
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀MHKOT2🥀...
Keesokan Harinya
Sepulang dari kampus, Kenzie mengantar sang ibu menemui Lala. Demi black kard, Kenzie mau menunggu Alina berbincang dengan Lala selama berjam jam. Terlebih dia tidak bertemu Alveno karena saat itu Alveno tengah belajar.
"Kita ke rumah sakit Mom??" Tanya Kenzie.
"Iya... Kita singgah ke toko buah, Rasya sangat suka buah pear." Jawab Alina sembari duduk dijok mobil bersampingan dengan putranya.
"Sayang, akhir akhir ini mommy lihat kamu cemberut... Kenapa?? Ada masalah sama Kila??" Tanya Alina.
"Nggak kok mom... Cuman masalah kecil kok." Jawab Kenzie.
"Tidak perlu berbohong... Mommy bisa merasakan ada yang Enzi sembunyikan." Ucap Alina. Yang mana membuat Kenzie menghela napas panjang.
"Menurut mommy... Kalo si cewek selingkuh kira kira Enzi harus ngapain?? Putusin dia atau bertahan??" Tanya Kenzie.
"Bertahanlah selagi bisa dimaafkan, putuskan dia jika sudah kelewatan... Toh, anak mommy sangat tampan, masih banyak wanita yang mau dengan kamu... Kamu paham sayang??" Jawab Alina sengaja menghibur putranya.
Mommy bener... Tapi, Kila udah kelewatan banget... Apa gua... Putusin dia?? Batin Kenzie.
"Iya mom... Enzi paham, makasih sarannya." Ucap Kenzie. Alina hanya tersenyum melihat putranya yang perlahan sudah mulai dewasa.
Setelah membeli buah pear, Alina dan Kenzie pun menuju ke Rumah sakit. Tempat dimana Rasya dirawat. Sesampainya di ruangan Rasya, Alina tersenyum melihat Rasya tengah membaca buku. Alina mengetuk pintu membuat fokus Rasya teralih.
"Halo sayang, tante bawa buah pear kesukaan kamu... Biar tante kupasin dulu." Ucap Alina sembari duduk disamping Rasya.
"Nggak usah tante... Biar Rasya—"
"Nggak apa apa sayang... Kamu duduk diam gih, biar tante kupasin dulu." Ucap Alina. Rasya pun mengalah dan meletakan bukunya diatas nakas. Dia menunduk saat Kenzie menatapnya.
"Ini biar tante suapin... Ayo buka mulutmu." Ucap Alina. Dengan penuh kasih sayang, Alina menyuapi Rasya dengan buah pear yang sudah dia kupas.
"Enzi nunggu di lu—"
"Black kard." Ancam Alina membuat Kenzie menghela napas panjang dan kembali duduk disofa.
"Ah, cairan infusmu hampir habis... Tante panggil suster buat ganti ya." Ucap Alina yang memang sengaja memberikan waktu bicara untuk Kenzie dan Rasya.
"Tapi masih—" Belum Kenzie menyelsaikan ucapannya, Alina lebih dulu pergi. Yang mana membuat Rasya meremas selimutnya saat Kenzie menatapnya.
"Sorry, buat kemarin." Ucap Kenzie tanpa menatapnya. Rasya hanya menganggukan kepalanya pelan. Kenzie menghela napas dan bangkit dari duduknya. Dia pun berjalan mendekat ke arah Rasya.
"Lo benci gak sama gua??" Tanya Kenzie. Rasya menggelengkan kepalanya kuat. Dia memundurkan tubuhnya sampai mentok ke kepala ranjang.
"Lo dendam gak sama gua??" Tanya Kenzie mendekatkan wajahnya. Lagi lagi Rasya menggelengkan kepalanya kuat. Jarak mereka kini hanya 30cm.
"Lo marah gak sama gua??" Tanya Kenzie. Kini jarak antara wajah Kenzie dan Rasya hanya sekitar 2cm. Bahkan lebih dekat hingga kedua hidung mereka beradu. Rasya menggelengkan kepalanya kuat. Tangan Kenzie terangkat dan menarik tengkuk Rasya.
Cup.
Di Kediaman Faresta
Revan merasa kesal karena sang ibu dan ayahnya yang tengah bermesraan didepannya. Mereka bahkan tidak menganggap Revan ada yang mana membuat Revan menangis batin.
"Loh sayang, kamu kapan disini??" Tanya Mita sembari mendorong suaminya menjauh.
"Dah lama... Mama aja yang sibuk sama Papa." Jawab Revan sembari menekuk wajahnya. Raefal tersenyum dan memeluk istrinya dari belakang.
"Mas—"
"Makanya kamu cepet cepet nikah... Kasih papa sama mama cucu, ntar kamu bisa mesra mesraan sama istri kamu." Ucap Raefal.
"Papa bahasnya itu mulu... Di kira gampang apa?! Kenapa gak suruh Messy aja yang nikah duluan." Ucap Revan sembari menyebut nama adiknya itu.
__ADS_1
"Hih kakak apaan sih?!! Messy kan masih kecil." Kesal Messy. Revan dan Messy hanya selisih 3 tahun. Messy Faresta Putri, gadis manis berusia 17 tahun. Dia cerewet, keras kepala seperti ibunya dulu.
"Kecil apaan?!! Udah segede gini masih bilang kecil." Ucap Revan sembari menjitak adiknya.
"Mama kakak kasar!" Ucap Messy.
"Revan..."
"Tau ah, mending nongkrong sama temen." Ucap Revan.
"Ikut kak—"
"Disini aja, ntar kamu kenapa kenapa bikin repot." Ucap Revan kemudian meninggalkan adiknya itu.
"Mama, kakak gak sayang ya sama Messy??" Ucap Messy. Mendengar pertanyaan itu membuat Mita tersenyum dan mencubit pipi Messy.
"Dia sayang loh sama kamu... Banget malah, Revan cuman nggak mau kamu kenapa kenapa... Katanya ada les lukis, siap siap gih ntar biar Papa yang anter." Ucap Mita. Messy tersenyum dan mencium pipi kanan Mita.
"Sayang Mama." Ucap Messy.
"Papa nggak??" Tanya Raefal.
"Nggak, papa sama kakak sama aja." Jawab Messy kemudian pergi bersiap siap.
"Cerewet banget sih... Kayak kamu dulu." Ucap Raefal sembari menciumi curuk leher Mita.
"Mas ih! Ntar diliatin orang." Ucap Mita sembari memiringkan wajahnya geli.
"Kalo gitu kita di kamar aja gimana??" Goda Raefal.
"Nggak! Kamu harus nganter Messy buat les... Awas, aku mau mandi." Ucap Mita.
"Ya udah sini aku mandiin." Goda Raefal. Dia terkekeh saat Mita buru buru pergi.
"Nikah, Nikah, dan Nikah... Mentang mentang mama sama Papa nikah muda gua harus sama gitu?? Dapet cewek aja belum mau nikah sama siapa?!!" Kesal Revan sembari menyetir. Dia menghentikan mobilnya saat mendapatkan telefon dari Daffin.
📞
“Mau ke tongkrongan, lah lo sendiri??” Tanya Revan.
“Rumah Grandma, jemput gua dong sekalian lo kasih tau Veno... Kita ke rumah sakit sekarang.”
“Emang ada yang sakit??” Tanya Revan bingung.
“Rasya, Enzi yang minta kita buat nyusul kesana.”
“Okelah otw.” Jawab Revan kemudian mematikan telefonnya.
Tut.
Hemmm, gua mencium bau bau kebucinan... Keknya ntar si Enzi emang bucin deh sama Rasya. Batin Revan. Dia tersenyum dan menjalankan kembali mobilnya.
Di Kediaman Caesar
Liasya tengah membantu Lala yang tengah memilihkan jas untuk Alveno. Karena sebentar lagi, Alveno akan diumumkan sebagai ahli waris keluarga Caesar mengingat Alveno sudah berumur 21 tahun dan sudah ahli mengurus perusahaan ayahnya.
"Bund, Veno pergi dulu ya." Ucap Alveno.
"Loh sayang... Terus jasnya gimana??" Tanya Lala. Alveno menatap Liasya yang tengah duduk disofa sembari melihat lihat gambar jas untuk Alveno.
"Lili yang milih, Veno pergi dulu... (Mencium pipi kanan Lala.) Assalamualaikum." Pamit Alveno kemudian pergi.
"Walaikumsalam, tumben Veno mau dipilihin... Biasanya kan sesuai kemauan sendiri... Atau... Wah ini sangat fantastis, apa Veno ku sudah menjadi pria normal??" Lirih Lala.
"Ibu kenapa?? Ibu baik baik aja??" Tanya Liasya.
"Ah ibu nggak apa apa... Oh iya, Veno tadi minta kamu buat milihin jas." Jawab Lala.
"Lili yang milih?? Tapi—"
"Tante Lala!!" Panggil Dona begitu datang. Dia berhamburan memeluk Lala karena bagaimana pun, Lala sudah seperti keluarga.
__ADS_1
"Ini.... Kamu Dona?? Ya ampun udah cantik yah sekarang, Veno baru saja pergi—"
"Aku kesini cuman mau ketemu tante kok... Seneng liat tante baik baik aja... (Menatap Liasya.) Dia siapa tan??" Tanya Dona.
"Lili, Lili ini Dona... Teman masa kecil Veno." Jawab Lala memperkenalkan.
"Halo salam kenal." Ucap Dona.
"Kembali kak." Jawab Liasya. Dona pun duduk disamping Liasya.
"Ini buat apa tante??" Tanya Dona.
"Oh itu, bentar lagi Veno ambil alih perusahaan.... Jadi, tante panggil designer buat bikin jas yang akan dikenakan Veno saat pesta nantinya." Jawab Lala. Dona pun merebut buku model berbagai jenis jas. Padahal saat itu, Liasya tengah melihatnya.
"Tante gimana yang ini?? Veno kan nggak terlalu suka warna yang mencolok." Ucap Dona sembari menujuk salah satu gambar.
"Tapi Veno—"
"Percaya deh sama Dona." Ucap Dona meyakinkan Lala. Lala tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju.
"Baiklah, karena kamu sahabatnya tante percaya sama kamu... Lili, kamu sudah memilih gaunnya?" Tanya Lala.
"Lili juga bu??" Tanya Liasya.
Bu?? Gua yang udah lama disini aja masih manggil tante, dan cewek ini manggil tante Lala ibu?? Mau sok akrab?? Batin Dona.
"Iya, pilihlah sesukamu... Kamu mau memilih gaun juga Dona??" Tanya Lala.
"Nggak deh tante." Jawab Dona sembari tersenyum.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Lala tidak ingin memaksa.
"Assalamualaikum." Ucap Alzero yang baru kembali dari kantor.
"Walaikumsalam, mas kok kamu udah pulang—" Ucap Lala terjeda saat Alzero memeluknya dari belakang.
"Tiba tiba kangen sama kamu." Jawab Alzero membuat Lala merona malu.
"Ekhem! Om hargai kitalah." Ucap Dona. Lala pun melepaskan pelukan suaminya.
"Dona, kapan kamu kemari??" Tanya Alzero.
"Baru beberapa menit om." Jawab Dona dan Alzero menganggukan kepalanya pelan. Dia kini beralih menatap Liasya yang fokus memilih gaunnya. Alzero mendekat dan menghusap puncak kepala Liasya.
"Pilihlah sesukamu oke?? Jangan sungkan." Ucap Alzero.
"Baik ayah." Jawab Liasya.
"Sayang siapkan air... Kamu belum mandi, bagaimana kalau kita mandi bersama??" Ucap Alzero berbisik diakhir kalimat.
"Mas ih! Kalian berbincang dulu, aku tinggal ya." Ucap Lala sembari mengajak suaminya pergi.
"Oke tante." Jawab Dona.
"Pelayan bisa biarkan aku berdua dengan Lili??" Ucap Dona. Para pelayan pun menganggukan kepalanya dan pergi.
"Pilihlah gaun sesukamu, tapi jangan bewarna biru donker." Ucap Dona. Yang mana membuat Liasya menatapnya. Dia bisa melihat ketidaksukaan dari mata Dona. Tak ingin memperpanjang masalah, Liasya menganggukan kepalanya pelan.
"Baguslah, rupanya kamu sadar diri." Ucap Dona menatap Liasya sinis.
Kenapa kak Dona berkata begitu?? Batin Liasya.
(Liasyafana😘👆🏻)
Vs
(Dona Lavender😘👆🏻)
__ADS_1