Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Kiriman Hadiah Lagi


__ADS_3

Matahari sudah berada di peraduan, namun Clarissa masih tertidur di ranjang. Ia baru memejamkan matanya pada pukul 3 dini hari. Karena syuting iklan yang memakan waktu hampir tujuh belas jam.


Belum lagi ada Devan di lokasi, hingga membuat proses pengambilan gambar menjadi lambat. Pria itu banyak mengatur adegan seakan dirinya seorang sutradara. Harlan hampir di buat stress olehnya apa lagi seluruh kru dan model.


Bel berbunyi berulang kali dengan langkah gontai sambil mengucek matanya Clarissa membuka pintu. Tina dan Yuna masih tertidur pulas.


"Apa benar anda adalah Nona Clarissa Ayumi?" tanya kurir pria.


"Ya, benar. Ada apa?"


"Ada kiriman paket atas nama Tuan Devan" pria itu menyodorkan lima kotak nasi uduk.


"Hah!"


"Mohon diterima, Nona!" pria itu berharap segera mengambilnya.


"Oh, ya maaf!" Clarissa mengambilnya. "Terima kasih, ya!" ia tersenyum.


"Sama-sama, Nona!" kurir pun berlalu.


Clarissa membawa kotak makanan ke ruang makan dan meletakkannya, ia hendak membangunkan kedua temannya namun bel kembali berbunyi. Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Pagi, Nona!" sapa kurir pria lagi.


"Ya, pagi."


"Paket kiriman dari Tuan Devan," kurir menyodorkan sekotak kue.


"Terima kasih," Clarissa tersenyum. Kurir pergi lalu ke dapur.


Bel kembali berbunyi Clarissa membuka pintu, seorang kurir sudah berdiri di depan pintu membawa satu keranjang sedang berisi apel dan jeruk.

__ADS_1


Baru saja menutup pintu, suara bel terdengar lagi. Clarissa melihat tamu yang datang lagi-lagi kurir juga yang membawa sebuket bunga mawar.


Clarissa menutup pintu kembali. "Tumben kali ini bunganya seperti ini," gumamnya. Ia meletakkan ke dalam kamar.


Baru hendak membuka kotak makanan, suara bel terdengar kembali. Clarissa hendak berdiri namun Tina yang sudah bangun menawarkan diri. "Biar aku saja!"


Tina berjalan ke pintu tak lama kemudian ia menghampiri Clarissa di meja makan. Ia membawa 1 kantong jajanan berupa cokelat dan makanan ringan.


Clarissa memegang kedua pipinya dengan ekspresi sulit diartikan. Ia lalu ke kamar, mengambil ponselnya dan mencari kontak dengan nama Devan dan membuka blokirannya.


"Halo!"


"Halo, Rissa. Apa kiriman paket dariku sudah sampai?"


"Sudah, aku mengucapkan terima kasih. Tapi kau tidak seharusnya mengirimkan sebanyak ini kepadaku."


"Aku senang melakukannya, walau itu tak bisa membuatmu kembali," ucapnya lirih dari kejauhan.


"Itu belum seberapa, Rissa."


Clarissa menghela nafas panjang. "Sekali lagi terima kasih!" ia lalu menutup teleponnya. Ia tak ingin terlalu banyak bicara pada Devan dan memilih mengakhiri obrolannya.


Ia berjalan ke meja makan, Yuna yang baru saja keluar dari kamar heran begitu banyak makanan di meja.


"Kau yang pesan ini semua?" Yuna bertanya pada Clarissa, ia menarik kursi dan bergabung dengan kedua temannya.


"Devan," jawab Clarissa singkat.


"Ya, ampun Presdir sebegitunya mengejar cintamu!" Yuna menyindir.


"Makin bimbang saja ku dibuatnya," Clarissa menyuapkan nasi ke dalam mulut.

__ADS_1


"Kau sebenarnya masih cintakan dengannya?" Yuna menatap Clarissa.


"Akui saja Clarissa, mulutmu bicara tidak tapi hatimu berkata masih," sambung Tina.


"Kalian jangan buat aku seperti ini dong," gerutunya.


"Apa yang membuatmu bimbang? Kau bilang Presdir sudah minta maaf dan ingin memperbaiki semuanya," ungkap Yuna. Karena kemarin Clarissa mengatakan hal yang dibicarakan dirinya dan Devan kepada kedua temannya.


"Oma belum merestui hubungan kami, aku masih merasa bersalah dengan kejadian yang lalu," Clarissa menghentikan makannya dan menutup wajahnya.


Yuna dan Tina menghela nafas.


Clarissa mendongakkan kepalanya, "Jika dia memang mencintaiku, aku ingin melihat perjuangan dia mengejarku."


"Beri saja tantangan untuknya," usul Tina.


Clarissa menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Yuna menaikkan kedua alisnya.


"Kalau terjadi sesuatu padanya, bagaimana? Oma akan marah padaku jika membuat cucunya celaka," jelas Clarissa.


"Sulit sekali, ya!" Yuna mengunyah nasi uduk pemberian Devan. "Eh tapi ini nasi enak sekali, pintar sekali Presdir cari makanan yang lezat," pujinya.


"Paling juga sekretarisnya yang memilihkannya," celetuk Tina.


"Ya, betul. Devan itu tak mengerti tentang hal ini," sahut Clarissa.


"Bisa jadi tanaman yang di kirimkan tempo hari adalah ide dari Hilman," tebak Yuna.


"Bisa jadi!" sahut Tina.

__ADS_1


__ADS_2