
Begitu anak dan menantunya pulang, Clarissa menghampiri Devan di perpustakaan. Ia lantas mengambil buku bacaan yang digenggam suaminya itu.
"Kenapa menggangguku?" Devan menatap istrinya.
"Sayang, sepertinya kita sudah lama tidak ribut," jawab Clarissa.
"Kau ingin aku berbuat apa?" tanya Devan lembut.
"Bisa tidak peraturan di kantor tak dibawa ke rumah."
"Aku hanya ingin Raisa benar-benar dapat suami yang tepat saja," ujar Devan.
"Sayang, Eza sekarang sudah menjadi menantu kita. Tak mungkin di tes lagi, kan?"
"Memangnya kenapa? Aku ingin dia menjadi suami dan ayah yang baik," jelas Devan.
"Memang payah bicara padamu." Clarissa mendengus kesal.
Devan menarik tangan istrinya dan duduk dipangkuannya. Ia menyelipkan rambut Clarissa disela-sela telinganya. "Kenapa kau semakin cerewet saja, Rissa?"
"Kau itu menyebalkan, dari dulu tak pernah berubah. Semua harus tepat waktu," ujarnya.
"Apa kau ingin kita pergi berlibur?" tawarnya.
"Anak-anak ikut?" Clarissa balik bertanya.
"Tidak, hanya kita berdua saja."
"Kenapa cuma berdua?"
"Aku ingin kita berbulan madu lagi," jawabnya.
"Kita ini sudah tua, Van."
"Walau kita sudah tua, kau tetap Rissa aku yang dulu. Yang genit, manja dan tak tahu malu!" Devan mengingatkan masa lalu istrinya.
"Kau juga sama, Presdir sombong dan egois!"
"Kau memang ingin ku hajar, ya!" Devan mendekap erat tubuh istrinya.
"Van, jangan kuat-kuat. Aku tidak bisa bernafas," ujar Clarissa.
"Maaf, Rissa!" Menunjukkan wajah polosnya.
__ADS_1
"Kau begitu sangat lucu, Presdirku!" Clarissa mengecup kening suaminya.
"Aku mau di sini!" Devan memajukan bibirnya.
"Di kamar saja," bisik Clarissa menggoda.
"Kalau begitu, ayo!" Devan berdiri menarik tangan Clarissa membawanya ke kamar.
...----------------...
Dua hari kemudian.....
Raisa masih satu ruangan kerja dengan papanya. Jadi, ia tak bisa sesuka hatinya bolos atau menerima telepon berjam-jam.
"Raisa, besok Papa dan Mama akan pergi liburan ke Dubai. Jadi, untuk dua minggu ke depan kamu yang urus semuanya," ucap Devan kepada putrinya.
"Raisa dan Eza ikut boleh, Pa."
"Tidak!"
"Kenapa, Pa?"
"Yang mengurus perusahaan siapa?"
"Kamu tidak boleh ikut, kemarin sudah Papa beri izin cuti dua minggu. Tak mungkin kamu harus libur lagi?"
-
Sore harinya begitu suaminya datang menjemputnya kerja, Raisa mengajaknya pergi ke rumah kedua orang tuanya.
"Memangnya harus sore ini juga kita ke sana?" Eza bertanya sambil menyetir.
"Iya, sayang."
"Ada apa sebenarnya? Apa Mama Rissa sakit?"
"Tidak, tapi mereka mau liburan ke luar negeri," jawab Raisa.
"Memangnya kenapa kalau mereka liburan?"
"Aku mau ikut."
"Jadi, kau ingin meninggalkan aku sendirian di sini."
__ADS_1
"Aku tetap pergi denganmu," ujarnya.
"Oh, kirain."
Begitu sampai di rumah orang tuanya, Raisa bergegas turun membiarkan suaminya berada di belakangnya.
Devan kaget ketika putrinya sudah berada disampingnya. "Kenapa kamu tidak bilang mau ke sini?"
"Raisa ingin ketemu dengan Mama," ujarnya.
"Ada apa Raisa? Kenapa ingin bertemu dengan Mama?" tanya Clarissa.
Raisa mendekati Clarissa dan mengalungkan tangannya di lengan sang mama. "Apa benar kalian mau pergi ke Dubai?"
"Iya," jawab Clarissa.
"Raisa ikut, ya?" menawarkan diri.
"Tidak!" sahut Devan.
"Ini khusus liburan kami berdua, Nak." Ujar Clarissa tersenyum.
"Bolehlah ikut?" Rengek Raisa sementara Eza duduk dan melihat obrolan istri berserta mertuanya.
"Tidak boleh, Nak. Mama dan Papa mau buat adik lagi untukmu!" Ucap Clarissa.
"Hah," Raisa dan Devan mendelikkan matanya.
"Lain kali saja kita nanti liburan bersama, Mama dan Papa mau menikmati waktu berdua seperti dulu ketika muda. Bukankah begitu suamiku tercinta?" Clarissa menatap suaminya dengan senyuman manis.
"Tapi kalian tidak ingin membuat calon adik buat Raisa, kan?" tanyanya polos.
Devan dan Clarissa hanya tersenyum mendengar pertanyaan putrinya.
"Kami tidak akan memberikan kamu adik lagi tapi beri kami cucu," ucap Clarissa.
Eza yang lagi menyeruput teh mendengar ucapan Mama Clarissa hampir menyemprotkan minumannya beruntung dia berhasil menahannya kalau tidak tatapan tajam dari Papa Devan yang akan ia dapatkan.
"Makanya beri kami waktu liburan lagi, biar bisa membuat cucu untuk kalian," pinta Raisa
"Lain waktu saja, Raisa. Sudah sana pulang, Mama dan Papa mau bersiap-siap. Besok antar kami ke bandara," ucap Clarissa.
"Darren tidak ikut kalian liburan, kan?" tanya Raisa.
__ADS_1
"Tidak, dia masih sekolah." Jawab Clarissa.