Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Penggoda (2)


__ADS_3

Raya dan Rey menikmati waktu sore hari di sebuah kafe tak jauh dari Arta Fashion. Melihat kedatangan Siska, keduanya lantas berdiri.


"Kalian di sini juga?" tanya Siska ketus.


"Mama kenapa di sini?" tanya Rey.


"Mama mau bertemu dengan seorang wanita yang akan dijodohkan kepadamu," jawab Siska melirik Raya.


"Hai, Tante!" seorang wanita muda memeluk tubuh Siska.


"Intan, perkenalkan ini putra Tante!" Siska mengarahkan pandangannya pada Rey.


Intan mengulurkan tangannya kepada Rey, namun tak dihiraukan pria itu.


"Ma, aku sudah memiliki Raya. Untuk apa memperkenalkan wanita lain," protes Rey.


"Raya tidak pantas untukmu, Intan yang lebih cocok buatmu!" Siska tak memperdulikan Raya yang sakit hati.


"Benar yang Mama kamu katakan," ujar Intan.


"Apa kau sudah tidak memiliki rasa malu, Intan?" Raya tersenyum sinis.


"Maksud kamu apa Raya?" Siska menatap kekasih putranya itu.


"Wanita ini tak bisa merebut suami Clarissa, kini mau mengambil Rey juga," Raya menunjuk wajah Intan.


"Itu tidak benar, Tante. Jangan percaya padanya!" Intan merangkul lengan Siska dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Ma, aku tidak mau dijodohkan dengannya. Papa sudah merestui hubungan kami," Rey menolak keinginan mamanya.


"Lihat, anak Tante tidak mau dengan wanita murahan ini," Raya menatap Intan.


"Lebih baik kita pergi dari sini!" Rey menarik tangan Raya dan wanita itu tersenyum mengejek ke arah Siska dan Intan.


"Lihatlah wanita itu, tak ada sopannya dengan orang tua!" Siska berdecak kesal.


"Sabar, Tante. Sebentar lagi mereka juga putus," janji Intan.


"Tante mau Rey dan kekasihnya itu gagal menikah," harap Siska.


-


Di dalam mobil, "Mama kamu memang keterlaluan!" keluh Raya.


"Wanita sepertinya tidak pantas menjadi brand ambassador Arta Fashion, harusnya Devan mencampakkannya!"


"Kau tahu 'kan model yang ini bukan dia yang memilih tapi sekretaris pribadinya," ujar Rey.


"Tapi jika dibiarkan dia akan semakin tak tahu diri."


"Sabar, sayang. Kau mengomel terus, nanti pudar cantikmu," Rey menyindir.


"Jadi kalau ku tak cantik, kau mau meninggalkan aku!" menyipitkan matanya ke arah Rey.


"Tidak juga, lebih baik kita segera pergi dari sini. Udara di kafe ini terlalu panas," memberi perumpamaan. Rey menghidupkan mesin mobil dan berlalu meninggalkan kafe.

__ADS_1


...****************...


Keempat wanita cantik kini berkumpul di apartemen milik Clarissa. Mereka membahas wanita yang berusaha merusak hubungan mereka dengan pasangan masing-masing.


"Rasanya aku ingin menerkam wajahnya yang sok cantik!" geram Raya.


"Dia menggangu hubunganmu dengan Rey?" tanya Yuna.


"Iya," jawab Raya. "Kau harus menyuruh Devan menendang wanita itu dari Arta Fashion," pintanya pada Clarissa.


"Benar itu, Rissa. Wanita itu takutnya akan membuat nama Arta Fashion menjadi buruk," sambung Tina.


"Kontrak yang kami tawarkan cuma enam bulan saja, masih dua bulan lagi berakhir. Ya, aku harus sabar menghadapinya," Clarissa berkata dengan lesu.


"Wanita-wanita seperti Nikita dan Intan itu sungguh meresahkan. Karena aku tidak memiliki hubungan lebih dengan Roland dan tak ingin disorot media. Mungkin aku akan menjambak rambut palsunya itu!" geram Tina.


"Semoga saja hubungan aku dan Vino tidak ada pengganggu seperti dua wanita itu!" harap Yuna.


"Jika ada, kau harus bersikap tegas!" nasehat Raya pada Yuna.


"Iya, tentunya." Yuna mengiyakan.


"Tapi aku rasa Vino itu pria yang setia, tapi belum tentu dengan Rey," Tina melirik Raya.


"Hei, Rey itu dulunya memang hobinya tebar pesona. Tapi sekarang dia sudah berubah, dua bulan lagi kami akan menikah walau tanpa restu Tante Siska," ungkap Raya.


"Semoga saja Tante Siska itu berubah setelah kalian menikah dan tidak ada gangguan dari wanita penggoda," Clarissa mendoakan kebaikan untuk saudara sambungnya itu.

__ADS_1


"Semoga saja!" harap Raya dan kedua teman Clarissa.


__ADS_2