Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.39- Mengantar Raisa ke Kantor


__ADS_3

Tepat 2 minggu Raisa kembali ke kantor, ia diantar sang suami bekerja. Biasanya dia akan pergi bersama sang papa namun karena rumah mereka sekarang berbeda.


Eza turun membukakan pintu mobil buat istrinya begitu sampai di halaman gedung Arta Fashion. Seorang wanita cantik datang menghampirinya dan memeluknya. Hal itu membuat dirinya heran dan menatap wajah sang istri berubah kesal.


Wanita itu melepaskan pelukannya, "Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Ku dengar kau telah menikah, kenapa tidak mengundangku?" cecarnya.


Eza tersenyum nyengir. "Aku sudah menikah, itu dia istriku!" mengarahkan pandangannya kepada Raisa.


Wanita itu mengikuti tatapan mata Eza. Ia pun menundukkan sedikit kepalanya, "Maaf, Nona!" tersenyum kikuk.


Raisa memaksakan tersenyum walau hatinya kesal dan ingin marah.


Wanita itu memukul lengan Eza, "Kenapa tidak memberitahuku kalau Nona Raisa istrimu?" ia jadi merasa bersalah.


"Kau tidak bertanya," ucap Eza.


"Ehemm."


Suara berdehem membuat ketiganya menoleh, kemudian menampilkan senyum takut.


"Kenapa masih di sini, Raisa?" tanya Devan.


"Ini mau ke ruangan, Pa." Jawab Raisa.


"Kau?" tatapannya ke arah model baru Arta Fashion. "Kenapa masih di sini, bukankah hari ini pemotretan?" tanyanya.


"Ini mau ke studio, Presdir. Permisi," pamitnya. Ia pun berjalan cepat memasuki gedung.


"Kenapa masih di sini? Sudah cepat masuk!" perintah Devan.


"Iya, Pa." Raisa pun melambaikan tangan ke arah suaminya sambil berjalan ke arah gedung.

__ADS_1


"Aku tidak suka kau memeluk wanita lain selain putriku," ujar Devan.


"Ya, Pa. Tadi tidak disengaja," ungkap Eza.


"Sengaja atau tidak, kau harus jaga wibawa sebagai seorang pria dan suami," nasehat Devan.


"Iya, Pa." Eza menundukkan kepalanya.


Devan pun berjalan ke arah gedung.


"Pa...!" Eza berjalan cepat menghampiri.


"Ada apa?" tanya Devan dingin.


"Mau pamitan berangkat kerja," jawab Eza mengulurkan tangannya.


Devan pun meraih uluran tangan menantunya, dengan cepat Eza menempelkannya di keningnya.


"Ya, sudah sana." Devan kembali berjalan ke ruangannya, disusul pengawal pribadinya sekaligus sopirnya.


-


-


-


Aktivitas Eza di dunia hiburan ia kurangi, dia memilih memodalkan penghasilannya ke bisnis. Usaha yang kini ia rintis di bidang properti.


Sore ini, Eza menjemput istrinya di kantor. Rutinitas ini sebagai pekerjaan barunya juga.


Begitu sampai, istrinya keluar bersama dengan papa mertuanya. Eza menunggu di parkiran dan bersandar mobil.

__ADS_1


Raisa berlari kecil menghampiri suaminya lalu memeluknya. "Aku kangen sama kamu, suamiku!"


"Papa!" ujar Eza.


"Papa pulang duluan, seringlah main ke rumah. Biar rindu mama kamu terobati," Devan mengingatkan anak dan menantunya itu.


"Iya, Pa. Nanti malam kami akan ke sana," ucap Eza.


"Papa akan menunggu kalian," Devan pun berlalu memasuki mobil.


-


-


Menepati janjinya pada mertuanya, Eza dan istrinya datang berkunjung. Membawa sekeranjang kecil buah-buahan dan sekotak kue kesukaan Mama Clarissa.


"Hai, putri Mama. Apa kabar?" Clarissa memeluk Raisa.


"Baik, Ma." Jawabnya tersenyum.


"Ayo, kita makan. Kata Papa kalian mau ke sini jadi Mama sudah siapkan makanan kesukaan kalian," ujar Clarissa.


Devan sudah menunggu ketiganya di meja makan.


"Malam, Pa!" sapa Eza dan juga Raisa.


"Malam juga, silahkan duduk. Kalian sudah melewati waktu makan malam lima menit," ujar Devan.


"Maaf, Pa." Ucap keduanya serempak.


"Sayang, rileks sedikitlah. Mereka berdua anak dan menantu kamu, jadi peraturan di kantor jangan di bawa ke sini," Clarissa berbicara pelan.

__ADS_1


Eza dan Raisa hanya diam tak ikut mengomentari obrolan kedua pasangan paruh baya itu.


__ADS_2