Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.22-Devan Marah


__ADS_3

Suara bel berbunyi membuat Eza membuka pintu, ia baru saja selesai mandi. Begitu dibuka sebuah pukulan mendarat di wajahnya.


Eza hampir terjatuh, ia memegang bibirnya yang berdarah. Ia mendelikkan matanya saat melihat pria yang menghajarnya.


"Di mana putriku?" tanyanya dengan lantang.


"Di kamar, Tuan." Eza menunjuk arah tempat tidurnya.


Devan berjalan menghampiri kamar Eza dan melihat putrinya tertidur pulas. "Raisa!" panggilnya dengan suara menggelegar.


Raisa segera terbangun ia memegang kepalanya, "Papa!" kelihatan bingung.


"Ayo, pulang!" Devan menarik tangan putrinya.


Raisa menyibak selimutnya dan mengedarkan pandangannya sekelilingnya, matanya melihat Eza berdiri dengan celana pendek tanpa baju dan handuk ia kalungkan di leher. "Kenapa aku di sini?"


"Harusnya Papa yang bertanya kenapa kamu di sini?" bentaknya.


"Presdir saya bisa jelaskan!" Eza berbicara.


"Kau membawa putriku di rumahmu, apa yang sudah kalian lakukan?"


"Pa, ini tidak seperti yang dibayangkan." Raisa berbicara.


"Kamu tidur di kamar pria ini," Devan menunjuk Eza. "Apa sebegitu cintanya kamu padanya sampai mengorbankan harga diri?" tanyanya dengan emosi menggebu.


"Pa, kami tidak melakukan apapun." Raisa membela.

__ADS_1


"Di pesta semalam, Raisa mabuk," ungkap Eza. "Jadi, aku membawanya ke sini. Tapi percayalah Presdir, kami tidak melakukan apa-apa. Saya tidur di ruang tamu," lanjutnya menjelaskan.


Devan menampar putrinya saking kesalnya mendengar kelakuannya. "Sejak kapan kamu mabuk, hah?"


"Tuan, kenapa menampar Nona Raisa?" tanya Eza.


"Ini semua salahmu!" Devan menatap modelnya. "Karena kau, putriku seperti ini," ujarnya.


Raisa memegang pipinya mulai meneteskan air matanya. "Papa sudah tidak percaya lagi padaku?"


"Papa sudah tidak percaya lagi padamu karena pria bodoh seperti dia!" Devan menunjuk Eza dengan kesal.


"Pa, aku berani bersumpah jika kami tidak melakukannya," Raisa berkata dengan suara parau.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, kalian tinggal seatap dan kamu tidur di kamarnya. Semua cukup jelas!" Devan berbicara lantang.


"Aku tidak akan pernah mau menerimamu!" Devan menekan kata-katanya.


"Pa..."


Devan menarik tangan Raisa, "Mulai hari ini aku akan memutuskan kontrak dengannya!"


"Pa, jangan lakukan itu!" mohon Raisa.


"Kenapa?"


"Baiklah, Tuan. Saya menerima jika Arta Fashion memutuskan kontrak tapi tolong jangan sakiti dan marahi Nona Raisa," ujar Eza.

__ADS_1


"Memang seharusnya kau pergi dari Arta Fashion," Devan berkata tanpa menatap Eza kemudian ia membawa Raisa pulang.


Eza meremas wajahnya dan menjambak rambutnya. "Kenapa sebegitunya Presdir membenciku?"


-


Lita datang untuk menjemput Eza, ia tampak terkejut melihat artisnya dengan sudut bibir memar. "Kenapa denganmu?"


"Presdir yang melakukannya."


"Kenapa dia bisa ke sini?" Lita penasaran.


"Dia menjemput putrinya di sini." Eza mengompres lukanya dengan air dingin.


Lita menutup mulutnya tidak percaya. "Kalian tidur bersama, kenapa bisa?"


"Putrinya mabuk di acara ulang tahun temanku kebetulan dia juga di sana. Lalu aku membawanya ke sini karena ku takut jika mengantarnya pulang ke rumah. Tapi, kami tidak melakukan apa-apa. Dia tidur di kamar dan aku di sini," jelas Eza menunjuk sofa tamu.


"Kenapa kau bodoh sekali, Eza? Harusnya kau bawa saja ke rumah dan katakan yang sebenarnya," ujar Lita.


"Aku takut Presdir akan salah paham dan memarahiku, jadi ku bawa ke sini lalu setelah sadar Nona Raisa akan ku antar pulang. Kenyataannya sekarang malah Presdir semakin membenciku," ungkap Eza.


Lita menghela nafasnya, "Sekarang kita harus bagaimana?"


"Presdir akan memutuskan kontrak ku," jawabnya.


Lita menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Entahlah, aku pasrah Kak. Asal Presdir tidak memarahi Nona Raisa lagi," ucapnya.


__ADS_2