
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
"Ibu??" Lirih Nia. Iya, orang itu tak lain Maria ibunya. Tampak Saras dan Maria mendekat ke arah putra putrinya.
"Ibu kamu udah lama sembuh nak, tapi saya memintanya untuk merahasiakan hal ini darimu karena Gavin ingin kamu lebih lama disini sampai akhirnya mengungkapkan perasaannya." Jelas Saras. Nia menatap ibunya dan Maria menganggukan kepalanya pelan. Nia kembali menatap Gavin yang masih setia berlutut.
"Yes, I'm will." Jawab Nia sontak membuat Gavin memeluk nya erat dan para hadirin menepuk tangannya. Gavin menyematkan cincinnya pada jari manis Nia.
"Rio sekarang!" Ucap Alzero. Tampak Rio menganggukan kepalanya dan menelefon seseorang.
Gavin menarik Nia agar lebih dekat dan perlahan mendekatkan wajahnya. Nia memejamkan matanya dan tak terasa bibir Gavin sudah menyatu dengan bibirnya. Tiba tiba sebuah helicopter melintas diatasnya sembari menaburkan bunga mawar membuat suasana semakin romantis. Maria meneteskan air mata kebahagiannya begitu juga dengan Saras.
Saat itu Mita melihat Raefal sendirian. Dia pun berinisiatif menemuinya. Dia menepuk bahu Raefal membuat Raefal terkejut dan menatap Mita.
"Ciky, disini rupanya." Ucap Mita.
Sorry Mit. Batin Raefal. Saat itu tampak Aurel mendekat.
"Kalian berdua sangat romantis tadi... Apa kalian berpacaran Ciky??" Tanya Mita antusias.
"Sayang dia siapa??" Tanya Aurel manja. Raefal menghela napasnya panjang.
"Anak pembantu gua." Jawab Raefal tentu membuat Mita terkejut.
"Ciky, apa maksudmu?!! Ciky aku Mita... Caca sahabat masa kecilmu—"
"Minggir!! Gua gak pernah punya sahabat miskin kayak lo." Ucap Raefal sembari menghempaskan Mita. Tampak Aurel tersenyum kemenangan.
"Jangan pernah temuin gua lagi... Dan iya, gua bukan Ciky... Tapi tuan muda Faresta, paham lo!" Ucap Raefal membuat mata Mita berkaca kaca.
"Heh, harusnya tuh lo sadar diri sama majikan! Dasar murahan!—"
"Saya bukan murahan!! (Mita menatap Raefal.) Ternyata seperti ini yah kamu mengakhiri persahabatan kita Ciky.... Maaf... Maksudku, Tuan Muda Faresta." Ucap Mita membuat Raefal mengepalkan tangannya erat.
"Jika memang itu keinginanmu... Maka mulai detik ini, kita hanya orang asing." Timpal Mita kemudian pergi dengan meneteskan air matanya. Hatinya sakit saat sahabat sekaligus pria yang dia cintai menghina dan memutuskan tali persahabatan mereka.
"Udah puas kan lo??!!" Ucap Raefal penuh penekanan.
__ADS_1
"Banget sayang... Gua ke kamar mandi dulu ya... Mau cuci muka." Pamit Aurel dan tidak direspon oleh Raefal. Dia menatap Mita yang sudah menjauh.
"Caca." Lirih Raefal. Sedangkan Mita menangis dan memesan taxi online. Lama menunggu akhirnya taxi yang dia pesan datang.
"Jalan cempaka 6." Ucap Mita sembari menghusap air matanya.
"Non baik baik aja??" Tanya si supir taxi.
"Iya pak." Jawab Mita. Mita pun kembali ke rumahnya bahkan tidak sempat berpamitan pada teman temannya.
Di kamar mandi. Tampak Alina baru keluar dari sana. Saat dia hendak pergi, Aurel menceghatnya.
"Istrinya Ken kan??" Tanya Aurel.
"Iya... Kamu kekasih Raefal bukan??" Jawab Alina dan kembali bertanya.
"Iya.. Selamat yah buat kehamilan lo... Eh gua minta nomor lo dong, buat tambah tambah temen." Ucap Aurel.
"Tentu saja." Jawab Alina dan menyebutkan nomornya.
"Good, oh iya kebetulan lo disini... Gua mau ngomong sesuatu." Ucap Aurel.
"Ngomong apa??" Tanya Alina. Tampak Aurel mendekat dan berbisik.
"Coba lo tanya Ken, alasan dia setuju buat nikah sama lo dan perhatian ke lo sejak lo hamil." Ucap Aurel membuat Alina menegang. Dia masih terdiam di tempatnya.
"Oh iya, maklum gua kenal Ken karena Ken... Ngejar ngejar gua sampe sekarang." Ucap Aurel kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Jangan stress Alina, pikirkan bayi yang ada di kandunganmu. Batin Alina. Dia pun kembali bergabung dengan Lala Kenzo dan Alzero.
"Kok lama sayang??" Tanya Kenzo.
"Tadi aku membenarkan resleting." Jawab Alina dan Kenzo meresponnya dengan anggukan kepala.
"Arina mana sih?!! Kan besok sekolah, ntar telat." Lirih Ravin sembari mencari sosok Arina.
Sesekali dia menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata waktu menujukan pukul 11 malam lewat. Hingga dia menemukan sosok yang dia cari tengah berbincang dengan Ashel. Entah mengapa membuat dada Ravin bergemuruh.
"Arina!" Ucap Ravin membuat Arina menoleh.
"Om, ada apa om cari Arina??" Tanya Arina. Tampak Ravin menarik tangan Arina agar pergi dengannya.
"Om... Om... Ashel aku pergi dulu ya." Pamit Arina saat dia ditarik oleh Ravin.
"Sepertinya kak Ravin menyukai Arina." Lirih Ashel.
Tampak Ravin membawa Arina ke kamar Arina.
"Om lepasin! Om kenapa sih, tangan aku sakit." Ucap Arina sembari memegangi pergelangan tangannya. Tampak Ravin menatapnya tajam.
"Jam berapa sekarang?!! Bukannya kamu besok piket?? Kenapa belum tidur??" Omel Ravin.
__ADS_1
"Ish, Om kan cuman piket." Kesal Arina.
"Tapi itu tanggung jawab kamu... Udah tidur." Ucap Ravin hendak menutup pintu.
"Om... Aku mau minta nomor telefon Ashel dulu." Ucap Arina.
"Enggak!" Tegas Ravin.
"Om kenapa sih?!! Kayak anak kecil tau gak?!!" Kesal Arina.
Brak!!!
Ravin memojokan Arina ke tembok. Membuat Arina meremas gaunnya erat. Tampak Ravin menyamakan tinggi Arina dan kini mereka berhadapan satu sama lain. Dan Arina kagum dengan ketampanan Ravin dari dekat.
"Yang kamu sebut anak kecil siapa?? Hmm??" Tanya Ravin. Tampak Arina memejamkan matanya merasa geli saat hembusan napas Ravin menerpa lehernya.
"Om lah!! Siapa lagi coba." Jawab Arina. Ravin mendekatkan wajahnya membuat Arina memejamkan matanya.
Gak apa apa ciuman pertamaku buat om Ravin... Dia ganteng jadi gak nyesel. Batin Arina.
Pletak!!
Ravin menyentil kening Arina membuat Arina membuka matanya. Dia memegangi keningnya yang terasa sedikit sakit.
"Ngapain tutup mata?? Dikira om apa apain kamu?? Udah sana tidur, ganti baju gosok gigi habis itu tidur." Ucap Ravin.
"Gendong koala om." Ucap Arina mengulurkan tangannya.
"Kamu udah gede Arina... Gak usah manja." Ucap Ravin.
"Ya udah aku gak mau tidur." Ucap Arina sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Iya ya... Tapi tidur ya." Ucap Ravin. Dengan semangat Arina melompat ke pelukan Ravin. Beginilah Arina yang manja pada Ravin sejak kecil. Ravin menurunkan Arina di depan walk in closet.
"Sayang om." Ucap Arina kemudian masuk kedalam walk in closet guna mengganti pakaiannya.
Sayang?? Batin Ravin. Ravin menyinggung senyuman sekilas dan pergi dari kamar Arina.
Pukul 12 malam pesta berakhir. Kini para hadirin pun pamit undur diri. Begitu juga dengan Kenzo yang menggendong Alina. Alina tertidur saat Kenzo meninggalkannya bertemu sahabat sekaligus rekan bisnis Dicko.
Sesampainya di Vila
Kenzo menidurkan Alina diatas ranjang masih mengenakan gaun. Kenzo tersenyum dan mengganti gaun Alina dengan piyama tidur. Tentu kedua tangannya tidak diam. Setelah mengganti pakaian sang istri, kini dia mengganti pakaiannya. Setelahnya, Kenzo tidur disamping istrinya dan memeluknya erat.
"Good night my wife." Bisik Kenzo kemudian mencium kening Alina. Keduanya pun terlelap dalam tidurnya.
Di Rumah Mita
Mita tak henti menangis. Baginya Raefal mengabaikannya saja sudah cukup. Tapi, didepan orang lain. Raefal mengatakan jika Mita anak dari pembantu dan bahkan tidak mengakuinya sebagai sahabatnya. Dan itu sangat menyakitkan bagi Mita.
Aku benci kamu Ciky!! Aku benci!! Umpat Mita sembari memukuli bantal.
__ADS_1