
Clarissa tiba di rumah ibunya setelah melakukan perjalanan selama satu jam lebih. Claudia memeluk putrinya, seluruh keluarga menyambut kedatangannya kecuali Raya yang tidak pernah menyukainya.
"Aku pikir kau tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini," sindir Raya.
"Aku ke sini hanya untuk menemui ibuku dan suaminya serta kedua adikku yang cantik ini!" ucap Clarissa melemparkan senyuman kepada kedua gadis kecil itu.
Raya berdecak kesal dan memilih ke kamarnya.
"Kau menginap di sini, kan?" tanya Claudia.
"Iya, Bu!" jawabnya.
"Ayo, kita makan siang!" ajak Ardian. Ia pun meminta pelayan untuk memanggil Raya.
Kini semua berkumpul di meja makan. Claudia sengaja memasak makanan kesukaan putri kandungnya dari suami pertama.
"Paman senang, akhirnya kau mau pulang dan kita bisa menikmati makan bersama seperti ini lagi," ucap Ardian.
Raya menunjukkan wajah kesalnya dan tidak kesukaannya. "Dia pulang karena Arta Fashion tak mau memakainya lagi," celetuknya.
Ardian dan Claudia saling pandang. Sementara itu Clarissa hanya menampilkan senyum tipisnya dan tak mau membalas ocehan saudara tirinya.
"Raya, makanlah. Jangan banyak bicara," perintah Ardian dengan suara rendah.
Selesai makan siang, Clarissa pergi ke kamarnya yang masih seperti yang dulu.
Claudia mengetuk pintu lalu membukanya sedikit. "Apa Ibu boleh masuk?"
"Ya."
Claudia menutup pintu kini mereka di kamar berdua. "Kau ke sini karena tidak ada lagi pekerjaan atau ingin menghindari masalah?" tanyanya.
"Ibu ternyata bisa menebak jalan pikiran ku," jawab Clarissa.
"Kau putriku jadi aku tahu. Karena tidak mungkin dirimu mau ke sini dan menginap untuk beberapa hari," tutur Claudia. "Apa benar kau memiliki hubungan spesial dengan Presdir Arta Fashion?" tanyanya.
"Tidak, Bu!"
"Foto dan video itu telah tersebar," ucap Claudia.
"Biarkan saja," ujarnya.
"Apa kau menyukai pria itu?" tanya Claudia.
"Ya, Bu!"
"Jadi ini alasan dia memutuskan kontrak," ucap Claudia.
"Mungkin, Bu!" tebak Clarissa.
Claudia tersenyum hangat dan mengusap rambut putrinya. "Istirahatlah, Nak. Kau sudah terlalu lelah untuk beberapa tahun ini," ucapnya ia pun
meninggalkan kamar.
"Aku jadi merindukan Ayah," dalam hati Clarissa.
-
Tujuh belas tahun yang lalu...
Clarissa kecil menangis dan berlari menuju Ayahnya yang sedang menunggunya di gerbang sekolah.
"Kamu kenapa?" tanya Ayah menghapus air mata putri kecilnya.
"Mereka jahat, Ayah!" tunjuk Clarissa ke arah sekolah.
"Jahat? Memangnya mereka melakukan apa kepadamu?" tanya Ayah dengan lembut.
__ADS_1
"Mereka bilang aku pembohong, Ayahku seorang penipu," Clarissa terus terisak.
"Kamu bohong apa pada mereka?"
"Ayah bilang mau membelikan aku kalung, tapi sampai hari ini aku juga belum memilikinya," jawab Clarissa masih tersedu-sedu.
"Ayah sudah membelikannya, mari kita pulang!"
"Ayah tidak membohongiku, kan?" Clarissa menatap mata sang ayah.
"Kita ke rumah saja," jawabnya.
Sesampainya di rumah, Ayah memberikan kotak berisi kalung kepada Clarissa. Ia pun membukanya dan tersenyum. "Terima kasih, Yah!" ia memeluknya.
"Maafkan Ayah yang baru bisa membelikan kalung untukmu. Kamu suka, kan?"
"Suka sekali, Yah!"
-
-
Malam harinya...
"Ayah!" teriak Clarissa. Ia terbangun dari tidurnya dengan nafas naik turun. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Clarissa melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 1 malam. "Aku bermimpi lagi!" gumamnya.
"Rissa!" panggil Claudia diiringi dengan suara ketukan pintu.
Clarissa turun dari ranjang dan membuka pintu. "Ibu!"
"Ibu tadi ke dapur dan mendengar suaramu. Apa yang terjadi?" tanyanya khawatir.
"Aku mimpi Ayah, Bu!" jawabnya.
"Oh, kembalilah tidur," ucap Claudia sedikit tenang
"Bukankah saat itu kita sama-sama mencarinya?"
"Iya, Bu."
"Nak, kalung itu sudah lama hilang. Kita juga sudah mencari di dekat danau itu, tapi memang tidak ada lagi," ujar Claudia.
"Itu harta satu-satunya yang aku miliki dari Ayah," Clarissa terduduk di sisi ranjang dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menunduk.
"Bagaimana lagi, Nak? Kalung itu memang benar menghilang, coba ikhlaskan saja. Jika mau, kau bisa mengumumkan pada media. Tapi itu sudah lama sekali, Nak." Usul Claudia.
"Semoga saja aku bisa menemukannya," harapnya.
...----------------...
Gedung Arta Fashion
Hilman memberikan laporan penjualan selama sebulan kepada Devan. Hari ini tepat satu bulan, Clarissa tidak menjadi bintang iklan di perusahaan.
"Ini laporannya, Tuan!" ia meletakkan berkas di atas meja kerja milik Devan.
Devan memeriksanya dan meletakkannya kembali, ia memijit keningnya.
"Penjualan menurun dua puluh persen, Tuan!" jelas Hilman. "Jika ini berlanjut kemungkinan, jam kerja karyawan akan dipotong," lanjutnya lagi.
"Cari penggantinya!" usul Devan.
"Kita tidak bisa mencarinya dalam waktu yang cepat, Tuan!" tutur Hilman.
"Kenapa? Kita bisa bayar dia mahal," ucap Devan.
"Para model dengan citra yang baik dan penggemar banyak sudah terikat kontrak dengan perusahaan pesaing," jelas Hilman.
__ADS_1
"Cari model luar negeri," Devan memberikan usulan lagi.
"Kita kesulitan untuk mengatur jadwal mereka, Tuan. Apalagi jika mereka selebriti terkenal," jelas Hilman lagi.
"Jadi kita harus bagaimana?"
"Tarik kembali Nona Clarissa," jawab Hilman semangat.
"Kau ingin aku pecat!" sentaknya.
"Maaf, Tuan. Tapi 50% pembeli produk kita adalah para penggemar Nona Clarissa," tutur Hilman.
"Aku tidak mungkin menariknya kembali," ucap Devan.
"Cuma itu caranya, Tuan!" ujar Hilman.
"Pergilah, lanjutkan pekerjaanmu!" ucapnya dingin.
"Baiklah, Tuan. Saya permisi!" pamit Hilman.
-
-
Kediaman keluarga Oma Fera...
Fera menghampiri Devan di balkon, cucunya itu lebih sering menghabiskan waktu malamnya di tempat itu terkadang di perpustakaan. Jika hari libur ia akan pergi ke tempat gym.
"Devan, apa yang terjadi di perusahaan?"
"Tidak ada, Oma."
"Penjualan produk kita menurun setelah kita tidak bekerja sama dengannya lagi,"ujar Fera.
"Hal seperti itu biasa, Oma. Tidak ada hubungannya dengan dia," ucap Devan.
"Kalau ini ada hubungannya dengan dia, bagaimana?"
"Devan jamin ini tidak ada hubungannya dengan dia," jawabnya.
"Baiklah, Oma mengikuti keputusanmu kali ini. Jika dalam dua minggu penjualan semakin menurun, kau harus membawa dia kembali," ucap Fera.
"Devan janji kalau mampu menaikkan kembali penjualan," ucapnya.
"Oma serahkan semuanya kepadamu," Fera menepuk pelan pundak cucunya itu.
"Dia pikir siapa? Aku akan buktikan kalau penjualan bisa meningkat tanpa wanita aneh itu!" batinnya.
...----------------...
Tiga hari kemudian...
Clarissa sedang menyusun pakaiannya ke dalam koper. Ia berencana pagi ini akan berangkat ke kota ayahnya. Claudia menghampiri putrinya itu di kamar. "Kau pergi ke sana dengan siapa, Rissa?"
"Yuna dan Tina. Nanti mereka akan menjemputku, Bu!" jawabnya.
Tak lama kemudian, pelayan memanggil Clarissa dan mengatakan bahwa kedua temannya telah datang.
"Mereka sudah datang, Bu. Aku pamit pergi," ucapnya.
Pelayan membantu Clarissa membawa kopernya ke bagasi mobil.
"Bibi, Paman, kami pamit pergi!" ucap Yuna.
"Kalian hati-hati, jangan bawa mobil terlalu kencang!" nasihat Ardian.
"Iya, Paman!" ucap Yuna.
__ADS_1
Clarissa memeluk Claudia begitu juga dengan Yuna dan Tina.