
"Aku tidak sedang bercanda, Rissa!" ucap Devan.
"Van, pernikahan kita sebulan lagi. Masa harus dibatalkan?"
"Maafkan aku, Rissa!"
Air mata Clarissa mulai menetes. "Aku benar-benar tidak tahu, bahwa kau adalah anak kecil yang di culik ayahku. Atas namanya aku minta maaf," ia membuka cincin yang di kenakan di jemarinya.
Devan tak berani menatap wajah calon istrinya.
"Terima kasih untuk semuanya, aku pergi!" Clarissa melangkah cepat meninggalkan kafe, ia menghidupkan mesin mobil dan melesat ke suatu tempat.
Devan mengambil cincin yang ditinggalkan Clarissa. Ia mengusap air matanya yang menganak.
-
Clarissa tiba di Kota D dengan mengendarai mobilnya seorang diri, terlalu sakit yang kini ia rasakan. Ia bersimpuh di samping makam sang ayah dan menangis.
"Apa salahku, Yah?" tanyanya terisak.
"Anak lelaki yang aku dan ibu tolong ternyata adalah orang yang sama kau culik."
"Aku menyukainya tapi takdir hari ini memisahkan kami, dia meninggalkan aku karena kesalahanmu."
"Apa aku tidak berhak bahagia, Yah?" Clarissa tersedu-sedu.
"Dari kecil aku selalu dihina dan difitnah, kesalahan yang kalian lakukan dulu berimbas padaku. Ibu menikah lagi, para ibu menjauhi anak laki-lakinya dariku. Aku tidak tahu kesalahan apa yang kalian lakukan, semua orang menyalahkan diriku. Mereka menganggap aku sama seperti kalian!"
"Ayah, aku lelah!"
-
__ADS_1
Setelah dari kafe, Devan kembali ke rumah. Sesampainya ia segera berlari ke kamar. Oma Fera melihat cucunya pulang di siang hari merasa curiga. Ia pun menghampirinya.
"Kenapa kau pulang secepat ini?"
"Aku lagi capek, Oma!"
"Tidak biasanya kau seperti ini?" Fera melihat raut wajah Devan, seperti menahan sesuatu. "Apa yang terjadi? Katakanlah!" tanyanya.
"Oma, aku ingin sendirian saat ini!" jawabnya tanpa menatap.
"Kau ada masalah?"
"Tidak, cuma aku sudah menjalankan perintah Oma untuk meninggalkannya dan dia menyetujuinya."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Fera tersenyum senang.
"Jadi, bisakah Oma meninggalkan aku sekarang?" pintanya.
-
Masih di kota D, Clarissa kembali ke Kota A karena Yuna meneleponnya. Ia tak memberi tahu jika dirinya berada di kota kelahirannya.
Clarissa melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, sepanjang jalan air matanya masih mengalir. Karena kurang fokus menyetir, sebuah mobil lainnya dari arah lawan muncul tiba-tiba.
Clarissa mulai gelagapan hingga akhirnya ia harus membanting setir ke kanan dan kecelakaan itu tak bisa dihindarkan. Ia menabrak pembatas jalan raya yang menghubungkan Kota D dengan kota lainnya. Mobilnya berhenti karena ia berhasil mengerem dengan cepat.
Clarissa terdiam dengan tatapan memandang ke jalanan dengan tangan gemetaran dan jantungnya berdetak lebih cepat.
Suara ketukan jendela, menyadarkan dirinya. Ia memakai kacamata hitamnya dan buru-buru menurunkan kaca jendelanya.
"Apa Nona baik-baik saja?" tanya seorang pria muda.
__ADS_1
"Ya, saya baik-baik saja," jawab Clarissa berusaha tetap tenang.
"Yakin? Mobil anda bagian depan rusak?" jari pria itu menunjuknya.
"Iya, tidak apa-apa." Clarissa memaksakan tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, Nona."
"Ya, terima kasih!" ucap Clarissa dan pria itu pergi meninggalkannya.
Clarissa menaikkan kembali kaca jendelanya, ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan menjatuhkannya di setir mobil dan mengeluarkan air mata.
Suara ponsel kembali menyadarkannya, tertera nama manajernya. Ia menjawab panggilan itu. "Halo, Yuna!"
"Clarissa, kau di mana? Sejam lagi ada kita akan bertemu Nona Melani," ucap Yuna dari kejauhan.
"Katakan padanya kemungkinan aku terlambat sedikit."
"Memangnya kau di mana?"
"Aku lagi di persimpangan jalan antara Kota D dan Kota B."
"Kau ke sana sendirian?"
"Iya."
"Astaga Clarissa, itu cukup berbahaya. Kenapa kau tidak bilang akan ke sana?"
"Yuna aku akan segera menemuinya," ucap Clarissa tanpa menjawab pertanyaan temannya.
"Ya, sudah. Hati-hati!"
__ADS_1
"Ya," Clarissa menutup teleponnya.