
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
🥀MHKOT🥀
Owaaaa!!!!!
Kenzie menangis keras membuat Kenzo terbangun dari tidurnya. Dia pun mengguncang tubuh istrinya yang masih terlelap.
"Sayang, Enzi nangis." Ucap Kenzo.
"Hmm?? Digendong bawa kesini mas, aku masih lemes." Jawab Alina. Dan Kenzo pun bangkit dari tidurnya. Dengan sangat hati hati dia menghampiri putra kecilnya.
"Kayaknya kamu gak laper ya nak?? Atau mau main sama daddy?? Hmm??" Ucap Kenzo. Bayi mungil itu hanya menggeliat dengan tangannya bergerak pelan. Kenzo tersenyum melihatnya, dia menatap istrinya yang terlihat sangat lelah dan lemas akibat melahirkan.
Pada akhirnya, Kenzo menarik kursi dan duduk disamping box bayinya. Dia menatap putranya yang berhenti menangis begitu dia hampiri.
"Sayang, buka matamu dan lihat betapa indahnya pemandangan sore hari... Kelak kita akan bermain sepeda dan bola bersama... Bagaimana?? Kau setuju bayi tampan??" Ucap Kenzo. Kenzie hanya mengerang seolah ingin bicara.
"Kamu masih belum bisa bicara sayang, suaramu menggemaskan." Ucap Kenzo sembari berkali kali mencium pipi Kenzie. Saat itu tampak Jihan datang.
"Jihan??" Lirih Kenzo.
"Maaf tuan, ini penutup kepala yang Oma buat untuk tuan muda." Ucap Jihan. Dan benar saja penutup kepala dari bahan rajut yang sangat pas untuk Kenzie.
"Taruh disana, setelahnya kau bisa pergi." Ucap Kenzo.
"Baik tuan." Jawab Jihan meletakan penutup kepala tersebut kemudian pergi.
"Oma memang berlebihan." Lirih Kenzo. Dia mengulurkan jari telunjuknya dan diraih oleh tangan mungil Kenzie. Dimana membuat Kenzo gemas dan ingin sekali mencubit pipi Kenzie. Diam diam Alina menatap kedekatan suami dan anaknya sembari tersenyum.
Di Kediaman Caesar
Suasana makan malam yang sangat canggung. Bukan tanpa alasan, Alzero kesal pada sang ibu yang tiba tiba memanggil Lala hanya untuk memilihkan warna gaun yang cocok. Dan tentu saja mengganggunya yang ingin bermesraan dengan sang istri.
"Hehe, sayang... Bunda minta maaf, bunda nggak tau kalau kamu lagi—" Ucap Zaina menjeda kemudian tertawa kecil. Alzero yang masih kesal itu hanya diam dan melanjutkan kegiatan makannya.
"Bunda sepertinya kakak marah." Bisik Ashel.
"Dia memang marah, sangat menyeramkan bukan??" Jawab Zaina berbisik.
"Bund, apa perlu aku me—"
"Tidak perlu, apa gunanya pembantu disini." Ucap Alzero memotong. Kening Lala berkerut melihat suaminya yang marah tiba tiba.
"Sayang, maafin bunda ya... Bunda nggak tau kalau kalian lagi bikin cucu buat bunda." Bisik Zaina pada Lala membuat Lala merona.
__ADS_1
"Sayang berhenti mengganggu menantu kita... Lihat sepertinya singa bangun dari tidurnya." Ucap Araka sembari melirik Alzero.
"Aku sudah kenyang." Ucap Alzero kemudian kembali ke kamarnya.
"Mas—"
"Sayang, sekarang sudah malam... Tidurlah, atau kamu mau melanjutkan membuat cucu??" Goda Zaina.
"Bukan begitu bund." Ucap Lala kemudian menyusul Alzero.
"Wah, mas... Mereka berdua mengingatkanku saat kita pertama menikah." Ucap Zaina. Dia berbalik menatap Ashel.
"Jadi sayang?? Kapan kamu menikah dengan Celani??"
Uhuk!!! Uhuk!!!
"Bunda aku masih sekolah." Ucap Ashel.
"Dulu bunda menikah saat sekolah, kau tau nak?? Dulu ayahmu sama seperti kakakmu... Menyebalkan dan sok jual mahal." Jawab Zaina.
"Hey sayang, kamu membicarakan aku??" Ucap Araka penuh selidik. Membuat Zaina membeku.
"Ah, aku ada tugas... Bay bunda, ayah." Ucap Ashel dan buru buru pergi. Zaina menatap suaminya dan dilihatnya Araka menatap Zaina jahil. Zaina pun pergi ke kamarnya disusul oleh Araka.
"Mas." Panggil Lala setelah menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lala menggelengkan kepalanya pelan melihat Alzero yang tidur membelakanginya. Lala pun duduk disamping Alzero dan menghusap punggungnya.
"Cium aku baru aku tidak marah." Jawab Alzero.
"Sekarang udah malam... Terserah kamu ajalah mas, aku mau tidur." Ucap Lala sembari hendak merebahkan tubuhnya. Namun dia terkejut saat Alzero mengungkung tubuhnya.
"Mas!" Pekik Lala terkejut.
"Kita lanjutkan kegiatan tadi saja, bagaimana??" Goda Alzero. Dan belum Lala menjawabnya, Alzero lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. Tangannya tidak tinggal diam. Perlahan dia melepaskan kancing piyama Lala satu per satu.
Trrriiiiiinnnngggg!!!!
Ponsel milik Alzero berbunyi yang mana membuat Lala bisa beralasan. Namun, tampaknya Alzero tak bergeming.
"Mas... (Menahan dada Alzero.) Angkat telefon dulu, siapa tau penting." Ucap Lala.
"Tidak—"
"Mas..." Ucap Lala tampak memohon. Alzero menghela napas panjang dan mengangkat telefonnya.
📞
“Hallo??”
“..........”
__ADS_1
“Bagaimana bisa??”
“.........”
“Aku mengerti, arahkan beberapa anak buah untuk memperketat keamanan Vila.”
“.........”
Tut.
Panggilan berakhir. Alzero menggenggam ponselnya erat. Kemudian dia beralih pada Lala yang menatapnya penasaran. Alzero meletakan kembali ponselnya dan menghampiri Lala.
"Siapa mas?? Rio?? Atau Kenzo?? Sepertinya membahas yang—"
"Hanya masalah pekerjaan, ayo tidur." Ucap Alzero kemudian memeluk erat tubuh istrinya. Lala tersenyum dan menghusap dada Alzero dengan tangan lentiknya.
"Jangan menggoda ku sayang, mau dilanjutkan??—"
"Tidak, tidak aku akan tidur." Ucap Lala seketika menutup matanya. Hal itu membuat Alzero gemas dan mencium kening istrinya.
Keesokan Harinya
Seusai sarapan, Raefal dan kedua orang tuanya berkemas untuk bersiap ke Bandung. Jaraknya agak jauh jadi mereka berangkat pagi agar sampai disana pada siang hari.
"Sayang kamu udah siap?? Kita berangkat sekarang." Ucap Zira.
"Udah ma, ayo berangkat." Jawab Raefal sembari memakai arlojinya.
"Wah, biasanya kamu paling malas bertemu Caca... Sekarang kamu sangat bersemangat." Ucap Leon.
"Masa gak peka sih mas, udah pasti Raefal jatuh cinta ke Caca." Goda Zira membuat Raefal jengah dan langsung masuk kedalam mobil. Hal itu hanya membuat Zira dan Leon terkekeh.
Di Rumah Mita
Mita tengah membantu ibunya beres beres setelah sarapan. Dia masih belum tau jika Raefal dan keluarganya akan datang. Karena memang Dewi sengaja tidak memberitau soal itu padanya.
"Bu, Caca ke kamar dulu ya... Mau mandi." Ucap Mita.
"Iya sayang." Jawab Dewi. Mita pun menuju ke kamarnya guna membersihkan diri. Setelahnya, Mita kembali membantu Dewi yang membereskan 2 kamar.
"Tumben kamar diberesin, ada yang dateng ya bu??" Tanya Mita sembari memasang sprai.
"Iya sayang, Ciky sama orang tuanya bakalan nginep disini." Jawab Dewi membuat Mita menghentikan kegiatannya.
"Ngapain mereka nginep disini??" Tanya Mita.
"Ayah kamu yang minta, ibu setuju aja... Toh kamu sama Ciky kan sahabat sejak kecil." Jawab Dewi.
Itu dulu bu, sekarang kita hanya orang asing. Batin Mita.
__ADS_1