Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.37- Lamaran


__ADS_3

"Bisa tidak kalau berpelukan jangan di depanku?"


Raisa dan Eza menoleh ke asal suara. "Rayi!" ucap keduanya serentak.


"Kalian kalau seperti tadi lihat sekitarnya, kasihan aku yang sendirian ini," Rayi memasang wajah sendu.


"Ya, lain kali kami akan memperhatikan orang-orang." Ujar Eza.


"Raisa, aku minta maaf baru bisa mengunjungimu. Kau tahu 'kan Paman Devan menjaga ketat privasimu," ungkap Rayi.


"Iya, tidak apa." Raisa tersenyum.


-


-


Eza mendatangi kediaman Lita dengan wajah sumringah, begitu sampai ia memeluk sepasang suami istri itu dan kedua buah hati mereka.


"Kau kenapa?" tanya suami Lita heran.


"Aku akan menikah," jawabnya tersenyum.


"Benarkah?" Lita tak percaya. "Tuan Devan sudah tak marah lagi padamu?" tanyanya.


"Tidak, Kak. Dia yang malah menyuruhku membawa keluarga untuk melamar putrinya," jelas Eza.


"Wah, kenapa secepat itu dia berubah pikiran?" tanya Lita lagi.


"Aku juga tidak tahu, aku harus segera menikahi putrinya sebelum dia berubah pikiran lagi."


"Ya, kau benar."


"Nanti kalian ikut, ya!" Eza mengajak suami istri itu untuk melamar kekasihnya.


"Pastinya kami akan ikut, apalagi acara bahagiamu," ujar suami Lita.


...----------------...


Hari lamaran pun tiba keluarga Eza datang ke kediaman Artama. Seperti biasa, calon mertuanya tidak akan bersalaman dengan para tamu. Hal itu juga telah disampaikannya kepada seluruh keluarganya.

__ADS_1


Tepat pukul 10 pagi, acara dimulai. Eza tampak bahagia saat berhadapan dengan calon istrinya.


Hampir sejam acara dilaksanakan, beberapa tamu yang hadir memberikan ucapan selamat.


Acara sakral pernikahan akan dilaksanakan dua bulan lagi karena ada kontrak pekerjaan yang harus diselesaikan Eza, sekaligus menunggu Darren libur sekolah.


Begitu acara selesai, Devan bergegas meninggalkan tempat karena ia tak bisa berlama-lama berada dan dekat dengan banyak orang.


"Semoga lancar sampai hari pernikahan," doa Lita pada pasangan calon pengantin itu.


"Terima kasih, Kak." Raisa dan Eza tersenyum.


Rayi datang seorang diri karena kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri. "Selamat buat kalian, jangan buat Raisa menangis lagi!" ia menatap Eza.


"Aku tidak akan membuatnya menangis lagi," janjinya melirik calon istrinya.


"Kenapa kau datang sendiri? Di mana kekasihmu?" tanya Raisa.


"Aku tidak memiliki kekasih," jawabnya sendu.


"Lalu Thalitha?" tanya Raisa lagi.


"Kau yang sabar, ya!" Eza menepuk pelan bahu pria itu.


"Ya."


......................


Eza bersiap-siap berangkat kerja, begitu membuka pintu Kirani telah berdiri dihadapannya. "Rani?"


"Eza, maafkan aku!"


"Aku sudah memaafkanmu, jadi pergilah!"


"Za, aku tak bisa jauh darimu!" Kirani menunjukkan wajah memohon dan memelas.


"Tapi, sekarang aku bisa jauh darimu!"


"Za, beri aku kesempatan lagi!" mohonnya.

__ADS_1


Eza tersenyum, "Jika aku memberi kesempatan, lalu bagaimana dengan calon istriku?"


"Calon istri? Apa dia itu Raisa?"


"Ya, kami akan segera menikah dalam waktu dekat ini," jawab Eza.


"Za, apa kau yakin dengan keputusanmu itu?"


"Iya, aku sangat yakin memilih dia." Eza pun berlalu meninggalkan Kirani yang terpaku.


-


-


Kabar lamaran Eza dengan Raisa terdengar media, para wartawan menunggu sang artis di depan pintu masuk stasiun televisi swasta di mana dirinya sedang menjalani syuting sebuah talk show.


Sesuai janjinya, ia takkan membongkar jati diri calon istrinya kepada publik.


Begitu Eza keluar dari gedung, para wartawan bergegas menghampirinya.


"Eza, apa benar calon istri adalah putri Clarissa Ayumi?"


"Ya."


"Kenapa tidak menunjukkannya kepada publik?"


"Saya tidak ingin kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik."


"Apa benar anda kesulitan mendapatkan restu dari calon mertua?"


"Kalau kalian menyukai seseorang, pasti tidak mudah menaklukkannya. Akan ada halangan bukan dari dia saja tapi beberapa orang disekitarnya," jawab Eza. "Benarkan?" balik bertanya. Pertanyaannya itu disambut tawa para media.


"Kapan tanggal pernikahan kalian, Eza?"


"Mohon doanya, agar dilancarkan sampai hari pernikahan," jawab Eza kemudian memasuki mobilnya.


"Eza, satu lagi?"


"Terima kasih semua," Eza mengatupkan tangannya dan tersenyum. Mobil pun meninggalkan gedung stasiun televisi.

__ADS_1


__ADS_2