
Seminggu kemudian....
Keluarga besar Artama mengadakan pertemuan dan makan bersama sebagai acara bertemunya anak, cucu dan menantu.
Tak ketinggalan Siska dan suaminya berserta anak dan menantunya turut hadir. Acara dilakukan di hotel mewah.
Devan, Clarissa, Oma Fera, kedua pengantin baru duduk di meja makan bersama menikmati hidangan yang telah disediakan.
Siska datang menghampiri kelimanya. "Sepertinya cucu menantu Bibi belum hamil juga," sindirnya. "Apa mungkin dia tidak subur?" lanjutnya menyindir. Membuat Oma Fera melihat cucu dan istrinya.
Devan menghentikan makannya, ia mencoba mengatur nafas dan menahan amarahnya.
"Kalau menantuku dalam waktu tiga bulan ini belum mengandung juga, aku akan menyuruh Rey menikah lagi," Siska melirik Raya. Yang disindir memiringkan bibirnya, berusaha tetap tenang.
Rey memundurkan kursinya lalu berdiri kemudian mendekati Siska. "Mama, ikut aku!" ia merangkul pundak ibunya dan menjauh dari meja keluarga Devan.
"Ada apa sih, Rey? Mama cuma ingin mengobrol saja," Siska pura-pura tidak bersalah.
"Ma, pesta ini pertemuan keluarga besar dari Kakek buyut ku . Jadi Rey harap jangan berbuat masalah," mohonnya.
"Apa yang Mama katakan memang benar, kan?" Siska tetap merasa santai walaupun telah menyinggung perasaan orang.
"Cukup, Ma!" Rey berbicara dengan lembut lalu ia mengajak ibunya itu mendekati sang papa.
__ADS_1
"Mama buat masalah lagi, ya?" Papa sudah paham dengan kelakuan istrinya sampai putranya merangkul Siska dengan wajah kesal.
"Ya," jawab Rey.
"Pergilah lanjutkan obrolanmu dengan Devan!" Papa menyuruh putranya pergi.
Rey kembali bergabung dengan istrinya dan keluarga Oma Fera.
"Maaf dengan ucapan Mama Siska tadi," Rey kembali duduk.
Devan memilih diam, Raya dan Clarissa tersenyum tipis.
"Kali ini Oma memaafkan Mama kamu, tapi jika dia berani menyakiti perasaan istri cucuku. Oma akan memberikan hukuman," ancam Fera tanpa menatap.
-
-
Selesai membersihkan diri dan mengganti dengan pakaian tidur. Clarissa ikut suaminya menyandarkan tubuhnya di kasur.
"Sayang, kita sudah menikah hampir enam bulan dan aku belum juga hamil. Apa kau tidak kecewa denganku?" Clarissa berkata pelan tanpa menatap suaminya.
Devan menutup ponselnya lalu menoleh ke arah istrinya. "Aku tidak pernah memaksamu untuk segera memiliki keturunan."
__ADS_1
"Tapi yang dikatakan Tante Siska benar," Clarissa berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Cukup, Rissa!" hardik Devan. "Aku tidak mau kau jadi kepikiran dengan masalah anak," ujarnya.
"Sindiran itu sangat menyakitkan, Van. Aku merasa belum menjadi wanita yang sempurna!" Clarissa bersandar di dada suaminya.
"Jangan pernah mengatakan itu, bagiku kau sudah sempurna!" Devan membelai rambut istrinya.
"Kau tidak akan pernah meninggalkan aku, kan?"
"Harusnya aku yang bertanya, apa kau tetap setia bersamaku?" Devan balik tanya.
Clarissa mendongakkan kepalanya, "Menaklukkan hatimu saja membutuhkan waktu yang cukup lama, bagaimana mungkin berpaling?"
"Aku percaya itu," Devan tersenyum hangat.
Clarissa menegakkan separuh tubuhnya memandang suaminya. "Aku mencintaimu!" ia mengecup bibir Devan lalu tersenyum.
Devan menarik tengkuk Clarissa, dengan lembut ia menyusuri bibir ranum itu. Perlahan jemarinya, menelusuri isi di balik pakaian tidur yang dikenakan istrinya.
Clarissa mulai mendesah, saat bagian tubuhnya yang sensitif disentuh suaminya.
Menjelang pukul 2 pagi, pertarungan panas itu berakhir dan membuat keduanya kelelahan. Tanpa mempedulikan pakaian yang berserakan di lantai.
__ADS_1
Devan membenamkan kecupan penuh cinta di kening istrinya yang sudah terlelap. "Aku akan tetap bersamamu, apa pun yang terjadi!"