kerja lalu meletakkannya.


"Kau boleh kembali bekerja!" ucap Devan.


"Baik, Tuan!" Hilman melangkah meninggalkan ruangan.


Devan menjatuhkan tubuhnya di kursi, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Harusnya ia tak mencium Clarissa, apalagi ia berjanji pada dirinya dan Oma Fera tidak akan jatuh cinta pada wanita itu.


Devan hanya berharap bertemu dengan gadis kecil penolongnya, setelah itu ia baru akan memikirkan cinta.


Devan meraih kunci di atas meja kerjanya, ia pergi meninggalkan gedung menuju apartemen Clarissa. Sesampainya di sana, ia tak menemui wanita itu.


Menurut perkataan kedua temannya, Clarissa belum juga pulang. Devan pun meninggalkan apartemen Clarissa dan mencari wanita itu.


Sejam lebih Devan mencari Clarissa di tempat yang biasa di datangi wanita itu namun ia tak menemuinya. Ponselnya juga tidak aktif. "Ke mana dia sebenarnya?"


Karena sudah lelah, akhirnya Devan pulang ke rumah.


Ia membuka laci nakas dan membuka kotak berisi kalung. "Apa aku harus melupakan gadis itu dan menerima Clarissa?" tanyanya lirih.


Pintu kamar Devan terbuka sedikit, "Apa Oma boleh masuk?"


"Ya, Oma!"


"Apa yang membuatmu beberapa hari ini murung?" tanya Fera.


"Perasaan Oma saja," jawab Devan tersenyum.


"Hilman bilang kalau hari ini kontrak Clarissa berakhir. Apa benar?"


"Iya, Oma."


"Apa kau sudah menawarkan kontrak kembali padanya?"


"Dia menolaknya," Devan membuang wajahnya. Ia tak mau terlihat menyedihkan di depan Oma Fera.


"Kenapa?"


"Dia ada kontrak pekerjaan dengan yang lain," jawab Devan.


"Kalau begitu, kau harus segera mencari penggantinya," saran Oma Fera.


"Secepatnya kami akan menyeleksi calon model pengganti Clarissa," ucap Devan.


...----------------...

__ADS_1


Sebulan sudah kontrak kerja Clarissa berakhir, sejak itu pula ia tak pernah datang ke gedung Arta Fashion. Jika ada kepentingan mendadak masalah honor dan lainnya Clarissa hanya menyuruh Yuna dan Tina untuk menyelesaikannya. Ia menolak untuk kembali, alasannya ia tak ingin bertemu dengan Devan.


Sementara itu Devan hanya mendapatkan informasi dan bisa melihat wajah Clarissa dari media televisi dan postingan wanita itu di sosial media.


Devan tak berani menelepon atau sekedar mengirimkan pesan kepadanya.


Pagi ini rapat pencarian model selanjutnya yang akan menjadi brand ambassador Arta Fashion. Untuk tahun ini bukan Vani yang menjelaskan karena ia telah di pecat oleh Devan karena berani menyebarkan video dirinya dan Clarissa saat rapat dan ikut bekerja sama terlibat dengan Nikita Bryan.


Sudah lebih 5 artis dan model yang di tampilkan dan dijelaskan karyawan Arta Fashion tapi Devan meminta mencarinya lagi. Padahal kelima artis yang ditawarkan itu tidak memiliki citra buruk dan memiliki penggemar cukup banyak.


"Tuan, kita harus menunggu seminggu lagi untuk mencari pengganti Nona Clarissa," ucapnya.


"Saya tidak mau tahu, kalian pilih dan seleksi yang terbaik lagi," ujar Devan.


"Tuan, kelima wanita ini punya potensi yang baik untuk mendongkrak penjualan kita," ucapnya lagi.


"Aku tidak mau menerima bantahan. Cari kembali!" titah Devan. "Rapat selesai!" Ia meninggalkan ruang rapat.


Beberapa karyawan yang mengikuti rapat saling berbicara, mereka heran dengan sikap Presdir padahal tahun lalu ia dengan cepat tanpa berpikir menunjuk Clarissa sebagai model Arta Fashion.


"Apa mungkin Presdir memiliki hubungan dengan Clarissa?"


"Video kebersamaan itu selalu muncul di media."


"Aku dengar Clarissa menolak kontrak kerja sama kembali."


"Padahal kalau Clarissa tetap menjadi brand ambassador kita tak perlu repot mencari penggantinya dan bonus terus bertambah."


Itulah ocehan para karyawan Arta Fashion mengenai Presdir dan sang artis.


Fera yang mengetahui kegelisahan cucunya, mendatanginya di perpustakaan mini milik Devan.


Ternyata cucunya sedang berada di tempat itu untuk menghabiskan waktunya.


"Apa ada masalah di kantor?" tanya Fera.


"Tidak, Oma. Hanya lagi kesulitan pengganti Clarissa," jawab Devan.


"Kau yang sulit atau hatimu?"


Devan meletakkan bukunya di atas meja lalu menatap Oma Fera.


"Oma sudah katakan jangan menyukainya, lihat sekarang kau malah jadi begini!"


"Aku tidak menyukainya, Oma!" Devan menyangkal.


"Kalau tidak ada perasaan di antara kalian tentunya wanita itu mau menerima kembali kontrak kerja sama," ujar Fera.


Devan hanya diam dan tak menjawab.


"Bersikap profesional, buang perasaan kalian. Oma tetap tidak menyetujui kau dengannya. Tapi Oma masih menerimanya bergabung di perusahaan kita," ungkap Fera.


-

__ADS_1


-


Lain tempat di sebuah restoran terkenal di kota A. Clarissa kini sedang menikmati makan malam bersama Hiko. Pria yang tak hentinya mengajaknya untuk makan malam dan akhirnya terwujud.


"Apa makanannya tidak enak?" tanya Hiko yang sedang memotong daging dan melihat Clarissa hanya menusuk-nusuk daging dengan garpu.


"Enak, cuma aku tidak lagi berselera."


"Apa kamu sakit? Biar kita pulang saja," Hiko menghentikan makannya.


"Tidak!" ucap Clarissa. "Aku tidak sakit, lanjutkan kembali makannya!" ucapnya lagi.


"Aku dengar kamu memiliki hubungan dengan Presdir Arta Fashion?"


"Hah!"


"Apa itu benar?" tanya Hiko lagi.


"Kau tahu sendiri 'kan terkadang media suka mengarang cerita," jawab Clarissa.


"Ya, kadang!"


"Itu tidak benar, kami hanya rekan bisnis saja."


"Baguslah kalau begitu, aku punya kesempatan untuk mendekatimu!" ucap Hiko tersenyum.


Clarissa hanya tersenyum simpul.


...----------------...


Keesokan paginya, berita Clarissa kembali muncul. Wanita itu kepergok makan malam berdua bersama dengan seorang pria.


Berita itu akhirnya di dengar Devan, ia menjadi meradang. "Aku seperti pernah mengenal nama pria itu!" gumamnya.


Devan yang sedang memeriksa beberapa berkas, terpaksa ia hentikan untuk mengingat pria yang bersama dengan Clarissa.


Dia baru ingat, kalau Hiko Andreas investor di perusahaan milik keluarga Raya yang tak lain adalah ayah sambung Clarissa. "Jadi selama ini dia menjalin hubungan dengan pria itu, terus kenapa dia mau terlihat bodoh di depan orang saat mengatakan cinta padaku!" ucapnya kesal.


"Clarissa, kau memang benar-benar seorang artis. Aktingmu sangat bagus!" batinnya marah.


Ia menelepon Hilman untuk segera mencari model pengganti Clarissa.


Hilman yang mendapatkan telepon dari Presdir, mengerutkan keningnya. "Apa Tuan sehat? Dia minta waktu seminggu tapi ini masih satu hari. Di mana aku bisa mendapatkannya?"


Hilman membuka ponselnya dan melihat berita Clarissa di laman media portal. "Pantas saja, Presdir memaksa minta di carikan model pengganti. Ternyata dia sedang cemburu!" ucapnya lirih sambil mengulum senyum. "Kalau memang suka katakan saja suka, kenapa harus membuat repot orang lain?" protesnya bicara dengan dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan jejak ♥️🌹


Selamat Membaca...


Selamat Beraktifitas...

__ADS_1


Tetap Semangat...


__ADS_2